RSS

Profesor Mualaf Jerman Sudah Murtad

15 Aug

PROFESOR MUALAF JERMAN

SEKARANG SUDAH ‘MURTAD

Oleh Dr. Sami Alrabaa

(penulis Kuwait Times)

05 Oct, 2008

Murtad disini maksudnya secara de facto. Sang Profesor hanya menyatakan tidak lagi percaya Muhammad eksis, tapi belum menyatakan diri murtad. Anehnya, bgm ia bisa mengucapkan Surat Fatihah 5x sehari sambil mengucapkan ‘Muhamad rasulullah’ kalau ia tidak percaya bahwa Muhamad eksis?

Surah-surah yang mengandung ajakan melakukan kekerasan, kebencian, dan diskriminasi terhadap wanita dalam Qur’an dan Sunnah harus dilenyapkan atau dipandang sebagai hal yang hanya cocok untuk sejarah masa lampau saja jika Islam dan Muslim ingin diterima dalam masyarakat modern.

Di awal bulan September2008, media Jerman melaporkan pendapat dari Profesor Jerman ahli Islam bernamaSven (Muhammad) Kalisch, seorang mualaf yg mengajar ilmu agama Islam diUniversitas Munsterdi Jerman. Prof. Kalisch menyatakan bahwa dia merasasangat ragu bahwa Muhammad sang Nabi Islam itu pernah benar-benar ada. Dia juga menduga kemungkinan bahwa Muhammad dianggap Nabi hanya setelah dia mati.

Prof. Sven (Muhammad) Kalisch

Keberanian ahli Islam seperti Prof. Kalisch mengungkapkan pendapat patut diacungkan jempol, mengingat banyak orang lain ketakutan mengritik Islam karena segala macam intimidasi Muslim. Hampir dua tahun yang lalu, pemikiran dan kuliah Prof. Kalisch sangatlah berbeda dengan sekarang. Contohnya, pada kuliah umumnya di tanggal 16 Maret2006, dia membela Syariah sebagai hukum Tuhan. Sewaktu aku menentang pendapatnya sambil menunjukkan ayat-ayat keji Qur’an yang membujuk Muslim utk melakukan kekerasan, kebencian, dan diskriminasi atas wanita (silakan periksaIslam is a violent Faith / Islam adalah Agama Penuh Kekerasan.Click-Link), dia mulai gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa.

Sudah jelas bahwa Kalisch secara drastis telah berubah dalam kurun waktu dua tahun saja, dari Muslim (mualaf) yang kolot mengikuti dogma Islam, menjadi Muslim “liberal” atau KTP saja. Apakah yang terjadi? Kita tidak tahu. Tapi satu hal yang jelas. Bagi kebanyakan Muslimkaffah, Kalisch jelas dianggapbid’ahatau bahkan murtad. Sekarang kita tinggal tunggu saja dikeluarkannya sebuah fatwa bagi pembunuhan Kalisch.

Dalam wawancaranya dengan harian Jerman pada tanggal 29 Desember,2004, Kalisch ditanyai mengapa dia memeluk Islam. Dia menjawab, “Karena nalar dijunjung tinggi dalam Islam.” Nalar?! Ini sungguh suatu hal yang sangat menggelikan. Qur’an dan Sunnah sarat dengan ancaman, ketakutan, kebencian, kekerasan, dan diskriminasi terhadap non-muslim dan kaum wanita.Arti Islam sebenarnya adalah“tunduk,”(dan bukan “menggunakan nalar”!)

Bahkan para mahasiswa Kalisch juga tercengang melihat perubahan dalam dirinya. Salah seorang mahasiswanya berkata padaku, “Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada Prof. Kalisch. Dia dulu membela mati-matian setiap kata dalam Qur’an, bahkan hal yang sudah tidak dilakukan lagi di jaman ini.Sekarang dia malah habis-habisan menolak Qur’an dan menuntut agar Islam diubah. Dia bahkan berkata bahwa Islam membutuhkan seorang Martin Luther.”

Para mahasiswa Kalisch yang dalam setahun akan lulus dan mulai mengajar di sekolah-sekolah Islam, terbagi dalam kelompok Islam moderat dan Islam sejati (dogmatik – mengikuti ajaran Islam per kata dalam Qur’an). Asisten Kalisch yang bernama Lamya Kaddor sekarang masih mengajarkan Islam dogmatik. Bu Kaddor terkenal di kalangan murid-muridnya (yang umumnya adalah orang-orang Turki dan Arab asli) di Universitas Münster dan Sekolah Negeri Glückauf di kota Jerman Barat bernama Dinslacken-Lohberg dekat Essen, seperti yang dinyatakan koranSpiegelOnline pada tanggal 14 Maret, 2008. Alasan mengapa dia terkenal ternyata tidak dimuat olehDer Spiegel. Kaddor mengulang-ulang ajaran di hadapan para muridnya bahwa :seluruh dunia takut akan Islam karena Islam mengandung argumen yang kuat dan tak lama lagi Kalifah Muslim, kesultanan Islam, akan berdiri dan berkuasa di seluruh dunia. Karena itu, bergembiralah wahai Muslim!

Menurut harian Turki,Zaman, Kalisch menolak disertasi doktor (S3) Kaddor dengan tuduhan dissertasinya sarat plagiatisme. Kalisch juga menuduh asistennya mengkorupsi uang riset.

Seorang mahasiswa Kalisch mengatakan padaku bahwa mayoritas koleganya lebih memilih mengajarkan berbagai bentuk Islam dogmatik.

Menteri Pendidikan di NRW, sebuah negara bagian Jerman, menunjuk Kalisch untuk melatih guru-guru Islam untuk sekolah-sekolah Islam dan telah menetapkan aturan umum pendidikan Islam di sekolah-sekolah NRW. Rincian aturannya tidak dijelaskan.

Ayub Axel Köhler, Ketua Konsul Pusat Muslim di Jerman dan beberapa mahasiswa Kalisch ngotot bahwa sekolah-sekolah di Jerman harus mengajarkan Qur’an dan Sunnah karena “Keduanya adalah firman Allah SWT.”

Wolfgang Borgfeld, yang setelah mualaf lalu mengganti namanya menjadi Muhammad Siddiq, mendirikan organisasi yang disebutnya sebagai “Rumah Islam” di sebelah selatan Frankfurt. “Rumah” ini digunakan sebagai hotel dan tempat untuk berbagai seminar dan konferensi Islam yang didanai orang-orang Saudi dan Kuwait. Akan tetapi, rumah ini umumnya merupakan sekolah untuk belajar Qur’an tanpa pengawasan resmi dari Pemerintah.

Baru-baru ini aku mengunjungi “Rumah Islam” dan Mr. Siddiq dengan gembira menunjukkan sekolahnya dan mempertemukan aku dengan para muridnya. Aku jadi ingin tahu apakah yang telah dipelajari murid-muridnya (8 sampai 18 tahun). Aku bertanya pada seorang murid perempuan berusia 16 tahun mengapa dia pakai jilbab. Dia menjawab bahwa dia sangat bangga dengan jilbabnya karena ini berarti dia memenuhi perintah Allah SWT.

Aku bertanya pada murid laki-laki berusia 15 tahun apakah arti Jihad. Dia menjawab,“Jihad berarti berperang bagi Islam agar Islam menang.”

Aku bertanya lebih lanjut, “Apakah perlu pakai senjata?” Dia menjawab dengan tegas, “Jika perlu, YA harus pakai senjata.”

Rumah Siddiq ini memiliki sekitar 60 murid. Sepertiga dari mereka adalah mualaf dan mereka benar-benar Muslim kaffah. Uta Rasche menulis di Frankfurter Allgemeine (September 1, 2004):

“Jumlah mualaf di Jerman adalah sekitar 13.000 sampai 60.000 berdasarkan beberapa perhitungan perkiraan. Secara umum, mereka merupakan jumlah kecil dari 3 juta Muslim di Jerman. Tapi banyak mualaf yang punya kisah-kisah istimewa. Seringkali mereka sangat erat memeluk Islam – dan kadang mereka jadiberbahaya. Mereka ingin membuktikan pada umat Muslim bahwa mereka serius memeluk Islam dan ingin menunjukkan komitmen agamanya.”

Rasche melanjutkan:

“Memang benar bahwa tidak semua madrasah Islam menghasilkan Muslim ekstrimis dan tidak semua mualaf jadi teroris. Tapi tatkala fundamentalis Islamis mencari orang-orang di Jerman yang dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan tujuan-tujuan mereka, para mualaf baru ini seringkali jadi target yang ideal: mereka penuh semangat akan Islam, ingin membuktikan jati dirinya sebagai Muslim, telah memutuskan segala hubungan dengan rekan-rekan non-muslim Baratnya demi umat Muslim. Ada pula kelebihan dari mereka: mereka punya passport Jerman sehingga bisa pergi bebas ke seluruh Eropa, mampu berbahasa Inggris dengan baik, dan tidak tampak mencurigakan sama sekali.”

Gudrun Krämer, seorang profesor ahli Islam dari Universitas Berlin (Berlin University [FU]) juga mendukung anggapan Professor Kalisch bahwa Muhammad sang pemimpin Muslim sebenarnya “mungkin TIDAK PERNAH ADA.” Profesor wanita ini menjelaskan bahwa dia telah memikirkan akan hal itu dan berakhir dengan kesimpulan yang sama. Jika memang benar begitu, mengapa dunk dia membela Qur’an yang di setiap artikel dan buku yang ditulisnya? Contohnya, dia mencoba membenarkan ajaran Qur’an yang menerapkan diskriminasi terhadap wanita yang jadi saksi hukum. Penjelasan dia mengapa kesaksian wanita hanya separuh nilai kesaksian pria dalam Qur’an adalah karena saat wanita mengalami datang bulan, mereka tidak bisa berpikir dan mengingat dengan jelas. Lagipula, tambahnya, para wanita tersebut buta huruf. Padahal kenyataannya, sebagian besar pria di jaman Islam awal juga buta huruf.

(Nabinya sendiri juga buta huruf!! -pntjmh)

Krämer bukanlah satu-satunya ahli Islam relatif (plintat-plintut) di dunia Barat. Sampai sekarang, tiada satu pun para ahli Islam ini yang berani mengritik Qur’an dan Sunnah yang penuh ajaran melakukan kekerasan, kebencian dan diskriminasi terhadap wanita dan non-muslim. George Stauth, ahli Islam relatif lainnya, membela Islam sebagai reaksi terhadap kolonialisme dan konsumerisme modern Barat. Stauth menambahkan bahwa Islam merupakan “gerakan protes” terhadap korupsi dan kemiskinan di dunia Muslim.

Jika memang begitu alasannya, maka para Islamis, yang melakukan kekerasan, kebencian, dan diskriminasi terhadap non-muslim dan wanita berdasarkan Qur’an dan Sunnah, sudah jelas tidak akan mampu memperbaiki keadaan umat Muslim. Jika para Islamis ini berkuasa, mereka akan mengganti satu bentuk kejahatan dengan kejahatan lain yang lebih buruk. Mereka akan menolak pluralisme dalam politik dan agama sama sekali.

Dalam segala kasus, kami para Muslim punya hak melaksanakan ibadah agama Islam, sama seperti umat agama lain. Tapi di saat yang sama, kita harus bersikap tidak peduli dengan ayat-ayat Qur’an dan Sunnah yang mengajarkan pelanggaran hak azasi manusia, atau kita bisa bekukan ayat-ayat itu, atau diskusikan ayat-ayat itu dalam konteks sejarah masa lalu saja. Para pengikut ajaran agama lain telah melakukan hal tersebut, contohnya, umat Kristen, Yahudi, dll.

Bukan masalah apakah Nabi Muhammad itu pernah ada atau tidak. Akan tetapi, Islam adalah kenyataan hidup. Tapi jika kita umat Muslim ingin diterima masyarakat dunia, maka kita harus menolak kekerasan, kebencian dan diskriminasi terhadap kaum wanita. Kita harus menerima keberadaan agama lain seperti umat agama lain menerima kita.

Jalan mencapai tujuan itu akan panjang dan berduri. Baik masyarakat Barat maupun Muslim yang cinta damai harus bekerja sama untuk mencapainya. Kuliah-kuliah Islam relatif dan rasa takut untuk menyatakan kebenaran hanyalah memperkuat kaum Islamis dan ideologi mereka yang menghancurkan. Perang melawan ekstrimisme dan fanatisme harus dimulai.

Ini alasan Prof Kalisch:

KALISCH:

“Kami sama sekali tidak memiliki sumber-sumber Islam dari kedua abad pertama Islam,”kata Kalisch dlm surat kabar berbhs Jerman di situsMuenster University. “Kalaupun ada, kita harus berhati-hati. Sulit membuktikan bahwa itu berasal dari abad 1 atau abad 2 Islam. Dan kita harus waswas apakah ini bukan hasil manipulasi di abad kemudian. Hanya dari abad Islam ketigalah kita mendapatkan bukti-bukti yang lebih nyata.”

Ini, kata Kalisch, sangat mencurigakan: bgm sebuah agama dunia mencuat dari tidak adanya bukti tertulis ? […] “Satu-satunya penjelasan bagi hilangnya [sumber-sumber tertulis tsb] adalah bahwa sumber-sumber itu sejak lama tidak bisa digunakan secara teologis,” katanya tentang beberapa sumber Shi’ah.

Kalisch memanfaatkan karya-karya terkenal Patricia Crone & Martin Hinds, yg mengritik penulisan Qur’an tapi tidak diterima secara luas kalangan akademia:

“Sangat mengagetkan bahwa bukti-bukti dokumenter dari periode Sufnayid sama sekali tidak menyebut rasulullah. Bukti-bukti papirus juga tidak menyebut rasulullah. Tulisan-tulisan Arab pada kepingan-kepingan uang dr jaman Sasanian hanya menyebut Allah dan TIDAK rasulnya ; uang-uang keping dari jaman Arab-Byzantin yang menyebutkan Muhammad rasulullah, yang tadinya diperkirakan datang dari periode Sufyanid, tidak ditemukan dalam periode Marwanid yang datang sesudahnya. Bahkan kedua batu nisan pra-Marwanid tidak menyebut nama rasul.

[…]

Tulisan tertua “Mohammed Rasulullah” ditemukan pada tahun ke 66H, dan setelah itu digunakan terus menerus. Tapi juga adauang-uang keping di Palestina yg bertuliskan “Muhammad” dgn bahasa Arab di satu sisi dan gambar seorang LELAKI MEMEGANG SALIB DIBAGIAN LAINNYA.Kalisch menyebutkan ini dan selusin contoh lainnya. […]

“Untuk lebih pasti,” lanjut Kalisch, “berbagai penjelasan muncul tentang absennya Muhammad dalam periode dini, dan ini memang bukan bukti bagi non-eksistensi Muhammad. Kalaupun Muhammad eksis, seberapa pentingnya arti dirinya bagi umat Muslim pertama?”

[…]

Jadi mengapa dan siapa yang mengarang cerita tentang Muhammad dan untuk apa? Cerita hijrah, pelarian dari Mekahke Medinah (katanya) pada thn 622M, memberikan kuncinya, kata Kalisch.“Tidak ada nabi yang disebutkan dalam Qur’an sesering nabi Musa, dan tradisi Islam sangat menekankan persamaan antara Musa dan Muhammad” tulisnya. “Peristiwa paling penting dlm kehidupan Musa, adalah Exodus/hijrah budak-budak Yahudi yang tertekan dari mesir, dan peristiwa paling penting dalam hidup Muhammad adalah Exodus pengikutnya dari Mekah ke Medinah … Saya curiga bahwa Hijrah hanya muncul dalam cerita nabi, karena dirinya harus digambarkan agar mirip dgn diri Musa.”

Lebih lagi, “gambaran diri Yesus juga nampak sebagai seorang Musa baru. Koneksi Muhammad dengan sosok Yesus dipersembahkan tradisi Islam lewat puterinya, Fatimah, yg diidentifikasikan dgn Maria … Garis Fatima-Maria-Isis sudah diketahui benar oleh bidang riset. Dgn pengambilalihan Mekah, Muhammad paling tidak kembali ke tempat asalnya. Jadi, kami memiliki struktur lingkaran MITOS dimana permulaan dan akhir adalah identik. Struktur lingkaran Gnostic adalah konsep dimana sukma kembali ke tempat asalnya. Karena terpisah dari asalnya, demi keselamatannya, ia harus kembali.”

Kalisch menyimpulkan bahwa Islam sendiri mulai sbg aliran Gnostik, sebuah ajaran rahasia mirip aliran Kristen Gnostik yang kemudian ditolak oleh otoritas Gereja pertama. “MYTHOS MUHAMMAD … mungkin saja hasil aliran Gnostik, yang ingin memaparkan teologi mereka dalam sebuah mitos baru dengan tokoh sentral baru yang mirip tokoh-tokoh lama spt Musa dan Yesus. Bagi pengikut Gnostik sudah sangat jelas; masalahnya bukan kebenaran sejarah, tapi teologi. Musa, Yesus dan Muhammad hanyalah karakter-karakter berbeda dari seorang pahlawan mitos atau putera tuhan, yang akan melambangkan ajaran spiritual lama dalam bentuk mitos.”

Ia menjelaskan, “Dlm Islam Gnostik, Muhammad muncul bersama dengan [para anggota keluarga] Ali, Fatima, Hasan dan Hussein sebagai kekuatan kosmik … tokoh Gnostik, Abu Mansur al Igli, mengatakan bahwa Tuhan pertama kali menciptakan Yesus dan kemudian Ali. Nah, disini kita masih memiliki sebuah Kristus yang Kosmik (The Cosmic Christ). Jika seorang Kristen Gnostik pada saat munculnya Islam, maka Kristus Kosmik mengalami perubahan nama menjadi Muhammad bagi dunia Arab, dan Muhammad Kosmik dipersembahkan sebagai edisi baru Mitos Musa dan Joshua (=Yesus) sbg nabi Arab.”

[…]

Kalisch memang minoritas dalam sebuah golongan minoritas, tapi ia menawarkan penjelasan baru dan kredibel tentangadanyareshuffldalam sumber-sumber Islami selama abad 2 & 3Hijrah. Manusia awam spt kita sulit mendapatkan akses kepada sumber-sumber dokumentasi Kalisch, tapi prinsipnya kini sudah menjadi bahan pembahasan.Ini satu lagi retakan dalam pilar-pilar Islam, dan yang paling bahaya pula, karena datangnya dari dalam.

Click Link Terkait.

Kritik historis terhdp kitab suci Yahudi dan Kristen oleh para akademisi sekuler tidak pernah dilakukan terhdp Qur’an. Alasannya kita tahu semua. Qur’an adalah buku yang tidak boleh diragukan ataupun dipertanyakan : ketika seorang akademisi Islam,Suliman Bashear, mengajarkan pada para siswanya di An-Najah National University di Nablus bahwa Qur’an dan Islam adalah hasil perkembangan historis dan bukan disampaikan secara sempurna kpd Muhammad, para siswanya melemparkannya dari jendela kelas ditingkat dua. Para akademisi lain juga harus menerbitkan buku mereka ttg penemuan mereka vis a vis Qur’an dengan nama samaran. ***

Prof Kalisch wrote:

Tulisan tertua “Mohammed Rasulullah” ditemukan pada tahun ke 66H, dan setelah itu digunakan terus menerus. Tapi juga adauang-uang keping di Palestina yg bertuliskan “Muhammad” dgn bahasa Arab di satu sisi dan gambar seorang LELAKI MEMEGANG SALIB DIBAGIAN LAINNYA.Kalisch menyebutkan ini dan selusin contoh lainnya. […]

Pendapat ini juga sama dgn pendapat Prof Gerd Puin (& Karl Heinz Ohlig)

Gerd Puin: Asal-Usul Islam yangTerselubung

Akhirnya… setelah ditunggu-tunggu selama 40 tahun lebih, Gerd Puin selesai juga menulis buku hasil penyelidikannya tentang Asal Usul Islam:

The Hidden Origins of Islam: New Research into Its Early History(Hardback)

ASAL-USUL ISLAM YGTERSELUBUNG:

PENYELIDIKAN BARU KE DALAM

SEJARAH ASALNYA

oleh Karl-Heinz Ohlig dan Gerd-R. Puin

Lihat laporan singkat tentang penemuan Qur’an tertua di dunia di Yemen (hanya sekitar 40 tahun setelah Muhammad mati) dan wawancara dengan Prof. Gerd Puin:

Qur’an Tertua Ditemukan di Yaman

Lihat nih wawancara dariKarl-Heinz Ohlig:

Muhammad as a Christological Honorific Title

Muhammad sebagai Gelar Kehormatan keKristenan

Dalam bukunya “The Hidden Origins of Islam: New Research into Its Early History” (Asal-Usul Islam yangTerselubung: Penyelidikan Baru ke dalam Sejarah Asalnya), ahli teologi Karl-Heinz Ohlig mengambil kesimpulan bahwa Islam awalnya bukanlah agama tersendiri. Alfred Hackensberger mewawancarai sang penulis.

Tanya: Bukumu berjudul “The Hidden Origins.” Apakah yang terselubung tentang asal-usul Islam?

Karl-Heinz Ohlig: Semua keterangan yang kita miliki tentang asal-usul Islam diambil dari literatur yang dibuat di saat belakangan (setelah dua abad pertama, atau 200 tahun setelah muhammad mati) – “biografi²” Nabi ditulis di abad 9 dan 10 M. Salah satu biografi Nabi yakni Annals of at-Tabari (10 M), merupakan sumber sejarah Islam setelah itu. Dengan begitu, kita tidak punya data tulisan tentang sejarah di dua abad pertama setelah Nabi wafat.

Tanya: Dapatkah literatur² yang dibuat kemudian ini dianggap akurat/tepat? Dari sudut pandang pengamat ilmiah, bisakah tulisan² itu dipalsukan?

Ohlig: Menggolongkan tulisan² ini, atau sama seperti buku² Musa atau kisah Romulus dan Remus, sebagai pemalsuan jelas merupakan hal yang salah, karena kita perlu melihatnya sebagai bentuk literatur khusus yang tertentu. Dongeng² yang berdasarkan agama dan politik bukanlah merupakan laporan sejarah dan memang tidak ditulis sebagai laporan sejarah.

Tanya: Kau menyatakan dalam laporanmu bahwa Islam tidak dianggap sebagai agama tersendiri. Apakah bukti yang kau miliki?

Ohlig: Menurut bukti literatur Kristen di bawah kekuasaan Arab di abad ke 7 dan 8 Masehi, juga keping uang logam dan tulisan Arab di waktu ini, seperti yang terdapat di mesjid Dome of Rock di Yerusalem, penguasa² baru memilih jenis Kristen Syria-Persia yang menolak keputusan Konsul Nicaea. Jenis Kristen ini menganggap Yesus sebagai Nabi, pelayan Tuhan, tapi bukan putra Tuhan secara fisik, dan merupakan sosok mandiri yang tidak “bergabung” dengan sosok apapun. Bapak² pendiri Gereja ini menganggap John dari Damascus (sekitar 750 M) sebagai bid’ah (sesat), karena pengertiannya akan Kristianitas dalam bahasa Yunani tidak sesuai dengan pandangan mereka. Tiada pemberitaan apapun tentang agama baru yang independen di Arab sebelum abad ke 9 M.

Tanya: Apakah ini berarti Islam dibuat sebagai agama tersendiri di waktu berikutnya?

Ohlig: Pembentukan Islam sebagai agama mandiri tampaknya merupakan keputusan pribadi atau seperti keputusan berdasarkan pertimbangan keadaan. Ini seperti kasus di mana agama²seringkali muncul melalui konsep² agama yang terdahulu. Konsep² ini lalu ditafsirkan dengan cara yang berbeda, diubah bentuk, dan diatur lagi dengan cara yang spesifik.

Tanya: Kau juga telah mengadakan riset sejarah kritis dengan menaruh hormat pada Nabi Muhammad. Apa yang bisa kau katakan tentang orang ini?

Ohlig: Sudah terbukti bahwa uang logam terawal dengan motto MHMT muncul di Mesopotamia Timur di sekitar tahun 660 M, dan lalu menyebar ke Barat, dan uang² logam dua bahasa dicap dengan huruf MHMT di tengah dan kata Muhammad dalam tulisan Arab di bagian pinggir. Uang² logam ini mengandung simbol² Kristen, misalnya selalu lambang salib, sehingga nama Muhammad sudah jelas dimengerti (atau ditujukan) sebagai predikat untuk Yesus, sama sepertiSanctus of the mass(pujian baginya yang datang…).

Di sini, Muhammad berarti “yang disebutkan” dan “terpuji” atau “Dia yang disebutkan” dan “Dia yang terpuji.” Tulisan ini juga sama dengan tulisan yang terdapat di mesjid Dome of the Rock di Yerusalem, di mana gelar Muhammad diartikan sebagai Messiah, Yesus, putra Maryam, dan pelayan Tuhan. Hal ini cocok dengan polemik John dari Damascus yang menentang pernyataan² seperti itu yang dianggapnya sebagai bid’ah (sesat).

Setelah itu, tampaknya predikat keKristenan ini lalu hilang, sedemikian rupa sehingga di Qur’an muncul Nabi tanpa nama yang kemudian dikenal sebagai Nabi Arab. Sumber terawal sejarah ini ditemukan dalam tulisan² John dari Damascus, yang menyebut tentang Nabi Palsu bernama Mamed. Hanya di waktu kemudian saja mulai ada catatan sejarah tentang Muhammad.

Tanya: Jadi apakah kau mengatakan bahwa istilah Muhammad itu kemungkinan berkenaan dengan sosok Kristus?

Ohlig: Kemungkinan itu bisa benar sekali – bahkan jika dulu tidak ada bukti akan hal itu (tapi sekarang ada) – bahwa ada seorang pengkhotbah penting dalam sejarah awal atau saat tertentu pembentukan Qur’an. Akan tetapi, berdasarkan bukti uang² logam Arab dan tulisan di mesjid Dome of Rock, sudah jelas bahwa istilah Muhammad berarti yang disebut atau yang terpuji, asalnya adalah gelar kehormatan keKristenan.

Tanya: Mengapa hubungan seperti ini tidak pernah disebut sebelumnya?

Ohlig: Penyelidikan seperti ini terlarang dalam theologia Muslim, yang memang belum memasuki jaman pencerahan. Penyelidikan² Islam Barat tetap saja sarat dengan filologi (penyelidikan tentang bahasa dan literatur) tanpa mengikutkan metoda² sejarah ilmiah. Hanya ada sedikit sekali penelitian sejarah agama atau theological Kristen dalam tradisi budaya Timur Tengah yang sangat amat bervariasi. Karena itulah akar² dan motivasi² tradisi ini tidak dikenal.

Tanya: Dalam bukumu “Early Islam” (Islam Awal), kau menulis bahwa kau tidak mengharap untuk melukai Islam. Banyak Muslim tentunya yang akan tersinggung akan tulisanmu.

Ohlig: Sejak abad ke 18 M, banyak orang² Kristen, juga sampai pada hari ini, menganggap bahwa abad Pencerahan merupakan serangan atau usaha menghancurkan Kristen. Tapi padanya kenyataannya, abad Pencerahan justru memberi kesempatan pada agama Kristen untuk tetap ada di jaman modern dan malah jadi sesuai dengan kehidupan masyarakat modern. Fase inilah yang harus dilampaui oleh Islam, tapi hal ini memang tidak dapat dihindari jika Islam masih ingin tetap ada di masa depan, atau hanya ingin ada di masyarakat tertutup saja seperti di ghetto.

Alfred Hackensberger

© Qantara.de 2008

*Karl-Heinz Ohlig is professor of Religious Studies and the History of Christianity at the University of the Saarland, Germany.

Ini review dari amazon.co.uk

Product details

Hardcover: 406 pages

Publisher: Prometheus Books (10 Sep 2008)

Language English

ISBN-10: 1591026342

ISBN-13: 978-1591026341

Product Description

Review

“Studi akademis dari gagasan baru ini (atas ekspansi melejit Islam di abad 7 & 8 M) disatu pihak terbatas pada kurangnya material asli doktrin yg kita kini kenal sbg Islam dari periode dini pra-Abbasid TAPI dilain pihak, didukung oleh teks-teks beserta tafsiran teliti atas sumber-sumber tertulis yg ada pada saat munculnya kerajaan Abbasid.

Jadi, kalau Islam era itu berbeda jauh dgn apa yg kita kenal sekarang, apa sih kalau gitu Islam? Banyak penulis berbeda pendapat dlm mempersembahkan tafsirantafsiran alternatif dan sudut-sudut bernuansa dan mendetil. Suksesnya buku ini adalah karena upayanya memfokuskan kembali perhatian kita dari kepercayaan-kepercayaan lama ttg asal usul Islam dan mempersembahkannya dlm konteks akademis secara religius, politik dan budaya … mempertemukan kedua perspektif ini [traditional dan baru] akan menjanjikan babak baru yg ramai dlm studi Islam di Barat.” –Arabica, Vol. 55, 2008

Product Description

Sejarah pada umumnya ttg Muhammad dan perkembangan dini Islam didasarkan pada literatur Islam abad 9 & 10 – dua abad setelah mampusnya Muhammad di thn 632. Tidak ada materi Islamic di abad 7 & 8, jaman hidupnya Muhammad dan para penerusnya. Satu-satunya hal yg berasal dari jaman ini adalah beberapa inskripsi di gedung-gedung penting dan uang-uang logam. Sejarah hanya didasarkan pada sumber-sumber jaman ybs, dan oleh karena itulah para penulis buku ini melakukan penelitian mendalam yg membuktikan asal usul Islam secara berbeda total. Spt ditunjukkan riset penulis, nama ‘Muhammad’ timbul pada uang-uang keping Syria BERSAMA IKONOGRAFI KRISTEN. Dlm konteks ini, ‘Muhammad’ berarti ‘yang terpuji’, ‘terhormat’ dan HANYA BISA MENGACU kpd YESUS KRISTUS, krn agama Kristen waktu itu adalah agama yg dominan. Hal yg sama juga eksis dlm inskripsi gedung the Dome of the Rock di Jerusalem, yg didirikan kalif ‘Abd al-Malik.

Jadi, ini bukti bahwa para penguasa Arab terdahulu adalah pengikut sebuah sekte Kristen. Bahkan, bukti dari Quran, yg difinalisasi pada waktu lama kemudian, menunjukkan bahwa prinsip-prinsip teologinya dipengaruhi oleh agama Kristen versi yg ada di Syria, dijaman pra-Nicea (Nicea adalah tempat konferensi para bapak gereja yg kita kenal sekarang).

Analisa linguistik juga menunjukkan bahwa Aramaik, bahasa Timur Tengah dulu selama berabad-abad dan Kristen Syria sangat MEMPENGARUHI HURUF-HURUF ARAB DAN PERBENDAHARAAN KATA DLM QURAN.

Hanya di akhir abad 8 & 9, Islam menjadi agama terpisah, karena Quran melampaui masa perkembangan sejarah selama 200 thn.

Bukunya Luxembourg sudah diterjemahkan sebagian disini.

Sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/profesor-islam-jerman-yang-mualaf-sekarang-murtad-t29137/

Translator: byAdadeh&ali5196

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Mualaf

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: