RSS

Muslim Rasional: Bicara Kebejadan Islam

15 Aug
Kebejadan Islam
Dimata Muslim Rasional

Berikut adalah tulisan percakapan dua muslim rasionaltentang Islam yang menurut mereka memang bukanagama yang pantas. Seorang muslim yang kuliahdi Jerman sadar akan kebobrokan Islam, yang dijawaboleh seorang doktor bidang Advance Islam Study,lulusan Australia, yang bernama DR. Luthfi.
Berikut percakapan mereka:
Dear DR. Lutfi,
Apa Kabar Pak Lutfi? Kembali menyoal ke-gamang-animan saya kepada Islam, semoga bapak tidak kesaldengan keterusterangan saya, tentu bapak sudahmemahaminya lewat email-emailsaya sebelumnya. Sayasudah semakin matang akan mengakhiri kegamanganiman saya pada islam. Saya sudah malu dengan begitubanyak cacat cela dalam Islam. Begitumarah dankesalnya saya menyadari bahwa saya telah ditipumentah-mentah olehIslam.
Islam hanyalah agama darisekian banyak agama di dunia ini, yangsama-samabuatan manusia dalam konteks budaya dan jamantertentu. Saya sudahtidak bisa menerima lagi keyakinantentang agama yang terakhir, kitab sempurna,nabi yangterakhir & sempurna. Semua itu cuma rekayasapengikut Muhammad dijaman-jaman sesudahnya.
Muhammadsendiri belum tentu secara historis pernah benar-benar  ada di dunia ini. Semuasitustentang kuburan, benda-benda peninggalannya, cerita-cerita keberhasilannya bisa sajadikarang puluhan atau ratusantahun setelah islam menjadi agama mayoritas di Arab,lewat jalan kekerasan tentu saja. Kalau benar situs-situs dan benda-benda bersejarah itu asli, biar ditest Carbon-Aging saja,tapi mana ada yangberani? Semua takutdengan kemungkinan fakta yang berbeda dengankeyakinan yangselama ini kukuh dipegang.Saya malu ditanyaitentang keabsahan Muhammadsebagai manusia sempurna tapi doyan kawin danperang,apalagi meniduri anak gadis kecil umur 9 tahun, duhmalunya saya. Juga saya seringdidamprat tentangkesempurnaan alquran yang jelas-jelas mengandung banyakkekeliruansejarah & sains.
Saya tidak tahu harusbagaimana, entah saya akanmenjadi agnostik, atheis atau berpindah agama.Please jangan membujuksaya untuk kembali kepadaIslam. Saya sudah bahagia dengan kemurtadansaya.Tujuan saya menulis surat ini hanya ingin sharedengan bapak. Bahwa ada orang-orang kritis dan jujur yangtidak mau lagi dibodoh-bodohi oleh agama dan ajaranygsudah jelas-jelas tidak manusiawi.
Peace,
Calon Murtadin.







Dijawab oleh DR Luthfi sbb :
Sdr. Calon Murtadin yang terhormat,
Tidak ada keinginandari saya untuk membujuk andamemeluk erat-erat islam. Saya seorang yangmenjunjungtinggi HAM. Beragama dan tidak beragamaadalah bagian dari freedom to believedan sekaligusfreedom to disbelieve. Jikalau islam sudah tidak mampumenjawabmasalah hidupmu, siapa yang bisamemaksakan? Tidak seorangpun boleh memaksakan.Jikalau Islam tampakbegitu redup bahkan hitam kelamdimata anda, silahkan anda meninggalkannya dancariruang yang lebih terang untuk membimbing jalan hidupanda.
Kedewasaan kitaditandai dengan kesadaran bahwadalam hidup ini tidak ada yang mutlak, tidakadakebenaran yang tak terbantahkan, kecuali dalammatematika & sains.Bahwa secara fakta danlogika agama islam tidak sepertiapa yang pernah diajarkan pada kita, saya punsudahlama mengetahuinya. Bahwa Islam tidak seperti yg kitabayangkan dan kitaduga, sudah lama saya sadari.
Seperti anda, sayapun pernah merasa gamang,dibodohidan marah. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa sayapernah lama sekaliabsen shalat. Saya pernah merasatelah salah masuk IAIN. Ingin rasanya sayajadi atheis.Namun kemudian saya justru bersyukur bahwa denganmempelajariagama sebanyak mungkin, saya jadi tahuketerbatasan, kelemahan dan kebohonganagama saya (islam).
Nah, pertanyaannya,kenapa setelah saya tahukebobrokan Islam, saya malah tetap jadi Islam?Karenaagama apapun sama saja. Sama-sama cumakonsep buatan manusia. Jadi untuk apalepas dariperangkap yang ini, eh kejeblos perangkap yang lainlagi? Mengapatidak jadi atheis atau agnotis saja? Yahkalo di Jerman sih okey-okey saja, tapi diIndonesia? Janganharap anda bisa makan enak, kecuali anda memangorang yangkaya yang tidak perlu bekerja ke orang lainatau menjilat pemerintah untukdapatkan proyek. Sayaorang miskin, jadi yang praktis-praktis sajalah. Sayatetapmemilih jadi islam dengan misi untuk mengeremislam agar tidak masuk dalamkebodohan, kenarcisan,kekerasan dan ekstrimisme yang lebih dalam lagi.
Dalam ratusan tahunlagi islam dan agama-agama yang adasekarang akan ditinggalkan, karena ketinggalanjamandan khususnya untuk islam yang jelas-jelas mengajarkan kekerasandan diskriminasipada sesama manusia. Namun ketika kita masihhidup, adalah panggilan bathin saya untuksedikitmenyelamatkan kapal yang akan tenggelam ini agartidak lebih banyakpenumpang jatuh dan tenggelam.
Sekali lagi, itu hakanda untuk meninggalkan islam.Apalagi anda tinggal di Jerman. It’s OK. Anda sudahdewasa sekarang untuk melihat realitas sebenar-benarnya.Namun demikian, adalah lebih bijaksana apabila andamemikirkan bahwa ada ratusan juta bahkan milyaranmanusia yang masih kanak-kanak, masih memerlukan dongeng sebelum tidur seperti dongeng tentang kehidupan di surgabersama 72 bidadari berdada montok yang siapdiperawani siangmalam, atau tentang nerakajahanam tempat si kafir dan para pemakan babi di siksa.Kita yang dewasa tahu bahwa itu semua cumakibulan.Tapi tidak demikian halnya buat para kanak-kanak pecandu dongeng stensilan yang berjudul“Agama”.
Untuk itu, bersabarlah, beri mereka waktu. Asalkanmereka tidak melakukan kekerasan dan pemaksaan,biarlah mereka hidup tenang dan tentram dengancandunya masing-masing. Seperti halnya kita perlu jugahiburan dari sinetron-sinetron yg surealis, sebagai penyeimbangdari realitas dunia yang sumpek dan stressful, begitupula agama ada juga baiknya sebagai penyeimbanguntuk menghadapi realitas dunia yang berat. Asalkankita tahu saja, layaknya sinetron-sinetron Indonesia yangsurealis, dan tidak mendidik, begitu pula agama,sama-sama surealis dan tidak mendidik untuk menjadidewasa.
Cheer up dan lakukan apa yang anda pikir perludilakukan. Saya tetap saudara anda apapun keputusananda.
Wassalam.
DR. Lutfi
Silakan pembaca menilai sendiri tulisan tersebut diatas.
view/3314/88888889/
 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Islam, Mualaf

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: