RSS

USTAD LECEHKAN HINDU BALI

15 Aug
Menggugat Kesaksian
Ustadz ‘’Ida Bagus’’ Abdul Aziz
Oleh: I. K. Sugiartha
Apakah sama agama dan tradisi? Secara umum dapatdijelaskan, bahwa Agama adalah pengikat jiwa yangmenuntun jalan mencapai Tuhan. Sementara tradisiadalah kebiasaan-kebiasaan di dalam melaksanakanajaran agama. Namun seorang Ustadz Abdul Aziz, yang
mengaku mantan Hindu, mengidentikan tradisi denganagama Hindu. Padahal Pak Ustadz ini, katanya, sudahmenyandang gelar sarjana agama (SAg) Hindu dansudah belajar Hindu selama 25 tahun, serta menguasaiYoga Samadi. Bukan main. Tetapi, kenapa diameninggalkan Hindu. Benarkah Mantram Tryambakamkalah dengan suara Takbir?
Kesaksian Menjadi MuslimInilah rangkuman kesaksian Ustadz Abdul Aziz yangdisampaikan di dalam sebuah pengajian yang bertajuk  “Kesaksian Hidayah Mantan Pemeluk Hindu” diSurakarta, Jawa Tengah, pada Rabu, 21 Juli 2010,rekamannya beredar di tengah-tengah masyarakat,penulis sampaikan dengan gaya bertutur seperti berikutini.
Sebelum saya masuk Islam, agama saya adalah Hindu.Pendidikan saya Sarjana Agama Hindu. Sayamempelajari Hindu sudah dua puluh lima tahun. Orangmungkin tidak akan percaya kalau saya bisa sampaimasuk Islam. Saya berkasta brahmana. Nama depansaya ”Ida Bagus” (dia tidak menyebutkan namaHindunya). Saya menguasai yoga samadi.Saya melakukan praktek yoga samadi di Pura MandaraGiri Lumajang bersama beberapa orang teman saya.
Pada suatu hari saya disarankan untuk membacaMantram Tryambakam. Saya pun terus aktif membacaMantram Tryambakam, pagi, sore dan malam. Pada hariketiga yang melakukan yoga samadi, saya diuji Tuhan,ribuan nyamuk datang dan mengerubuti saya. Sayakemudian bacakan Mantram Tryambakam, nyamuk ituhilang. Pada hari kelima saya melakukan yoga semadi,saya lagi diuji Tuhan, aroma bau busuk menebar daritubuh saya. Saya kemudian membacakan Tryambakam,bau busuk di tubuh saya pun hilang.
Pada hari ketujuh saya melakukan yoga samadi, tiba-tiba hati saya berdebar-debar. Saya terus membacaTryambakam, tetapi guncangan hati saya tidak berhenti.Dalam situasi berdebar-debar, tiba-tiba saya mendengar  suara takbir  ”Allahuakbar… Allahuakbar”.  Padahal
malam itu bukan malam idul fitri, lantas dari mana suaratakbir itu datang. Saya coba lawan dengan MantramTriyambakam, namun suara takbir itu tidak hilang,malah suaranya semakin jelas dan kuat. Dari situ sayakemudian berpikir bahwa ini adalah hidayah bagi saya.
Saya kemudian masuk Islam pada tahun 1995, dan naikhaji pada tahun 1996. Sepulang saya dari haji, keduaorang tua saya dan lima saudara saya semua ikutdengan saya masuk agama islam.
Panca Yajna: Upacara Selamatan?Tidak ada maksud sedikitpun dari penulis untukmencampuri urusan privacy seorang Ustazd Abdul Aziz,lebih-lebih mengenai pilihan jalan (agama) penuntunhidupnya. Cuma saja, yang mengundang perhatiansaya, karena di dalam ceramahnya yang berdurasisekitar satu setengah jam (dua CD) tersebut, Pak Ustadz
telah menjadikan ajaran ”Agama” Hindu sebagai bahanbanyolan, di antaranya seperti kalimat-kalimat yangdicetak miring berikut ini:
Pertama
Panca Yajna adalah lima upacara selamatandi dalam agama Hindu, masing-masing:
1. 1. Dewa yajna yakni selamatan kepada Ida SangHyang Widi Wasa.
2. 2. Rsi yajnya adalah selamatan kepada orang-orangyang dianggap suci.
3. 3. Pitra yajna adalah selamatan kepada roh leluhur.
4. 4. Manusa yajna adalah selamatan kepadamanusia.
5. 5. Butha yajna adalah selamatan kepada mahlukbawahan.
Melakukan selamatan ini adalah wajib hukumnya didalam Agama Hindu. Contoh selamatan pada harikematian, acaranya berlangsung pada hari pertama,ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan nyewu (hari ke-1000).
”Kalau tidak punya uang untuk melaksanakanselamatan, wajib utang kepada tetangga. (jamaahtertawa).Sebab bila keluarga yang meninggal tidak diselamatin,rohnya akan gentayangan, menjelma menjadi hewan,binatang, bersemayam di keris dan jimat, dll. Makanyapohon-pohon diberi sarung, dan pada setiap hari SukraUmanis jimat dan keris diberi minum kopi. Sedangkanyang melaksanakan selamatan, dapat tiket langsungmasuk surga.Di dalam Islam tidak ada selamatan-selamatan, tetapi yang ada adalah sedekoh. Sedekohpunya kelebihan dari selamatan yakni memberikansedekoh ketika kita punya kelebihan yang biasanyadilakukan pada menjelang bulan puasa. Jadi bukan hasilutang.”
Tanggapan Penulis:
Sejak SD saya belajar agamaHindu, sampai sekarang Panca Yajna itu artinya lima
korban suci. Bahkan di dalam Kitab Bhagawad Gita,yajna berarti bakti, pengabdian, persembahan dankurban (sedekah) yang dilakukan dengan tulus iklas (hatisuci). Bukan berharap untung yang lebih besar kepadaTuhan dari sedekoh yang kecil kepada manusia. Jadi
Panca Yajnya itu adalah berbakti (sujud) kepada Tuhan(Dewa Yajna), bakti kepada orang suci (Rsi Yajna),berbakti kepada leluhur (pitra yajna), melayani(berderma) kepada sesama (manusa yajna) danbersedekah kepada bahluk bawahan (butha yajna).
Tidak ada saya jumpai arti Panca Yajna adalah limaupacara selamatan dan wajib ngutang, seperti kitabyang dibaca Ustadz Abdul Aziz.Istilah selamatan tidak ada di dalam Hindu, apalagiselamatan atas kematian. Adapun rangkaian upacarakematian di dalam Hindu seperti nelun, ngaben,ngeroras (memukur) dll. pada intinya merupakanpenyucian sang jiwa dari unsur badan fisik, mendoakanagar perjalanan sang jiwa tidak mendapatkan halangan,
memperoleh ketenangan dan kedamaian di alam pitra.
(Kitab Asvalayana Griha Sutra). Masalah dia (sangjiwa) mendapat tiket ke sorga atau akan masuk neraka,tergantung dari bekal karmanya. Yang jelas sangat tidakditentukan oleh acara selamatan.Apalagi kalau dikatakan bahwa roh yang tidakdiselamatin akan gentayangan, menjelma jadi hewanatau pohon, itu ada di cerita film kartun. Prosesreinkarnasi berlangsung puluhan bahkan mungkinsampai ratusan tahun. Sementara pohon-pohon diberikan busana (sarung: menurut Ustazd Abdul Aziz),adalah sebagai tanda bahwa pohon-pohon tersebut
dilestarikan dan tidak boleh ditebang sembarangan. Iniwujud bahwa Hindu cinta lingkungan.
Kedua
Di dalam agama Hindu, dalammemberangkatkan mayat ada tradisi trobosan yakni
berjalan menerobos di bawah keranda mayat, sebagaiwujud bhakti kepada orang tua yang meninggal. Danketika mayat ditandu ke kuburan, di sepanjang jalandipayungi. Apakah mayatnya kepanasan? Belum pernahmati kok tahu mayat kepanasan. Di Islamacara-acara semacam itu tidak ada dasar hukumnyabaik di hayat maupun hadist.
Tanggapan Penulis:
Dengan tanpa bermaksudmerendahkan kemampuan sosok Ustadz Abdul Aziz dibidang agama, namun perlu saya sampaikan bahwarangkaian acara satu hari, 3, 7, 40, 100 dan nyewu,menurut hemat saya adalah tradisi di dalam kehidupanberagama dengan berbagai tujuan dan motivasinya.Misalnya ”Tradisi Nyewu di Yogyakarta” yang pernahdimuat di Media Hindu. Tolong dibedakan antara agamadan tradisi.
Ketiga
Apakah Tuhan Hindu minta makan? Lihat ini,Dewa makan bubur hangat. Dewa Brahma masih doyanpisang rebus (Ustadz menunjukkan gambar Brahmadisertai sesajen termasuk tumpeng). Tumpeng bagiHindu dianggap simbol Tri Murti. Barang siapa yang bisamembikin tumpeng, berarti dia sudah masuk Hindu.
Tanggapan Penulis:
Orang bodoh pun tahu bahwaTuhan tidak butuh apapun dari manusia, apalagi pisangrebus. Makanan duniawi cuma dibutuhkan oleh badanfisik, tidak untuk badan rohani. Persembahan berupabebantenan yang dilakukan oleh orang Bali yangberagama Hindu bukan untuk memberi dewa (Tuhan)makan. Akan tetapi, melakukan persembahanmerupakan cara umat Hindu untuk mewujudkan rasabhakti dan ungkapan rasa terimakasih kepada Tuhanatas segala anugerah-Nya. Persembahan tersebutkemudian dimohonkan untuk diberkati untuk selanjutnyadapat kita nikmati. ”Yang baik makan setelah upacarabakti, akan terlepas dari segala dosa, tetapimenyediakan makanan lezat hanya bagi sendiri, merekaini sesungguhnya makan dosa”. (BG. III.13)
Bisa membuat tumpeng berarti masuk Hindu?  Inibombastis. Untuk menjadi Hindu ada proses ritualnya, diantaranya upacara sudi widana dan mengucapkanPanca Sradha. Banyak orang muslim, kristen dan Budhayang pandai membuat tumpeng, apakah itu berartimereka masuk Hindu?Para Wali Menjiplak Weda?Menanggapi pertanyaan seorang jamaah mengenai filmseri kartun ”Little Krsna” di TV, Ustadz Abdul Azizmengatakan, ”Hati-hati, awasi anak-anak kita, itu cara-cara orang di luar muslim untuk melakukan cuci otakterhadap anak-anak kita (muslim)”. Sedangkan setahusaya, cuci otak itu adalah cara teroris untuk merekrut
anggota. Teroris itu siapa? Tidak pernah ada di dalamHindu gerakan cuci otak untuk merekrut orang (agama)lain. Yang ada malah sebaliknya, orang di luar Hinduyang sibuk melakukan gerakan konversi untukmemperoleh tabungan pahala.Benarkah para wali dulu mengubah (menjiplak) doa-doaHindu ke dalam bahasa Alquran?” Atas pertanyaanseorang jamaah lainnya ini, Ustadz Abdul Aziz tidakkuasa menjawab. ”Saya tidak berani menjawab
pertanyan ini, karena saya tidak punya referensi sebagaidasar,” tangkisnya. Apa makna di balik kata tidak beranitersebut? Apa benar dia tidak punya referensi?Seorang ustadz yang mengaku telah belajar wedaselama 25 tahun, tetapi referensi yang disampaikan kokmalah muter-muter soal tradisi melulu; acaraselamatan, terobosan, memayungi mayat, pohon pakai
sarung, keris dan jimat minum kopi, membuat tumpeng.
Padahal harus disadari, yang namanya tradisi tentulahberbeda sesuai dengan desa, kala, patra (tempat, waktudan keadaan), baik di dalam satu agama apalagi bedaagama. Semua agama punya tradisi, termasuk dikalangan umat Islam. Tetapi sepanjang hal itu dilakukan sebagai ungkapan rasa bhakti, rasa hormat dan doa, kenapa tidak diapresiasi. Tidak ada dasarhukumnya (bida’ah)? Sekarang zaman komputerisasi, di mana-mana orang pakai laptop, HP, pesawat terbang, sepeda motor, apakah juga bida’ah menurut Islam?
Selama berceramah, tidak ada sepotong filsafatpun yang terlontar dari mulut sang ustadz. Sementara esensi dari ajaran Hindu ada pada filsafat. Di situ logika dimainkan, bukan sekedar keyakinan semu dengan menelan mentah ayat-ayat.
Mantram Tryambakam adalah syair yang sakral dan memiliki kekuatan (energi) gaib. Kalau sekedar ngusir nyamuk dan menghilangkan bau busuk, ngapain harus melakukan yoga samadi sampai tujuh hari tujuh malam, cukup dengan obat nyamuk Autan saja. Sedangkan di dalam melakukan yoga samadi, pada tahap tertentu, berbagai bentuk godaan bisa saja muncul. Namun hal itu bukanlah petunjuk Tuhan (hidayah), malah bila kita tidak kuat bisa terjerumus.
*Penulis: Sisya Grya Taman Narmada
 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Mualaf

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: