RSS

Mentalitas Korban Muslim

15 Aug

Tulisan ini adalah karya seorang blogger Iran yg telah bertobat dan meninggalkan islam. Lihat websitenya DISINI.

Mental Muslim

Yg Selalu Anggap Diri Korban

Muslim’s Victim Mentality

Jumat, 25 Januari 2008


Sebagai kelompok, Muslim sering paranoid dan menderita penyakit kronis (yang bernama)korbanisasi. Artinya, mereka selalu mengorbankan orang yang lebih lemah kapanpun dan dimanapun, tapi giliran menghadapi orang yang lebih kuat, mereka berteriak-berteriak seakan menjadikorban. Mentalitas inilah merupakan salah satu warisan yang ditinggalkan Muhammad kepada umatnya.

Ingat bahwa di Mekah, Muhammad sendiri merasa dirinya sebagaikorban, ngedumel, mengemas barang-barangnya dan kabur ke Medinah dimana orang-orang Yahudi disana tidak sejahat sukunya sendiri, yaitu sukuQuraishyang kaya dari bisnis turis di lokasi-lokasi penyembah-penyembah berhala.

Dan begitu Muhamad ko’it, terjadilah perselisihan internal. Pengikut2nya mulai berebut kekuasaan dan dengan cara khas, Muslim melakukan sebisa mungkin untuk menghancurkan lawan-lawan mereka. Ali, menantu Muhammad disikut keluar oleh murid-murid Nabi yang lebih berkuasa dan dia harus menunggu gilirannya untuk menjadi pemimpin umat yang telah terpecah-pecah dan hobi berselisih itu.

Banyak pengikut setia kecewa karena Ali tidak diberikan kesempatan untuk mengambil alih pimpinan. Beberapa merasa menjadikorbandari kelakuan Umar cs yang sangat berkuasa dan ada yang membenci Ali karena tidak berani melawan dan berperang seperti layaknya seorang laki-laki. Beberapa Muslim yang berani memutuskan bahwa Ali harus dihukum dan akhirnya menikamnya saat ia sedang berjalan menuju mesjid.

Kematian Ali boleh dikatakan merupakan titik penentu. Sejak itu, mulailah segala macam perebutan kekuasaan, perselisihan internal dan pertumpahan darah diantara pengikut agamadamaiini.

Kedua putera Ali, Hasan dan Hussein, memutuskan untuk membela kehormatan ayah mereka dengan melawan dan berperang, layaknya seorang Muslim yang baik, sambil tentunya menikmati hak-hak istimewa sebagai pemimpin sebuah gang.

Pedangpun mulai saling bentrok. Pada sisi yang satu, Yazid berdiri dengan tentaranya yang kuat dan makmur, dan pada sisi yang lain Hasan dan Hussein berdiri dengan pengikut-pengikut mereka yang kocar kacir. Hassan terbunuh dalam waktu yang singkat (dalam pertempuran), tetapi Hussein tidak mau menyerah. Hussein mencoba mengajak berunding musuhnya, Yazid.

Hussein:Aku adalah pewaris sah tahta Muhammad. Aku menuntut agar kaum beriman, termasuk engkau Yazid, untuk menerima aku sebagai pemimpin umat.

Yazid:Eiittt … tunggu dulu. Umat Muhammad bukan semacam bisnis keluarga. Umat yang percaya Allah tunduk pada hukumNya. Orang memilih pemimpin yang paling bijak sebagai pemimpin agama, persis seperti yang dilakukan para Kalif. Iman kepada Allah itu didasarkan atas kemampuan dan bukan atas warisan.

Hussein:Salah lu!Kakekku memulai usaha ini, ayahku mengabdikan hidupnya untuk usaha ini, saudara laki-lakikutewas untuk mempertahankannya, dan aku berniat untuk mengambil apa yang menjadi hak dan bagianku.

Yazid:Hussein, elu tuh yee! Sama keras kepalanya seperti Hassan. Kau tidak dapat diajak berunding, jadi biar pedang keadilan saja yang menyelesaikan perselisihan diantara kita.

YAH, anda tahu sendirilah akhir dari cerita ini. Hussein yang keras kepala menolak untuk melepaskan klaimnya terhadap Yazid yang lebih kuat dan akhirnya kepalanya dipenggal oleh Shimr, ditaruh pada ujung tombak dan diberikan kepada Yazid sebagai hadiah.

Pengikut-pengikutthe house of Alidan keturunannya, minoritas yang hanya berjumlah 10% dari total Muslim (dunia), merasa menjadikorbandari si bengis, Yazid. Karena tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh pengikut-pengikut Ali ini untuk merubah keadaan, mereka akhirnya menerima nasib mereka sebagaikorban. Tahun demi tahun, abad demi abad, mereka mengenang kejadian ini dimana Hussein jadikorban, dengan memukul dan melukai diri mereka sendiri karena nenek moyang mereka yang tidak dapat menolong Hussein, dan membuat diri mereka berlumuran darah guna menebus dosa nenek moyang mereka.

Peristiwa berdarah Yazid-Hussein terjadi 1400 tahun yang lalu. Bukankah kini waktunya untuk melupakan peristiwa itu? Kenapa, khususnya orang-orang Iran yang beraliran Syiah, terus mengingat-ingat kejadian tragis antara dua orang Arab yang suka bertengkar, haus darah dan gila kekuasaan?

 

Ashura — gaya Syiah


Kita, bangsa Iran, tidak punya hubungan dalam pertengkaran antar Arab ini. Bahkan kita seharusnya membuang semua noda-noda (yang berbau) Islam, Syiah, Sunni, Arab atau apapun, dan dengan itu kita harus berhenti menganggap diri kita sebagaikorbanterus menerus. Anggapan diri sebagai korban mungkin memberikan kelegaan psikologis, tetapi itu tidak menyelesaikan permasalahan di lapangan. Dan permasalahan kita di lapangan sangat bUAanyak.

Wahai saudara-saudara sebangsa, lupakan sengketa para Arab gila jaman baheula itu. Berhentilah menganggap diri kita ini sebagai korban: korban Yahudi-lah; korban Amerika-lah; korban Salibi-lah dsb dsb. Memang kita adalah korban yaitu:korban dari Islam yang menjajah dan merongsokkan negeri kita dan yang menanamkan ide sakit ini kedalam kepala kita.

Merasa sebagaikorbanadalah penyakit Islam. Islam, apapun sektenya, selalu akan membuat orang menjadikorban, atau “playing victim”dari ‘penindas’ yang lebih sering berada dalam benak kita. Mentalitaskorbanini merupakan akar dari keterbelakangan dan mandeqnya pikiran Muslim.

Kita sebagai orang Iran adalah keturunan bangsa yang optimis, berbudaya tinggi dan positif. Kita adalah anak-anak keturunanCyrus the Greatdan bukan budak dari bidat Arab yang bernama Islam. Islam hanya membawa kita kesengsaraan. Tinggalkan Islam; kubur kepercayaan itu bersama dengan kenangan akan dua orang Arab, Yazid dan Hussein, yang bertengkar karena berebut kekuasaan. Jangan lagi kita menumpahkan darah selama 10 hari setiap tahunnya untuk menangisi tragedi Hussein. Islam tidak pantas mendapatkan satu tetes darahpun dari orang Iran. Dan kenyataanya kita telah mencurahkan darah kita untuk Islam sampai beberapa ton barrel!

Sumber:

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?f=97&t=25667

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Islam

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: