RSS

Kenapa Para Pemuda Arab Murtad?

15 Aug

KENAPA YA

PARA PEMUDA ARAB

PADA MURTAD?

Penulis: Jacob Thomas

Senin, July 28, 2008

Pada tanggal 8 Juli, 2008, aku temukan sebuah tulisan di website Tanweer yang berjudul: “Limadha Yulhidu al-Shabab?” Artinya adalah: “Mengapa al-Shabab jadi Murtadin?”. Shabab merupakan kata majemuk dari ‘Shab’ yang berarti pemuda-pemudi.

Penulis artikel ini adalah wanita intelek yang juga adalah penulis berita Internet Al-Jarida yang berarti Surat Kabar. Hal sensitif yang ditulisnya jarang dibicarakan di surat kabar Arab, karena masalah ini sangatlah sensitif. Selain itu, hal ini kalah tenar dibandingkan dengan berita2 bertubi-tubi tentang para Islamis, radikal Muslim, Muslim yang jadi Irhabis (teroris). Apakah memang benar banyak pemuda2 Muslim yang meninggalkan Islam dan lalu menganut pandangan atheisme?

Mari lihat kutipan berikut dari artikel tersebut, yang diikuti dengan analisa dan komentarku.

“Setelah mengikuti diskusi2 yang terjadi diantara kaum muda di Internet, kami menemukan meningkatnya “llhad” atau murtad di tanah Arab, termasuk Kuwait. Yang aneh adalah bagi para pemuda ini, llhad bukanlah hanya merupakan keyakinan pribadi saja; tapi lebih pada keyakinan mampu eksis secara mandiri. Dengan keyakinan ini, mereka merasa mampu mengembangkan negara mereka keluar dari kebodohan, keterbelakangan, dan kemunduran di segala bidang kehidupan. Yang paling membingungkan dari kecenderungan ini adalah sewaktu ideologi Komunis dan Sosialis menyebar di dunia Arab di abad ke-20, tiada Muslim yang berani terang2an menyangkal ‘Sang Pencipta.’ Ideologi2 ini memerangi semua agama yang dituduh sebagai “Candu Masyarakat.” Banyaknya murtadin akhir2 ini perlu diamati dan dipelajari, karena hal ini pun menyebabkan timbulnya akibat2 baru.

”Setelah kebangkitan Uni Soviet sebagai negara adi kuasa di awal abad ke-20, beberapa organisasi Arab memeluk ideologi Komunis dan Sosialis sebagai jalan keluar yang menjamin kesamaan hak, keadilan dan kemerdekaan. Gerakan ini tidak muncul dengan tujuan untuk memerangi Islam, tapi sebagai alternatif terhadap ideologi Kapitalis dan sebagai reaksi penjajahan Barat yang terasa akibatnya di seluruh tanah Arab. Karena itulah, tidak aneh jika banyak para Sosialis Arab yang ikut upacara2 agama seperti ikut sholat Jum’at di mesjid. Hampir tak ada Sosialis Arab yang terang2an menyangkal keberadaan Allah SWT atau murtad dan meninggalkan Islam.

“Akan tetapi saat ini, meskipun sistem2 Sosialis dan Komunis telah hancur berantakan dan munculnya kekuatan baru Islam; kita pun melihat pula munculnya sikap ekstrim yang berlawanan. Sikap ini muncul sebagai reaksi natural terhadap ideologi dan praktek politik Islam. Para pemuda Arab (shabab) tumbuh dalam masyarakat yang tidak pernah dijajah orang asing atau mengalami kolonialisme, dan mereka melihat sendiri negara mereka malah jauh lebih jelek keadaannya dibandingkan dulu sewaktu jaman penjajahan.

“Sewaktu para pemuda mencoba mengubah keadaan, mereka ditentang oleh para Islamis, yang sekarang memegang peranan yang sama dengan para penguasa gereja di Abad Pertengahan di Eropa. Contohnya, mereka bertemu dengan Imam yang pakai ‘amama’ (tudung kepala Muslim), mengaku paling tahu segala, dan mencoba memaksakan pendapatnya pada orang lain; menuduh orang yang tak mau menuruti nasehatnya sebagai Kafir, dan menyeret mereka ke pengadilan Syariah.

”Para Islamis radikal ini menyampaikan khotbah2 penuh kebencian, pembunuhan, dan bunuh diri, dalam nama Allah SWT. Para pemuda Arab yang jadi target kebencian Islamis, malah akhirnya gampang jadi murtadin. Malah sebenarnya, para Islamislah yang bertanggung jawab atas meningkatnya pemurtadan di kalangan anak2 muda gara2 kelakuan dan perkataan mereka. Apakah mereka (para Islamis) itu sadar akan kesalahannya?

Analisa

Pengarang artikel ini menyerang para Islamis karena memaksa pemuda2 Muslim jadi murtad. Kecenderungan murtad ini merupakan fenomena baru di dunia Arab, dan membutuhkan perhatian serius dari Muslimin moderat dan liberal seperti penulis itu sendiri.

Komentar

Orang bisa memahami kekecewaan sang penulis dalam mengamati meningkatnya ‘llhad’ (murtad) di kalangan ‘shabab’ (para pemuda) di seluruh dunia Arab, termasuk negaranya sendiri, yakni Kuwait. Aku merenungkan apakah dia tidak memikirkan alasan lain mengapa para pemuda tersebut menolak Islam. Contohnya, di tanggal 31 Mei, 2006, aku mencantumkan tulisan di website ini yang berjudul Para Muslim Mempertanyakan Islam. Tulisan ini membahas seorang pemuda dari Damaskus, Syria, yang mengisahkan perjalanannya dari Muslim taat jadi murtadin. Setelah banyak membaca dan melakukan pengamatan diri, dia mengambil keputusan untuk murtad. Ini sebagian pengakuannya:

“Karena aku berasal dari keluarga Muslim taat, maka aku pun jadi Muslim taat yang melakukan ibadah Islam secara rutin sebagai kewajiban agamaku. Aku dulu sangat percaya akan Islam. Aku membela Islam secara emosional dan penuh tekad. Akan tetapi, aku selalu merasa ragu dan mempertanyakan Islam tanpa menemukan jawabannya.

“Semua ketua2 agama terus-menerus mengatakan padaku: segala yang tertulis dalam Qur’an itu benar, dan semua yang bertentangan dengan Qur’an adalah salah. Jika kau ragu, maka itu perasaan yang berasal dari Setan. Jika kau terus merasa ragu, carilah perlindungan dari Allah SWT dan minta Dia untuk melindungimu dari setan dan iblis.

“Aku dulu percaya akan hal itu. Sewaktu aku tumbuh dewasa, aku semakin kuat memeluk Islam dan karenanya aku pun mulai membaca buku2 Islam, yang kuno atau modern, ultra konservatif dan yang liberal. Semakin banyak aku membaca … semakin aku merasa ragu. Pikiranku jadi penuh dengan pertanyaan2 yang tiada jawabnya.

“Aku tidak bisa menghilangkan keraguanku. Sebaliknya, keraguan itu malah tertanam dalam sekali di sudut gelap pikiranku, menunggu saat yang tepat untuk muncul dengan kuatnya menghadapiku.

”Suatu waktu, saat aku masih jadi Muslim taat, gagasan berani muncul di benakku. Aku pura-pura jadi atheis dan melakukan perdebatan dengan para Muslim taat. Sesungguhnya tujuanku adalah untuk meningkatkan kemampuanku berdebat, untuk menemukan kelemahan para atheis.

“Nah, aku pergi ke perguruan tinggi yang mengajarkan Syariah, karena letaknya dekat dengan Sekolah Hukum tempatku belajar. Aku menghampiri sekelompok Muslim berjenggot dan duduk bersama mereka. Aku mulai diskusi agama, mengemukakan argumen2 atheisku. Aku biarkan lidahku bicara dengan lancarnya untuk membuktikan posisi diriku sebagai atheis. Alangkah kagetnya diriku sewaktu mendapatkan mereka tidak bisa membantah argumen2ku!

“Untuk pertamakalinya dalam hidupku aku mulai membaca buku2 Islam sebagai seorang pengritik… Hal ini akhirnya membuatku tidak percaya agama dan meninggalkan Islam. Sungguh sukar menyarikan apa yang kubaca dan kudapatkan dalam beberapa kalimat singkat. Butuh berhalaman-halaman. Contoh kritikku terhadap agama dapat ditemukan dalam artikel2 yang kutulis di www.ladeeni.net

“Aku yakin banget bahwa Internet itu sangat berguna karena Internet menawarkan keterangan pada siapapun untuk membela pandangannya. Internet itu terbuka bagi kita tanpa batasan ruang … untuk menyampaikan pandangan kita. Jika bukan karena Internet, kita tidak akan tahu hal2 relijius dan non-relijius yang sedang terjadi di dunia Arab dan Islam saat ini. Mungkin sebentar lagi akan tiba saatnya di mana aku bisa bicara dengan bebas dan berani, dengan menggunakan nama asliku, dan mengatakan, “Ya, aku orang tak beragama, dan inilah alasan2ku.”

Kesaksian di atas bukanlah untuk menyangkal penemuan penulis “Kenapa ya Para Pemuda Arab pada Murtad?”, tapi untuk menambah keterangan bahwa banyak pula Muslim murtad gara2 ajaran Islam dan perilaku Muslim yang penuh kekerasan. Kisah pemuda Damaskus yang mengaku atheis menunjukkan globalisasi yang sedang terjadi di dunia saat ini, dengan Internet sebagai fasilitas bertukar pendapat. Hal ini juga menyebabkan banyak Muslim yang meninggalkan agamanya dan jadi murtadin atau atheis atau memeluk agama lain, terutama Kristen. Tidak peduli banyaknya terorisme Islam yang terjadi, gelombang murtad terus berkembang di abad baru ini. Tantangan yang dihadapi Islam sangatlah kuat dan kompleks, sehingga mantra2 “Islam adalah jawaban bagi segala persoalan” bagaikan gema di ruang kosong. Aku tidak heran jika semakin bertambah lagi para pemuda Arab yang murtad. ***

Bagian II

Kenapa ya

Para Pemuda Arab

pada Murtad?

“Limadha Yulhidu al-Shabab?”

Penulis: Jacob Thomas

Jum’at, September 05, 2008

Pada hari Senin, tanggal 28 Juli, 2008, aku memasukkan sebuah tulisan ke website FFI dengan judul “Kenapa ya Para Pemuda Arab pada Murtad?” Tulisan ini berdasarkan artikel yang pertama kali muncul di surat kabar Kuwait Al Jarida di tanggal 8 Juli, 2008. Penulisnya yang adalah wanita terpelajar menerangkan akan kekhawatirannya tentang kecenderungan murtad akhir2 ini di kalangan pemuda Kuwait.

Seminggu kemudian, wanita ini menerima komentar2 tentang tulisannya. Berikut ini adalah bagian kedua dari “Limadha Yulhidu al-Shabab?” yang diikuti oleh Analisa dan Komentarku.

“Minggu lalu, ketika aku menulis tentang fenomena murtad, aku tidak menyangka mendapat reaksi2 tertentu. Tampaknya aku gagal menjelaskan sudut pandangku. Sebagian besar komentar menyatakan perihal murtad merupakan hal yang sensitif tanpa menunjukkan pemikiran yang sempit. Ini tentunya merupakan hal yang baik. Sayangnya hal ini tidak tampak pada sebagian kecil komentar yang gagal mengerti makna sebenarnya tulisanku dan mereka dengan kasar mencelaku!

“Beberapa pembaca menyinggung kemudahan berkomunikasi di seluruh dunia, kecepatan perpindahan informasi, sebagai hal2 yang membuat Muslim jadi “sadar” dan lalu murtad. Para pemuda ini jadi paham akan berbagai fakta, teori, dan filosofi, yang akhirnya membuat mereka murtad. Aku setuju dengan pendapat mereka.

“Contohnya, di buku pelajaran Islam, dinyatakan bahwa epilepsi adalah tanda2 kerasukan jin. Pelajar cerdas dengan cepat akan memeriksa hal ini di lewat keterangan medis dan saintifik untuk mengetahui bahwa epilepsi terjadi atas sebab2 biologis; dan tiada hubungannya dengan jin atau makhluk halus. Kontradiksi akan keterangan agama dan sains mengakibatkan keraguan akan Islam dalam benak para pemuda Muslim. Jaman sekarang sih mudah sekali mengetahui kebenaran akan semua hal.

“Juga harus dipahami bahwa sikap murtad di kalangan pemuda Arab sangat berbeda dengan murtad yang terjadi di dunia Barat, di mana agama merupakan pilihan pribadi dan tidak dipandang sebagai hal utama. Murtad dari agama non-Islam di dunia Barat tidak dianggap sebagai cara hidup baru atau solusi dari masalah. Berbeda dengan murtad di dunia Islam. Jika kita melihat literatur dan diskusi Arab tentang murtad, kita menemukan bahwa llhad (murtad) dianggap sebagai solusi (al-Hal) bagi masalah negara dan jalan keluar dari keterbelakangan dan korupsi.

“Sudah jelas bahwa gelombang murtad yang terjadi adalah akibat usaha para Islamis (pemimpin umat Islam) yang ngotot ingin mengontrol semua aspek kehidupan, dan bukan hasil dari pengamatan Islam secara serius dan pengamatan pribadi akan masalah2 kehidupan. Dengan kata lain, pilihan para pemuda Muslim untuk murtad merupakan reaksi emosionaln atas fatwa2 yang dikeluarkan para Islamis. Terlebih lagi, sikap murtad ini bisa berkembang menjadi agama baru. Fenomena ini nampak pada banyak filsuf dan pemimpin spiritual Barat yang mengganti konsep Tuhan dengan konsep etika atau estetika, dengan hal enerji atau kehidupan; atau hal yang dikenal di dunia Barat sebagai Agama2 Era Baru (New Age Religions).

“Beberapa orang yang membaca tulisanku di tanggal 8 Juli menerangkan ada perbedaan antara llhad di kalangan muda di negara2 Teluk dan dunia Arab lainnya. Mereka menerangkan bahwa para Arab yang tinggal di luar Jazirah Arab jadi murtad gara2 kemiskinan, penindasan rezim diktator di negerinya. Tapi aku tidak percaya ada perbedaan antara kemiskinan materi dan kemiskinan moral dan spiritual pada para pemuda Arab Muslim. Di semua kasus, murtad merupakan sikap memberontak terhadap nilai2 tradisional, dan rasa haus akan kemerdekaan berpikir dan berpendapat.

“Beberapa komentator menyatakan bahwa orang yang berani diskusi tentang llhad atau murtad merupakan orang yang lemah moral. Aku anjurkan para komentator itu untuk sedikit berpikir lebih kritis dan melihat diri sendiri. Mengapa orang yang lemah moral peduli untuk mengurusi masalah pelik murtad dan menyelidiki penyebabnya? Kenapa orang lemah moral ini tidak pura2 saja sholat dan puasa, sambil tetap tampil sebagai Muslim sejati? Banyak orang yang menunjukkan keislamannya, padahal diam2 sudah murtad.

“Beberapa komentator lain membuat tentang prestasi hebat budaya Islam di Abad Pertengahan; dan ngotot bahwa Islam tetap tak tergoyahkan, dan Islam terus tersebar ke seluruh dunia. Mereka menolak untuk percaya bahwa memang ada pemuda2 dalam masyarakat mereka sendiri yang meninggalkan Islam dan murtad.

“Sebagai pengamatan akhir, yang kita butuhkan sekarang adalah sikap bertoleransi, dan juga melakukan pemikiran kritis dan keinginan untuk mendengar pihak lain. Ini adalah satu2nya jalan untuk mencapai keyakinan yang teguh, berdasarkan pemikiran logis dan bukan karena emosi dan sikap kolot.”

Analisa

Penulis menunjukkan sikap berani yang jarang tampak diantara penulis Arab dalam membahas kecenderungan murtad di dunia Arab. Dia menjelaskan bahwa sikap murtad para pemuda Arab merupakan reaksi emosional atas kontrol ketat para Islamis di banyak segi kehidupan di dunia Arab.

Komentar

Aku sangat kagum dengan penulis wanita ini yang foto wajahnya tercantum di tulisan2nya. Dia tidak pakai jilbab, dan tentunya hal ini pun dicela para Islamis. Banyak pengamatannya yang tepat tentang fenomena murtad di Kuwait, yang merupakan bagian dari dunia Arab.

Mungkin karena kurang ruang, dia tidak bisa menjelaskan tentang suatu masa dalam kebudayaan Islam yang mendukung kebebasan berpikir dan berpendapat. Contohnya, saat Kalifah Abbasid berkuasa (mulai 750M), Baghdad akhirnya menjadi pusat budaya kekalifahan Arab Muslim di abad ke-9. Penguasa Muslim membiarkan berbagai agama dan filosofi berkembang. Ilmuwan2 Muslim dan Kristen berpartisipasi dalam lingkungan yang dipengaruhi budaya Yunani tersebut. Di masa itu dikenal para pemikir rasionalis (Ikhwan al-Safa) yang yakin bahwa Islam dan filosofi Yunani tidak bertentangan. Mereka berpendapat bahwa agama adalah bagi orang2 yang lemah dan filosofi adalah bagi orang2 terpelajar! Meskipun begitu, mereka tetap bersikap toleran terhadap semua agama karena menganggap semua agama berguna bagi manusia.

Sayangnya, terjadi perubahan besar di dunia Islam sejak abad ke-11 dan 12. Kebebasan berpendapat dihentikan gara2 tulisan2 dan ajaran2 Al-Ghazzali (wafat di tahun 1111 M). Ahli Islam ini jadi sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran Islam. Akibat ajaran dan tulisannya, dunia Arab jadi berhenti berpikir bebas dan budaya Islam mengalami kemandegan.

Dalam bukunya yang berjudul “Ihya’ ‘Uloom al-Deen” (Kebangkitan Pengetahuan Agama Islam,) dia menjelaskan setiap hal yang harus dilakukan Muslim agar tidak menyimpang dari ajaran asli Islam. Seperti yang dinyatakan ahli Islam dari Mesir, “Setiap hal ditetapkan bagi Muslim: cara makan, tidur, bepergian, hubungan dengan istri dan anak, dll. Tiada celah yang tersisa untuk bisa bebas bersikap dalam kehidupan Muslim.” Al-Ghazzali bertanggung jawab atas tertutupnya pintu ijtihad. Sampai sekarang, seribu tahun kemudian, pintu ijtihad tetap saja tertutup rapat.

Mungkin di era globalisasi, dan meningkatnya penggunaan Internet di dunia Arab, akan berkibat sangat besar dalam masyarakat Arab Muslim. Mungkin hal ini akan membuat mereka sadar dan menyingkirkan segala tradisi dan hukum Islam yang kaku. Hanya waktu yang nanti bisa menjelaskan.

Secara pribadi, aku tidak yakin akan ada perubahan besar dalam dunia Islam. Meskipun aku menghargai dua tulisan penulis wanita Kuwait tersebut, aku rasa kesimpulannya agar kurang jelas. Aku kurang mengerti kalimatnya yang berbunyi “kita butuhkan sekarang adalah sikap bertoleransi, dan juga melakukan pemikiran kritis dan keinginan untuk mendengar pihak lain. Ini adalah satu2nya jalan untuk mencapai keyakinan yang teguh, berdasarkan pemikiran logis dan bukan karena emosi dan sikap kolot.”

Apakah sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa tukar pikiran antara para Islamis dan murtadin mungkin terjadi? Apakah dia lupa hal yang diperintahkan sahabat Nabi yakni Abu Bakr, sang Kalifah pertama, bahwa murtadin harus dipaksa kembali memeluk Islam dan kalau tidak mau maka harus dibunuh? Dalam sejarah Islam dikenal masa Huroob al-Radda. Sejak jaman itu, tiada Muslim yang boleh meninggalkan Islam, dan masuk agama lain atau jadi atheis. Jadi bagaimana mungkin akan ada dialog antar Islamis dan murtadin? Sekali saja Muslim bisa melihat kesalahan Islam, maka dia akhirnya akan menolak Islam.

Dan memang tidak lagi dapat dipungkiri bahwa kini semakin banyak Muslim meninggalkan Islam dan jadi atheis. ***

ParaPemuda Irak

Kehilangan Iman

Oleh: Sabrina Tavernise

Diterbitkan: 3 Maret 2008

Muath, 19th, bergabung dalam grup pemberontak di Baghdad akhir musim semi yang lalu untuk mencari menghidupi keluarganya (Johan Spanner untuk The New York Times)

BAGHDAD: Setelah hampir lima tahun perang, banyak permuda Irak, letih karena terus-menerus mendapat tekanan langsung dari kekerasan agama mereka yang ekstrim. Mereka telah dikecewakan oleh para pemimpin agama dan skeptik akan iman yang mereka khotbahkan.

Dalam dua bulan wawancara dengan 40 pemuda Irak di lima kota, saya menangkap pola yang timbul, baik dari golongan miskin maupun kelas menengah, mengecam para imam atas kekerasan dan keterbatasan yang mempersempit hidup mereka.

“Saya membeci Islam dan para imam karena mereka membatasi kebebasan kami setiap hari dan perintah mereka menjadi beban atas kami,” kata Sara Sami, seorang pelajar di Basra. “Kebanyakan gadis di sekolah saya benci terhadap orang-orang Islam yang mengontrol kekuasaan karena mereka tidak layak untuk bertindak sebagai pengatur.”

Atheer, 19th, dari golongan miskin, yang sangat dekat bertetangga dengan kaum Shiah di selatan Baghdad, berkata: “Tokoh-tokoh agama itu semua penipu. Anak muda tidak percaya kepada mereka. Pemuda seusia saya tidak lagi tertarik pada agama.”

Sikap yang muncul di Irak ini adalah reaksi dari kecenderungan tumbuhnya keagamaan di kalangan pemuda di seberang, Timur Tengah, dimana agama telah menggeser nasionalisme sebagai persatuan ideologi. Manakala ekstrimis agama diakui oleh sejumlah kalangan muda di bagian lain dari dunia Arab, Irak menawarkan uji kasus tentang apa yang bakal terjadi kalau teori ekstrimis ini diterapkan.

Merokok dilarang. Musik dilarang. Memanjangkan rambut juga tidak diperbolehkan, Kekecewaan terhadap para pemimpin Islam semakin berkembang.

Sangat tidak jelas apakah gejala ini menandakan bahwa mereka semua akan berpaling dari agama. Sejumlah besar kaum soleh masih dominan dalam kehidupan pribadi pemuda-pemuda Irak, dan para pemimpin agama, walaupun sikap skeptis meningkat, masih mempunyai kuasa yang besar. Mengukur derajat agama lebih jauh, adalah hal yang sulit di Irak, karena terbatasnya akses untuk kota-kota yang jauh dari Baghdad.

Namun gejala ini sudah tercatat, paling tidak secara anekdot, dalam pemilihan yang dibuat oleh para pemuda Irak. Para profesor melaporkan sulitnya memperoleh siswa lulusan kelas agama. Pengunjung sholat jum’atan semakin menurun, bahkan di daerah-daerah yang banyak jumlah umat dan imamnya seperti Baghdad dan Fallujah. Dalam dua kunjungan khotbahnya Moktada al-Sadr musim gugur yang lalu, saya melihat bahwa jumlah pengunjung yang datang jauh lebih sedikit dari tahun 2004 atau 2005.

Pola ini, kalau terus begini, akan mengarah pada kelemahan kuasa politik dari para tokoh agama Irak. Sebagai tanda setuju, partai-partai politik berusaha menggali referensi-referensi agama.

“Pada mulanya, mereka memberikan pikiran dan mata mereka kepada para imam, karena percaya,” kata Abu Mahmoud, seorang imam Sunni moderat yang kini bekerja sebagai pemrogram ulang (deprogramming) pemikiran ekstrim dalam penjara Amerika. “Sangat menyakitkan untuk diakui, namun keadaan telah berubah. Rakyat telah kehilangan sangat banyak. Mereka mengatakan kepada para imam dan tokoh partai: Kalian menyebabkan kami demikian.”

“Tatkala mereka memenggal seseorang, mereka berucap: ‘auwlohuakbar’, mereka membacakan ayat quran,” kata seorang sheik moderat Shiite dari Baghdad. “Para kaum muda mengira bahwa itu Islam. Demikianlah Islam gagal, bukan saja di depan mata para pelajar, tetapi juga dalam komunitas.”

Seorang profesor wanita dari Universitas Hukum Baghdad, yang mengidentifikasi dirinya sebagai Bushra, berkomentar mengenai murid-muridnya: “Mereka telah mengubah pandangan mereka tentang agama. Mereka mulai membenci agama laki-laki.Mereka membuat banyak lelucon karena mereka muak akan hal tersebut.”

Bukan itu saja. Saddam Hussein mendorong agama dalam masyarakan Irak di tahun-tahun akhir pemerintahannya, membangun mesjid-mesjik Sunni dan banyak menyuntikkan agama ke dalam kurikulum sekolah umum. Jangan salah, hal itu hanya untuk melayani kebutuhan otoritasnya semata. Kaum Shiite, dianggap sebagai tekanan politik dan ancaman bagi kekuatan Hussein serta dimata-matai. Pemuda Shiite yang beribadah dipandang sebagai seorang subversi politik dan menarik perhatian polisi.

Karena alasan ini, invasi Amerika dirasa sangat manis bagi kaum Shiite, yang pada saat itu dapat beribadah dengan bebas. Dalam waktu singkat mereka kemudian menjadi kekuatan politik yang potensial, sebagai para pemimpin politik agama yang menampilkan tindakan nyata atas sakitnya masa lalu dan respek terhadap hirarki agama Shiite.

“Setelah tahun 2003, anda tidak dapat meletakkan kaki di mesjid kaum Husein karena penuh sesak dengan orang yang beribadah,” kata Sayeed Sabah, seorang pemimpin agama Shiite dari Baghdad, menunjuk tempat ibadah kaum Shiite.

Agama telah bergerak sangat drastis menuju ke arah golongan Shiite, namun sering dengan cara yang tidak nyaman dan memalukan. Para militer menawarkan kursus-kursus quran. Judul-judul muncul secara picisan. Dalam kerabat Abu Mahmoud, seorang tukang jagal yang sama sekali buta akan Islam, menjadi pemimpin mesjid.

Seorang imam Shiite moderat, Sheik Qasim, mengingat akan seseorang yang berpendidikan rendah, berpenghasilan minim, yang biasa bersiul di atas sepedanya melewati kepadatan lalu-lintas pusat kota Baghdad, yang kemudian menjadi pemimpin agama.

“Saya pikir saya akan keluar dari mobil, mencengkeram dan menamparnya!” kata sheik ini. “Orang-orang macam begini tidak layak atas posisi mereka.”

Seorang pegawai Departemen Pendidikan di Baghdad, seorang sekuler Shiite, menggambarkan temuan iman baru ini sebagai: “Tampaknya mereka ingin mengenakan pakaian baru yang bergaya.”

Aliran Sunni di pihak lain, juga mengalami benturan keras dengan jumlah pengunjung mesjid yang semakin menurun, namun kemudian berubah menjadi pangkalan kelompok-kelompok ekstrimis, baik orang Irak sendiri maupun dari golongan pendatang, untuk mempersiapkan diri melawan Amerika.

Zane Muhammad, anak jalanan yang berusia 19 tahun dengan wajah polosnya dan penasaran, suka mengamati lingkungan tempat tinggalnya di Baghdad, dengan rasa ingin tahu tatkala untuk pertama-kalinya dia melihat seorang Islam masuk ke sebuah salon cukur, kedai teh dan toko kayu sebelum masuk mesjid. Orang-orang ini bukannya miskin atau tidak berpendidikan. Zane hanya fokus akan siapa mereka dan apa saja yang mereka lakukan. Sampai pada suatu pagi, tatkala ia sedang menunggu bis sekolah lewat, dia melihat seorang laki-laki berjalan ke rumah tetangganya, seorang profesor di sebuah perguruan tinggi yang waktu itu masih belum diketahui olehnya. Laki-laki misterius itu tiba-tiba menembak tetangganya itu tiga kali dan berjalan tenang kembali ke mobilnya “seperti dia meninggalkan toko kelontong”

“Tidak seorangpun yang berpikir,” kata Zane dalam sebuah wawancara bulan Oktober. “Kita menggunakan pikiran hanya untuk mengetahui apa yang harus kita makan. Hal inilah yang membuat saya sedih. Kita hanya mendengar dan percaya mereka.”

Tahun 2006, walaupun orang-orang yang mengambil bagian dalam kekerasan mulai merasa khawatir, Haidar, seorang putus sekolah, dengan bangganya menyampaikan kepada keluarganya bahwa dia telah mengikut seorang imam Shiite dalam pertempuran melawan serdadu Amerika pada musim panas 2004. Dua tahun kemudian, dia menjadi bagian dari kawanan gangster.

Seorang anggota militer muda telah menjadi budak ganja dan senjata. Dalam tiga tahun, ia telah menyaksikan lima pembunuhan, kebanyakan orang Sunni, termasuk seorang supir taxi yang dibunuh dan taxinya dirampas.

Juga bagi para pemuda Sunni dengan masa lampaunya yang pahit. Mereka diculik oleh Al Qaeda di Mesopotamia, berada di lingkungan asing dari zaman pemerintahan abad ke tujuh layaknya. Selama wawancara dengan sejumlah remaja Sunni di penjara Bahdad di musim panas bulan September, beberapa di antara mereka menyatakan lega karena dipenjara di sana, sebab mereka diperkenankan memakai celana pendek, kostum yang dapat menyebabkan mereka dihukum, jika mereka berada di kalangan sendiri.

Sebagian orang Irak berargumen bahwa politik yang berpijak pada agama itu lebih berkenaan dengan identitas daripada iman. Kaum Shiite memilih partainya dalam pemilu tahun 2005, itu sebenarnya lebih karena faktor dukungan jumlah suara, daripada kemenangan agama terhadap sekuler.

“Kami bergumul untuk membuktikan jati-diri kami,” kata seorang wartawan muda Shiite dari kota Sadr. “Kami malu akan keberadaan kami, bukan agama kami.”

Perang merambah semakin luas, para pemuda dari kedua kelompok semakin banyak yang terlibat. Kriminalitas mulai memakai para remaja dan anak-anak laki-laki untuk melakukan pembunuhan. Jumlah narapidana remaja islam di Amerika meningkat tujuh kali lipat dari bulan November sampai April, dan penjara utama Irak di Baghdad untuk anak muda bertambah tiga kali lipat.

Namun tatkala para pemuda ini terjun lebih aktif dalam peran kekerasan, motivasi mereka lebih lemah dari para pemeluk agama yang dewasa. Dari 900 napi remaja di di penjara Amerika dalam bulan November, tidak lebih dari 10 persen yang mengaku berperang karena jihad terhadap militer Amerika. Sekitar sepertiga dewasa mengaku demikian.

Seorang sipir wanita di Amerika mengatakan, menurut dia, hanya sepertiga dari para napi wanita yang hampir semuanya kaum Sunni, bersembahyang.

“Sebagai kelompok, mereka tidak religius,” kata Mayor Jendral Douglas Stone, kepala penjara militer. “Waktu kami tanyakan apakah yang mereka lakukan itu karena jihad, mereka menjawab tidak.”

Muath, pemuda Sunni kerempeng 19 tahun, dengan mata yang sayu dan pipi cekungnya, tipikal. Dia sedang menjajakan kartu HP dan kembang plastik, berjuang menghidupi ibu dan lima adiknya, tatkalau ditemui oleh seorang pemuda sekitar 30-an yang menawarkan dia uang tunai di Baghdad barat akhir musim semi yang lalu untuk ikut dalam kelompok pemberontak, yang bertujuan membuat bisnis yang berbau sektarian. Muath, satu-satunya tulang-punggung keluarga itu setuju. Tiba-tiba seluruh keluarganya dapat menikmati daging lagi, demikian tuturnya dalam wawancara bulan September.

Sesungguhnya, paling tidak sebagian dari kekerasan di Baghdad mempunyai tujuan uang. Seorang sipir di penjara Kadhamiya, dimana Muath ditahan pada musim gugur, mengatakan bahwa rekaman aksi pemenggalan laku jauh lebih mahal daripada rekaman eksekusi tembak di pasaran CD, yang menjelaskan alasan mengapa kafir-kafir yang diculik itu disandera dengan ancaman penggal. (Jadi, para islamis itu lebih suka menggorok leher orang krn rekaman VCD-nya akan lebih mahal dr pd kalo ditembak. Astapiloohh…. –adm)

Ketika Muath ditahan tahun lalu, polisi menemukan dua sandera Shiite, kakak-beradik, di sebuah rumah yang ditunjuk oleh Muath. Photo-photo menunjukkan bahwa kedua orang itu melotot ke arah kamera, Bilur-bilur gelap meliputi seluruh tubuh mereka.

Kekerasan melawan Amerika, tampaknya indah jika dilihat dari jarak jauh.

“Saya pernah menyukai Osama Bin Laden,” kata seorang pelajar puteri Irak, 24 tahun mengaku. Dia mengingat bagaimana dia dulu merasa sebelum perang merambah wilayah asalnya Baghdad. 11 September 2001, itu adalah perlawanan terhadap supermasi Amerika yang memuaskan, dan kematian-kematian itu adalah abstrak.

Sekarang, pelajar itu mengutip keluhan umum: Sekolahnya memperketat aturan. Para penjaga melarang dia berpakaian mini, dia menutup kepalanya untuk keamanan.

“Sekarang saya benci Islam,” katanya, sambil duduk di ruang tamu keluarganya yang sederhana di pusat Baghdad. “Al Qaeda dan laskar Mahdi telah menyebarkan kebencian. Banyak orang dibunuh sia-sia.”

Para orangtua mengadakan penjagaan ketat untuk melindungi anak-anak mereka dari petaka. Abu Tahsin, seorang Shiite dari Baghdad utara, mengatakan bahwa tatkala anggota keluarganya membangun sebuah mesjid Shiite, mereka dengan sengaja tidak mau mendaftarkan nama mereka pada pemimpin agama di sana, walaupun untuk itu mereka akan mendapat banyak kemudahan. Alasannya adalah karena mereka tidak mau dikaitkan dengan salah satu kelompok agama utama Shiite yang mengontrol Baghdad.

Di Falluja, sebuah kota Sunni di sebelah barat Baghdad, sudah sangat dikuasai oleh Al Qaeda. Sheik Khalid al-Mahamedie, seorang imam moderat mengatakan bahwa para ayah sekarang datang ke mesjid bersama putera-putera mereka untuk mendapatkan kursus Qur’an. Keluarga-keluarga yang dahulunya takut akan anak perempuan mereka yang menginjak dewasa, kini lebih takut akan anak-anak laki mereka.

Sebelumnya, para orangtua mengingatkan putera mereka agar tidak merokok atau minum alkohol,” kata Muhammad Ali al-Jumaili, seorang ayah dengan puteranya yang berusia 20 tahun di Falluja. “Sekarang segenap tenaga mereka dikonsentrasikan pada keterpisahan dengan terorisme.”

Para pencari mangsa itu tidak kenal belas kasihan, sebaliknya, mereka cerdas, mengiming-imingkan hal-hal yang disukai kaum muda. Stones menggambarkan mereka seperti mucikari yang menawarkan janji prospetif terhadap para pelacur. Para sipir penjara di pusat penjara Amerika mengatakan bahwa kelompok tawanan Al Qaedalah yang paling banyak bertanya dalam setiap pertemuan kelompok dan yang paling baik mempersiapkan diri untuk itu.

Rekruiter Al Qaeda mendekati Zane Muhammad, di kampus PT dengan menawarkan les bahasa Inggris. Kursus itu sebenarnya sudah didambakan Zane pribadi selama berbulan-bulan. Tatkala dia tau apa di belakang orang ini, dia dengan sopan menolaknya. “Ketika anda berbicara dengan mereka, anda menemukan orang-orang moderen, sangat cerdas,” kata Zane, yang berpura-pura sebagai Islam hanya untuk menutup kecurigaan, padahal dia seorang murtadin Shiite.

Populasi yang dijadikan mangsa adalah golongan miskin dan tidak berpendidikan. Sekitar 60 persen napi di penjara Amerika adalah buta huruf yang bahkan sama sekali tidak dapat membaca Qur’an, yang dikhotbahkan oleh para rekruiter.

Keadaan ini mengarah kepada situasi yang janggal. Seorang pemuda napi, pasien dari Abu Mahmoud, telah dicuci otak bahwa dia harus membunuh kedua orang-tuanya jika dia telah bebas, karena mereka menikah dengan cara yang kurang Islami!

Muncul permainan baru di antara para wartawan Baghdad. Jika mereka melihat seorang berturban di TV, mereka berlomba menciptakan guyonan. Ada yang membuat peringatan agar tidak memberikan nomor HPnya kepada orang beragama.

“Kalau dia tau nomor HPmu, dia akan mencuri pulsamu,” kata seorang wartawan. “Para sheik sedang menciptakan masyarakat kafir.”

***

[Kontributor laporan: Kareem Hilmi, Ahmad Fadam dan Qais Mizher]

*Translator: by Adadeh, and DHS.

Sumber:

http://indonesia.faithfreedom.org/forum/kenapa-ya-para-pemuda-arab-pada-murtad-t28104/

*Info: Menembus blokir website —http://www.newipnow.com

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Mualaf

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: