RSS

KISAH PAHIT PARA EX-MUSLIM MESIR

15 Aug

UU DISKRIMINATIF TERHADAP
KRISTEN & EX-MUSLIM DI MESIR

KISAH MANTAN MUSLIM DI MESIR

Oleh: Sandro Magister – July, 2006


Ttg gelombang penangkapan mantan muslim di Mesir & kisah seorang pemuda yang telah dibaptis, yg terpaksa merahasiakan iman barunya.


ROMA – Kisah penangkapan warga Mesir karena bertobat ke Kristen, yang dibocorkan oleh “AsiaNews” dari Pontificial Institute for Foreign Missions, menunjukkan ancaman-ancaman yang dihadapi para ex-muslim dari Islam ke agama lain.

Di Italia, kira-kira setengah dari ex-muslim yg bertobat ke Kristen adalah orang Albania yang justru paling sedikit mendapat ancaman karena jumlah muslim di Albania tidak banyak. Tapi bagi muslim Maghreb, atau Syria, atau Pakistan, resikonya serius. Keluarga mereka sendiri akan mengutuk mereka sebagai murtadin dan hidup mereka terancam.


KISAH MUSLIM KURDI TTG TOLERANSI PADA MURTADIN

Daniel Ali memeluk Kristen ketika ia masih hidup di Irak Utara dan menentang Saddam Hussein. Dia pindah ke Amerika pada tahun 1993, dibaptis tahun 1995 dan pada tahun 1998 bergabung dengan Gereja Katolik. Bersama Mitch Pacwa, seorang Jesuit ahli kajian Arab, Daniel Ali membuat “Forum Kristen-Islam” dan berkeliling Amerika untuk berkhotbah.

Di seluruh penjuru dunia, banyak ‘Muslim’ menyembunyikan agama baru mereka. Gereja Katolik sendiri menanggapi dgn menghimbau agar pengikutnya jangan “mencari masalah”; alias melakukan usaha-usaha untuk memurtadkan muslim. Seorang direktur Italia dari Fondazione Migrantes, yang meminta untuk dirahasiakan namanya yg bekerja bertahun-tahun dengan muslim Tunisia, mengatakan: “Kami memutuskan untuk tidak mendorong pemurtadan ke Kristen, kami tidak peduli dengan pendapat Kardinal Giacomo Biffi tentang ini.” Kardinal Giacomo Biffi memang memiliki pandangan berbeda: “Berkhotbah dan membaptis adalah tugas gereja. Yesus tidak memerintahkan kita untuk memberitakan Injil kepada semua manusia, kecuali pada Muslim, Yahudi, dan Dalai Lama.”

Berbagai pembicaraan yg menghindari penginjilan ini tentunya tidak menguntungkan mereka yang baru menjadi Kristen. Keluhan seorang perempuan Maghreb bernama Nura: “Kami merasa ditinggalkan. Setelah kami bertobat meninggalkan islam, kami tidak mempunyai siapa-siapa lagi yang mendukung kami. Kami meminta tolong pada gereja: Lindungi kami, bela kami.”

Kepala keuskupan Michael Fitzgerald, Presiden dari Dewan Kepausan untuk Dialog antar agama, curiga dgn para murtadin ini. “Seringkali niatnya adalah untuk menjadi orang Italia. Tetapi seseorang tentu dapat menjadi orang Italia dan sekaligus menjadi seorang muslim. Yang saya khawatirkan adalah ia masuk Kristen hanya agar diterima dlm komunitas Kristen.”

Beberapa hari kemudian pada 28 September, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan daftar kardinal baru. Fitzgerald, yang diperkirakan dapat menduduki jabatan itu, absen dari daftar tsb. Beberapa minggu kemudian, Kardinal Joseph Ratzinger mengatakan, “Kita harus berani menolong orang-orang ini,” dan menyingkirkan pendapat “Para orang Kristen (ex-muslim) yang tidak percaya diri.”

Bulletin “La Civilta Cattolica,” suatu organisasi tak resmi di Vatikan, menyegarkan ingatan masyarakat tentang kondisi kehidupan di negara-negara Islam, contohnya Mesir yg menganggap dirinya sbg negara Islam
Moderat. Penyelidikan ini dimuat di “L’espresso” no.50, 5-11 Desember, 2003.


TIDAK ADA

ALLAH LAIN BAGIMU


oleh Dina Nascetti


KAIRO – Pada usia 13 tahun, Ibrahim sudah benar-benar memahami Quran. Oleh imamnya di Kairo ia seringkali dijadikan sebagai panutan bagi pemuda-pemuda lain, dan diramalkan bahwa dia akan menjadi pendakwah radikal yang hebat. Ibrahimpun menjadi pendakwah muda pada usia 16 tahun. Setiap hari Jumat, dengan penuh semangat, dia berkhotbah menggebu-gebu didepan muslimin yang ingin mendengarkan kotbahnya tentang kebangkitan jihad.

“Saya memaksakan pemakaian hijab bagi semua anggota keluarga saya yang perempuan, nenek saya, ibu saya, dan saudara-saudara perempuan saya,” ceritanya. “Saya tidak dapat menerima ekspresi yang tidak islami dalam lingkungan saya. Saya terus mengawasi dan menengur siapa saja yang tidak menghargai aturan Islam dan menyimpang.”

Pertengahan 1990, saat Ibrahim masih sibuk berkhotbah, hadith-pun diperkenalkan kembali di Mesir. Hadith memuat ucapan-ucapan Muhammad tentang isba, prinsip yang mengizinkan sesorang untuk menyelidiki orang-orang yang menyimpang dari ajaran Syariah, hukum Islam, dan tentang ridda, tuduhan murtad. Salah satu dari hadith mengatakan bahwa DARAH SEORANG MUSLIM “DAPAT DITUMPAHKAN UNTUK TIGA HAL: PEMBUNUHAN, PERZINAHAN dan PEMURTADAN.” Jadi muslim kaffah diberi kuasa untuk membunuh pendosa. Berdasarkan dogma ini, banyak kaum intelektual yang dikutuk dan dibunuh karena tulisan-tulisan yang tidak islami, seperti penulis yang memperoleh hadiah Nobel, Naghib Mahfuz.

TAPI, dua tahun lalu, Ibrahim bertobat ke Katolik. Dia memakai nama Mikail (Michael) dari nama malaikat yang dipuja di Mesir. Biara-biara, gereja-gereja, dan kapel-kapel diperuntukkan pada Malaikat Michael di seluruh negeri. Sisa tempat-tempat ini dianggap suci pada masa pra-islam di Mesir dan masih dapat dilihat di kastil Babilon, kawasan Old Cairo.

Namun Ibrahim Mikail menjalani hidup pertobatannya dengan sembunyi-sembunyi. Keluarga, teman-teman, dan bahkan istrinya tidak mengetahui hal ini. Dia terancam dibunuh dengan tuduhan murtad. Dia mengatakan, “Teman-teman lama, saudara, bisa menghukum mati saya, atau paling tidak saya akan dikurung bertahun-tahun dan disiksa.

APAKAH KETAKUTAN IBRAHIM CUKUP BERALASAN?

UU no.3 dalam Konstitusi Mesir 1923 menyebutkan persamaan derajad seluruh warga Mesir dimata hukum tanpa membedakan SARA (mirip seperti di Indonesia). Tapi kenyataannya berbeda. Sejak 1971, karena dorongan Islamisasi, terjadilah perubahan dalam sistem peradilan Mesir. Presiden Anwar Al-Sadat dibunuh oleh fundamentalis Islam, karena dianggap terlalu toleran terhdp Israel dan menyebut “Syariah sebagai SALAH SATU dari sumber-sumber terpenting perundang-undangan,” yang pada akhirnya di tahun 1980 menjadi “SUMBER TERPENTING.”

Seorang muslim sejak lahir tidak akan pernah bisa berganti agama,” kata Youssef Siddom, Direktur mingguan Kristen “Watani.” “Hidupnya akan terancam dan dia akan kehilangan warisan dan disingkirkan dari kelompoknya. Namun sebaliknya, warga Mesir Kristen yang menjadi mualaf, akan disambut baik, kartu identitasnya akan cepat diganti dengan yang baru dan dia dibantu mendapatkan pekerjaan & rumah.

Hidup penuh rahasia yang dijalani Ibrahim-Mikeil, menyebabkannya bisa menghindari kejaran polisi yang baru-baru ini menahan 23 warga Mesir yang bertobat ke Kristen, sementara ratusan lainnya masih diburu.

Berita-berita ini tidak diangkat media Mesir, tapi dibocorkan ke Roma oleh perwakilan “Asia News” yang memberi informasi tentang situasi kritis penganut Kristen di dunia islam. Satu-satunya harian Arab yang menuliskan penangkapan-penangkapan ini adalah “Al Quds,” yang terbit di London dan dilarang di Mesir.

Diberitakan: “Tindakan polisi mesir menangkapi ex-Muslim yang berpindah iman ke Kristen, berlangsung secara diam-diam. Kami terhenyak melihat hal seperti ini terjadi di kepolisian. Memang benar Syariah tidak mengizinkan
apostasi, tapi menurut hukum negara hal ini mestinya tidak disesuaikan dengan tendensi fundamentalis.

Menurut seorang pastor, “Penangkapan yang dilakukan polisi secara diam-diam ini, di pemerintahan dan di perusahaan-perusahaan, berlangsung sejak ditanamkannya paham fundamentalis dalam sistem pendidikan Mesir. Kenyataannya, siswa-siswa beragama minoritas seringkali mengalami diskriminasi dan perlakuan tidak layak. Contohnya, siswi beragama Kristen di sekolah dasar diharuskan memakai jilbab (sama persis dng apa yg dialami oleh para siswi non-muslim pada SMU di Padang, Sumatera Barat, akibat pemberlakuan Perda Syariah. Klik beritanya disini). Sekolah-sekolah negeri di-intervensi oleh imam-imam Al Azhar dan pemerintah, untuk memuaskan nafsu fundamentalis, dengan tujuan untuk mempertahankan jabatan di pemerintahan. Selama berbulan-bulan tak ada pemberitaan tentang penahanan orang-orang yg keluar dari islam. Dan sementara itu, mereka mendapat perlakuan kasar, takdir mereka ditentukan oleh hakim, yang selalu berat sebelah.

Seandainya mereka tidak dihukum, satu-satunya yang dapat mereka lakukan adalah kabur ke Amerika, Kanada, atau Australia, untuk menghindari aniaya dan cercaan keluarga serta lingkungan.

Aspek-aspek ini diremehken oleh media Mesir, tapi tidak oleh “Watani.” “Kami adalah surat kabar independen,” ujar direktur Watani, Sidhom, “tak ada hubungan dengan gereja, dan tak ada subsidi dari gereja.” Dengan berulangnya penindasan pada orang Kristen, Pemimpin Koptik Paus Shenuda III, yang sebelumnya sering memuji keharmonisan Kristen dan Muslim, telah mengubah pendiriannya, dengan menyuarakan banyaknya serangan yang terjadi pada kelompoknya.

Kehidupan orang Kristen, yang mayoritas adalah kaum Koptik sebesar 6-7 juta orang, semakin sengsara belakangan ini. Penyiksaan terhadap kelompok ini mirip dgn bentuk penyiksaan yang dialami orang-orang Kristen pertama.

Peristiwa paling parah terjadi pada Oktober 1998, ketika petugas-petugas keamanan Mesir, melakukan pemerkosaan dan penyaliban ketika menyerang desa Koptik, El-Kosheh, di dekat Luxor.

Penyaliban dilakukan berkelompok yg terdiri dari 50 orang yg memaku atau merantai korban di pintu-pintu, kaki yang satu berhimpit dengan kaki yang lain. Ada korban-korban yang dipukuli dan disiksa dengan aliran listrik di alat kelaminnya oleh polisi yang menuduh mereka sebagai kafir. Seorang anak, Romani Boctor, 11 tahun, diikat dengat kabel listrik di atas loteng.

Tapi diskriminasi yang berlaku di setiap aspek kehidupan bermasyarakatlah yang paling menyulitkan kehidupan orang-orang Kristen di Mesir. Menurut konstitusi, presiden diharuskan seorang Muslim. Orang Kristen tidak boleh menjadi perdana menteri, meskipun hal itu pernah terjadi pada masa lalu. Dari 32 menteri kabinet, hanya terdapat 2 orang Kristen: Menteri Keuangan dan Menteri Lingkungan. Walikota atau Kepala desa tidak boleh dijabat orang Kristen. Jabatan-jabatan tinggi di angkatan bersenjata, kepolisian, dan pengawal presiden hanya diberikan kepada muslim. Orang Kristen tak bisa menjadi saksi penting dalam pengadilan. Lebih parah lagi, menurut hukum, harus ada 2 saksi sebelum vonis dijatuhkan, tapi jika salah satu saksi adalah orang Kristen, hakim dapat menolak kesaksiannya.

Seorang Kristen tidak bisa menjadi rektor universitas atau dekan fakultas. Pemerintah menggaji para imam, tapi tidak menggaji pendeta Kristen. Universitas Al Azhar tidak menerima murid beragama Kristen, meskipun uang pemeliharaannya diambil dari pajak yang dibayar baik muslim maupun Kristen. Belum lagi berbagai hambatan yang harus dihadapi untuk mendirikan gereja.

Hambatan-hambatan ini dapat dirunut dari UU tahun 1934, yang mengatur 10 persayaratan tentang perizinan gereja. Sebagai contoh:

Gereja tidak boleh dibangun diatas tanah peternakan; dan tidak boleh berdekatan dengan mesjid atau monumen publik; harus diperoleh izin dari kepolisian jika Gereja mau dibangun berdekatan dengan sungai nil, kanal-kanal, atau jalan kereta-api. Izin inipun harus ditanda tangani oleh Presiden.

Sameh Fawzi, seorang jurnalis Kristen mengatakan: “Pemerintah tetap mempertahankan keadaan ini, yang justru memprovokasi kefanatikan seluruh warga Mesir, dengan membeda-bedakan (baca: mendiskriminasi) penduduk Kristen terhadap penduduk Muslim.”

“Budaya dan kehidupan kaum Koptik sudah tidak pernah dimuat media Mesir. Karenanya, kami memperbesar perhatian pada kaum minoritas Kristen. Kami ingin Mesir bersatu, baik Kristen maupun muslim, karena mereka semua adalah bagian dari negara ini, ujar Sidhom, dan memperingatkan, “Ketidakpedulian negara mengakibatkan orang-orang Kristen mengira bahwa Mesir menganggap mereka sebagai warga negara kelas dua dan orang-orang Kristen adalah kafir, infidel, yang tidak meyakini agama yang benar dan tidak memeluk keyakinan yang benar, sehingga tak perlu digubris. Dan di negara ini, diskriminasi hina berdasarkan agama sudah lama terjadi.”

Ibrahim-Mikeil memahami semua bahaya karena pertobatannya, tapi dapat menjalani hidup sebagai ex-muslim dengan tenteram karena sembunyi-sembunyi. “Ketika saya menyadari tentang kekerasan dlm agama saya yg dulu (islam), saya mulai meragukannya,” dia mengenang.

“Saya menginginkan Tuhan yang begitu dekat dengan saya, tapi di dalam Islam dia seolah-olah sangat jauh. Dia berkuasa, tapi dia bukanlah Tuhan yang hidup ditengah-tengah kita. Hal inilah yang menyiksa saya. Lalu suatu hari saya mengunjungi biara St. Catherine of Sinai dan disana saya memperoleh inspirasi yang sesungguhnya. “Santa Catherina adalah seorang putri Mesir yang bertobat ke Kristen yang kepalanya dipenggal oleh Kaisar Romawi Maxentius.”

Impian Ibrahim-Mikeil adalah “Pergi ke Roma supaya dapat berdoa dengan tenang di Gereja St. Petrus, bersama istri saya.”

Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=4250
http://www.chiesa.espressonline.it/dettaglio.jsp?id=7000&eng=y

Penerjemah: madison

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Mualaf, Teror Islam

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: