RSS

Muslim Hanya Jadi Korban Auwloh

15 Aug


Muslim:

Korban Pertama Auwloh

Oleh Tarik Armagan

P

erkenankan aku memulai dengan mengatakan bahwa sama seperti penulis-penulis lain yang telah bersaksi, aku pun adalah bekas Muslim, dan seorang humanis liberal yang sekuler. Aku lahir di negara Barat dari keluarga Muslim Sunni moderat keturunan asal Turki dan Persia. Dengan latar belakangku ini, aku sangat mengerti komentar-komentar sinis yang diungkapkan Muslim terhadap kesaksian-kesaksian para ex-muslim. Bagi kebanyakan Muslim, meninggalkan islam merupakan hal yang mustahil, sebab, pertama, hal itu bertentangan dengan apa yang diajarkan pada mereka, dan, kedua, karena hukuman murtad adalah mati. Aku pun dulu adalah budak hasil pemikiran seperti ini, meskipun aku tidak pernah jadi fundamentalis Muslim dan tidak pernah membenci seperti yang dilakukan Muslim ekstrimis. Aku meninggalkan Islam setelah membaca Qur’an, yang jelas-jelas menunjukkan dirinya tidak lebih daripada contekan kisah-kisah Alkitab (yang juga penuh dongeng-dongeng pagan), dibumbui dengan ancaman terus-menerus tentang murka auwloh. Saat pertama aku mempertanyakan Qur’an adalah ketika aku jatuh cinta dengan seorang pria Yahudi. Aku lalu mencari keterangan yang memperbolehkan diriku hidup dengan rasa hormat sebagai seorang homoseks. Seperti banyak yang dialami orang-orang yang relijius, aku pun mencoba tetap beriman terhadap agama kakek moyangku. Tapi akhirnya logika dan kasih sayang yang menang.


Buku “Leaving Islam” (Meninggalkan Islam) oleh Ibn Warraq mungkin adalah buku anti-Islam yang paling mudah dibaca dari Ibn Warraq. Buku ini menawarkan sejarah munculnya ajaran-ajaran bid’ah dan pembunuhan dalam Islam terhadap murtadin, dan juga pandangan umum yang lengkap mengapa semakin banyak Muslim yang meninggalkan Islam. Para murtadin ini ada yang lalu memeluk agama lain (misalnya Kristen, Katolik ataupun Budha), atau lebih banyak yang cenderung jadi atheis. Kisah-kisah dalam buku itu berasal dari berbagai penjuru dunia: Iran, Turki, Bangladesh, Maroko, Tunisia, Malaysia, India, dan bahkan Amerika. Dari semuanya itu, proporsi terbesar datang dari Pakistan. Mengapa ya? Apakah ini karena orang-orang Pakistan lebih cenderung mudah meninggalkanislam dibandingkan Muslim di daerah lainnya? Tidak peduli dari mana asal para ex-muslim tersebut, kisah-kisah mereka selalu mengungkapkan jalinan benang serupa yang mengikat mereka bersama: awalnya mereka adalah Muslim tradisional (bahkan ada yang fundamentalis) yang sangat taat beribadah dan lalu goyah iman setelah membaca dengan seksama tulisan-tulisan dan doktrin-doktrin Islam. Kau mungkin heran dan berpikir jika hanya karena ini maka para Muslim itu lalu meninggalkan Islam, mengapa kebanyakan Muslim lainnya tidak melakukan hal yang sama? Alasannya banyak dan pelik, dan setiap penulis menerangkan mengapa meninggalkanislam akhirnya menjadi satu-satunya pilihan.

Meskipun kukira tidak banyak Muslim yang mau membaca buku “Leaving Islam”, tapi aku ingin menyarankan semua Muslim takwa agar membacanya. Banyak anggapan-anggapan tentang Islam dibongkar dan ditelaah ulang dalam kumpulan pengakuan yang sangat pribadi dan masuk akal. Meksipun aku kecewa karena tidak menemukan kesaksian murtad Ibn Warraq sendiri, tapi kesaksian-kesaksian lainnya sangat mempesona, penuh pengungkapan pikiran dan, seringkali, mengharukan. Semua kesaksian dalam buku ini layak dibaca. Dari semua kesaksian tersebut, yang paling menarik perhatianku adalah kesaksian-kesaksian dari Ali Sina, Abul Kasem, Parvin Darabi, Azam Kamguian, Taner Edis, Nadia, Denis Giron, Faiza, dan Ben Hoja. Kesaksian Sina terutama sangat menarik karena menjelaskan urutan tahapan yang dialami seorang Muslim yang meninggalkan islam (Iman, Sangkalan, Bingung, Rasa Bersalah, Marah, Sedih, dan akhirnya, Kesadaran. Kupikir sekarang aku berada dalam tahap Sedih dan aku terus-menerus meratapi orang-orang yang mati dan segala hal yang hancur sia-sia gara-gara Islam). Lima dari kesaksian-kesaksian di buku itu adalah dari para mualaf yang dulu memilih Islam dan lalu meninggalkannya. Kisah Giron terutama sangatlah lucu dan cerdas. Bagian kesaksian Hoja yang berjudul “Dark Comedy” (Lelucon Pahit), membuatku tertawa ngakak (catatan kakinya juga lucu banget), tapi akhir kisah sungguh mengagetkan bagaikan memukul perutku dan akhirnya aku menangis. Kesaksiannya saja membuat buku “Leaving Islam” sangat layak dimiliki oleh setiap orang, terutama oleh para muslim yg ingin mencari Kebenaran dengan kejujuran dan kesungguhan hati.

Sama seperti semua buku-buku Warraq, buku ini pun akan membuat Muslim marah karena menunjukkan semakin besarnya keraguan dan kebencian diri sendiri diantara Muslim yang kebetulan bukan Ibn Warraq, Salman Rushdie, atau Irshad Manji. Di bagian prakata, Warraq menyebutkan berbagai kejadian yang disebut sebagai ‘Cassandra Cries‘ (Tangisan Cassandra), yang mungkin menggambarkan bagaimana para murtadin melihat diri sendiri sebagai korban tak berdaya; tapi sebenarnya mereka tidak seperti itu. Setiap ex-muslim menyumbangkan ulasan tajam yang menusuk tentang Islam, Muhammad, Qur’an dan auwloh-nya islam, dan pendapat mereka tidak bisa dilupakan atau dienyahkan begitu saja. Bukanlah masalah kecil untuk menuduh bahwa Muhammad adalah pemerkosa, penjahat perang, pembunuh massal, dan pedofil. orang-orang gila seperti Hitler, Idi Amin dan Jengis Khan tiba-tiba muncul di benak pembaca, dan bukannya nabi Arab yang suci, rendah hati yang memenuhi hati jutaan umat Islam. Bagaimana mungkin pelopor salah satu agama besar di dunia bisa melakukan kebiadaban seperti itu? Tapi kalau membaca sejarah dan ahadis Islam secara jujur dan seksama, maka pembaca akan mendapatkan kesimpulan ini. Muslim bisa memilih bahwa (1) catatan sejarah berbohong tentang Muhammad, atau (2) kita membohongi diri sendiri tentang Muhammad. Apakah kita, sebagai manusia, mencari janji-janji surgawi yang ditawarkan Islam, atau kita mencari Kebenaran? Sama seperti yang dikatakan Ali Sina di akhir kesaksiannya, “Kebenaran adalah daerah yang tidak berjalan tapak.”

Satu hal yang membuatku heran akan sikap Muslim dalam menghadapi kritik dan serangan atas Islam adalah: bukannya menggunakan teknik debat, argumen dan bela diri logis yang bisa diterima akal sehat, mereka malah memilih kekerasan dan ancaman mati untuk membungkan pengritik Islam. Ini adalah reaksi orang-orang yang tidak siap membela agamanya atau mereka tahu bahwa satu-satunya cara menegakkan ‘kebenaran’ ajaran agama ini adalah dengan cara melarang siapapun untuk mempertanyakannya.

Bukankah ini fasisme? Tapi kesalahan tidak hanya terletak pada Muslim tapi juga pada ajaran Islam itu sendiri. Siapapun yang membaca Qur’an akan mengerti bahwa auwloh mewahyukan ajarannya bukan dengan nalar yang masuk akal, tapi dengan paksaan dan ancaman. “Percaya ini, perbuat itu, kalau tidak, maka akan dibakar di Neraka.” Pada dasarnya inilah tema Qur’an. Sungguh ironis bahwasanya ancaman-ancaman itu didahului dengan kata-kata “Dalam nama Tuhan, yang Maha Pengampun, dan Maha Pengasih.” Sangat kontradiktif. Bagaimana mungkin kita tidak bisa mengharapkan Muslim bereaksi dengan cara lain selain kekerasan dan tindakan masuk akal, jika tuhannya sendiri mewahyukan ajarannya dengan cara yang sama? Muslim itu hanya mengikuti cara Tuhannya. Muslim adalah korban pertama auwloh!

Aku harus mengakui bahwa para pengritik Islam sangat berhutang budi pada para pemikir seperti Ibn Warraq, Salman Rushdie, Ali Sina, dan Irshad Manji. Sudah jadi kewajiban kita sebagai pemikir merdeka, pembaharu, dan bahkan sebagai mantan muslim untuk berperan penting melawan Islam dalam dunia modern. Kita adalah orang-orang yang unik karena kita tahu betul bagaimana ekstrimnya Islam dan apa yang diakibatkannya pada pengikutnya. Tapi para ex-muslim sanggup menolak dipengaruhi Islam dan menunjukkan bahwa nalar punya kekuatan dalam menghadapi wahyu auwloh.

Islam adalah Dongeng Baduy, cerita dongeng suku Arab yang diciptakan untuk membenarkan Penjajahan Arab di abad ke 8 dan 9 Masehi. Kita semua dulu sering mendengar ajaran moral ‘lakukan ini, awas kalau tidak’ dari dongeng-dongeng masa kecil, tapi ancaman-ancaman bohong seperti itu tidak akan mempan lagi setelah kita dewasa. Kita belajar hidup dengan tanggungjawab dan bukannya rasa takut. Cukup sudah para Muslim hidup dalam penipuan dan pembodohan diri sendiri selama seribu empat ratus tahun. Akhirnya, ‘tangisan Cassandra’ berubah menjadi ‘keberanian Cassandra.’



Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=18173&start=0&postdays=0&postorder=asc&highlight=
http://www.islam-watch.org/Tariq/Muslims-First-Victims-of-auwloh.htm

 
1 Comment

Posted by on August 15, 2008 in Muslimer

 

One response to “Muslim Hanya Jadi Korban Auwloh

  1. Belajar-Blog

    May 31, 2010 at 5:50 pm

    Hahaha LOE YANG JADI KORBAN YESUS, lah Wong yesus itu manusia, matinya aja di salib ma orang…Bego' loe ya…
    Eh btw, loe misionaris ya? ngomong2 klo loe bisa murtad-tin 1 orang loe dapat berapa dari gereja???

    Gini ja deh, loe ma temen2 loe yang misionaris itu, yang gak suka ma ISLAM, gue tantang deh semua, sekalian ma tuhan loe itu, ajak juga ya, trus ma ibunya tuhan loe itu (emang ibu tuhan loe juga ngeseks dulu ya, wah, ada2 aja, tuhan kok ngeseks…),,,,hahahaha aneh!! tuhan ja da 3,,,,banyak banget…
    bullshit, terserah loe mau fitnah apa ja ma temen2 loe itu, ISLAM gak akan penah mati…

    oya, tapi buat temen2 loe yang bukan misionaris, yang gak benci ISLAM, SALAM PEACE!!!

     

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: