RSS

MUSLIM DI INGGRIS PADA MURTAD

15 Aug

Ketika Muslim

Menjadi Kristen di Inggris

Tantangan Berat Mengikuti

Friday, Apr. 25, 2008

U

mat Muslim yang berkonversi ke Kristen seperti persoalan berduri di hampir semua tempat di dunia, namun baru-baru ini di Inggris perhatian media berfokus pada penganiayaan mantan Muslim yang bukan di negara asing tapi di negeri sendiri.

Mantan Muslim yang berkonversi ke Kristen diancam tidak diakui sebagai anak dan menerima kekerasan oleh anggota keluarga mereka sendiri –seperti banyak terjadi di negara-negara Timur Tengah dan negara-negara muslim lainnya. Namun perbedaannya ini tidak terjadi di tempat yang menjunjung teokrasi sosial, sebaliknya di negara Barat yang menjunjung tinggi kebebasan beragama – termasuk aturan konversi ke kepercayaan lain.

BBC, pemimpin jaringan berita di Inggris, mengeluarkan liputan dan program mengenai penganiayaan terhadap orang-orang Kristiani ex-muslim yang berkonversi dari islam beberapa bulan belakangan ini. Dalam sebuah liputan terbaru Senin lalu, BBC menyoroti kasus nyata di Inggris berdasarkan pengakuan Muslim yang berkonversi ke Kristen dan dampak yang mengikuti mereka.

Sophia (bukan nama sebenarnya) berasal dari latar belakang Pakistan namun tinggal di bagian Timur Inggris. Keluarganya menekan dia secara ekstrim untuk kembali ke Islam sejak dia berkonversi ke Kristen.

“Mereka selalu berkata, hukumannya adalah mati, apakah kamu tahu bahwa hukumannya adalah kematian?” katanya pada BBC. Dia akhirnya lari dari rumah, namun ibunya menemukan dia dan muncul tepat pada saat dia akan dibaptis.

“Saat saya berdiri untuk dibaptis, ibu saya bangkit, berlari ke depan dan berusaha untuk menarik saya keluar,” kata Sophia.


“Saudara laki-laki saya sangat marah. Dia menelpon saya dan hanya berkata, ‘Saya akan datang untuk membakar gereja itu,'” kenangnya.

Warga Inggris lainnya yang berkonversi adalah Ziya Meral, yang diancam tidak diakui anak oleh orangtuanya saat mengetahui dia menjadi Kristiani.

“Mereka berkata, ‘Pergi, kamu bukan anak kami,'” kata Meral. “Mereka berkata pada orang-orang kalau saya meninggal dalam sebuah kecelakaan daripada malu anak mereka meninggalkan Islam.”

Kasus Ziya Meral agak berbeda dengan Sophia karena dia dilahirkan dan dibesarkan di Turki. Keluarganya masih ada disana. Dia pergi ke Inggris untuk belajar di sebuah universitas dan kemudian mengikuti Yesus Kristus.

Dia berencana untuk memberitahu keluarganya, namun sebaliknya keluarganya melihat (ketahuan) dia di berita nasional yg mengatakan bahwa Ziya Meral telah menjadi seorang “misionaris” yang akan melakukan penginjilan kepada anak-anak Turki. Kisah tersebut hanya berdasarkan pada sebuah video mengenai Ziya Meral yang sedang makan pada perkemahan musim panas Kristiani tepat sebelum dia kembali ke Turki.

Untuk berkonversi seperti Sophia dan Meral, ada kepercayaan luas bagi Muslim bahwa mereka patut dihukum mati.

Dalam sebuah pemungutan suara mengenai Perubahan Kebijakan tahun lalu sepertiga kaum muda Muslim di Inggris menyarankan hukuman mati adalah pinalti bagi mereka yang murtad.

Namun sebagian cendikiawan Muslim yang dihormati mengatakan bahwa Quran tidak mengatakan orang yang murtad harus dihukum mati. Selebihnya, pengajaran itu berasal dari hadis, atau catatan tradisi dan perkataan dari Muhammad.

Usama Hassan, cendekiawan terpelajar dari Cambridge, menyatakan bahwa pengajaran klasik adalah salah bagaimana mereka menerapkan Quran. Dengan pasti mencela siapa saja yang membela hukuman mati.

“Saya percaya hukum klasik pemurtadan dalam Islam adalah salah dan berdasarkan kesalahpahaman pada sumber-sumber aslinya, karena Quran dan Hadis tidak secara nyata mengatakan tentang hukuman mati bagi orang yang murtad,” sanggah Hassan.

Tahun lalu, penasihat agama terkenal di Mesir, Grand Mufti Ali Gomaa, juga mengatakan kaum Muslim bebas mengubah agama mereka dan tidak seharusnya diberikan hukuman mati karena kepindahannya. “Ini adalah persoalan antara seorang individu dengan Tuhan,” katanya menurut Agence France-Presse.

Seorang mantan Muslim yang bertobat dan menjadi salah satu figur Kristen yg taat, Dr. Patrick Sookhdeo dari Barnabas Fund, mengatakan bahwa dia “gembira” melihat media Inggris menyoroti kasus konversi (perpindahan agama) dari Islam ke Kristen dan penganiayaan terhadap mantan Muslim.

“Sebagaimana saya mengkonversikan diri saya sendiri dari Islam, dalam bagian kehidupan saya mencermati dan melihat bahwa ini adalah hukuman paling kasar, dan melihat Kristiani seperti saya sendiri diberikan kebebasan untuk memilih dan percaya tanpa menghadapi penganiayaan dan kemungkinan kematian,” Sookhdeo menulis di sebuah surat kabar Senin lalu.

“Saya menyambut perkataan imam seperti Usama Hassan yang dengan jelas percaya bahwa hukum klasik tentang pemurtadan di dalam Islam adalah salah dan mencela mereka yang membela hukuman mati,” kata Sookhdeo, yang juga direktur dari Institut Studi Islam dan Kekristenan. “Akhirnya dunia bangun terhadap kekejaman dan ketidakadilan. Media sekuler diberikan selamat atas diangkatnya topik tersebut.”

Dr. Patrick Sookhdeo, pakar mengenai Islam – yang merupakan anggota dewan penasihat Inggris, dan penasihat pasukan keamanan resmi NATO terhadap ideolagi jihad itu – menyerukan pada umat Kristiani berdoa bagi kemajuan yang nyata dalam kebebasan beragama bagi mantan Muslim di seluruh dunia.

Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic
http://www.christianpost.co.id/

*Translator: Nurlela

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Mualaf

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: