RSS

JIBRIL, IBLIS YG MENYAMAR

15 Aug

JIBRIL

AHLI MENYAMAR

Secara singkat, inilah keberadaan Malaikat Jibrilyang dipercayai oleh Muslimsebagai sosok pewahyu firman Auwloh, sepertiyang disarikan dari beberapa literatur Islam yangteramat sedikit tentang Jibril. Padahal peran Jibriladalah identik dengan Islam. Tanpa dia tak adaAl-Quran dan Islam dan Muslim! Inilah sarikutipan dari apa yang dikatakan dan yangdipercaya oleh para Muslim tentang sangpenyampai wahyu. (re: Jibril as Dalam Tiga KitabSuci, by Manshur Abdul Hakim, p.36-42).

Jibril, sebagaimana malaikat-malaikat mulialainnya, dicipta dari cahaya, sehingga takseorang pun manusia biasa yang sanggup melihatnya sesuai bentuk aslinya.Namun nabi-nabi Auwloh swt. dipercaya memiliki keistimewaan, sehingga mampumelihat para malaikat. Tak seorang pun dari kalangan umat Islam yang pernahmelihat Jibril sesuai bentuk aslinya, selain Muhammad.

Berdasarkan hadis-hadis nabawi, Rasulullah pernah melihat Jibril dalambentuk aslinya sebagaimana Auwloh telah menciptakannya. Dan itu disaksikannyasebanyak dua kali. Selain itu, beliau juga melihatnya dalam banyakbentuk yang berbeda-beda. Disamping Muhammad, para sahabatRasulullah juga pernah melihat Jibril dalam bentuk samaran sebagai manusiabiasa, lebih dari sekali, di tempat dan dalam keadaan yang berbeda-beda.

Tradisi islam bercerita bahwa Jibril pernah mendatangi Rasulullah dengan menyamarseperti sahabat Dihyah bin Khalifah Al-Kalbi dan seperti sosok seorang a’rabiy(Arab pedesaan). Ia juga pernah mendatangi beliau dalam bentuk aslinya,sebagaimana Auwloh swt telah menciptakannya; memiliki 600 sayap. Setiap duasayap dipisahkan oleh jarak sejauh antara Timur dan Barat.Beliau (Muhammad) melihat sesuai bentuk aslinya sebanyak dua kali, yaituketika ia turun dari langit ke bumi, dan ketika berada di Sidratul Muntaha, didekat Jannatul Ma’waa (surga tempat kembali). Sebagaimana firman Auwloh swtdalam kedua peristiwa di bawah ini, menurut pendapat banyak sahabat beliau,antara lain Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Dzar, dan Aisyah ra,“Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyaiakal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli,sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambahdekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busurpanah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya(Muhammad) apa yang telah Auwloh wahyukan” (QS. 53:5-10). [Perhatikan bahwakata “Jibril” dalam tanda kurung, adalah sisipan penterjemah Quran, bukan teks asliQuran].

Maka apakah kamu (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apayang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu(dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Didekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika SidratulMuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya”. (QS.53:12-16).

[Perhatikan bahwa kata “Jibril” kini tidak tertulis dalam tanda kurung. Olehpenterjemah, itu dimasukkan sebagai aslinya kata-kata Quran, padahal lagi-lagiitu hanyalah sisipan mereka saja].

Pada riwayat Ahmad dalam Musnah-nya, Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah telahmelihat Jibril dalam rupa aslinya. Ia memiliki 600 sayap. Setiap sayap menutupufuk (antara langit dan bumi). Terjatuh dari sayapnya mutiara dan yaqut(sejenis batu mulia) yang berwarna-warni”.

Disampaikan lebih jauh, “Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman (Auwlohyang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan,yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Auwloh yang mempunyai ‘Arsy, yangditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya” (QS 81:19-21).

[Perhatikan sisipan-sisipan manusia penterjemah (dalam tanda kurung) yangbisa digelincirkan dari makna asli surgawinya menjadi makna insani].

SANGGAHAN TERHADAP KE-JIBRIL-AN QURANIK

Siapakah Jibril?

Muslim bisa berbicara banyak sekali atas sosok ghaib yang satu ini. Tetapiberapa kalikah Quran tegas-tegas berbicara tentang Jibril dengan nama Jibril?

Ternyata hanya dua kali: sekali dalam kapasitasnya menurunkan wahyu Auwloh(QS.2:97,98), peristiwa lainnya dalam kisah cekcok Muhammad dengan paraistrinya, dimana nama Jibril dipakai Muhammad untuk mengancam mereka yangmemboikot beliau (QS.66:4). “Jibril-jibril” selainnya hanyalah sisipan, asumsidan interpretasi yang kacau dari para Muslim sendiri seperti yang diperlihatkandi atas.

Mana otoritasnya?

Otoritas wahyu harus dibedakan dengan otoritas non-wahyu, dan ini yang seringdicampuradukkan oleh ulama Islam secara keliru. Namun tidak dicampuradukkan oleh Kitab-kitab Suci Tuhan yang manapun termasuk Quran.

Yesus mengingatkan kita terhadap kata-kata tentang sorga/alam ghaib danakhirat, dihadapkan dengan kata-kata tentang duniawi, “kata-kata manusia”yang mendongeng agar tidak dijadikan otoritas seperti wahyu. Hanya Yesus-lahsatu-satunya sosok yang tahu akan alam sorga, karena hanya Dia-lah yang telahdatang dari sana:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kamiketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidakmenerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengankamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkatakatadengan kamu tentang hal-hal sorgawi? Tidak ada seorang pun yang telahnaik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak

Manusia (Yohanes 3:11-13).

Jadi jikalau sosok ghaib Jibril hanya dapat dikisahkan dari sumber non-wahyudiluar Quran—padahal itu menyangkut rahasia-rahasia ruh dalam alam akhiratyang hanya bisa diungkapkan lewat wahyu– maka bagaimana Anda dan sayadapat mempercayai kisah asumtif yang dicetus begitu banyak (dan begitu gampang) lewat tradisi manusia belaka? Apalagi diasumsikan bahwa Jibril yang ahlimenyamar itu identik dengan malaikat Gabriel di Alkitab yang tak perlu menyamar?

Missing link

Lihatlah buku dari Manshur Abdul Hakim: “Jibril as, Dalam Tiga Kitab Suci(Taurat- Injil– Al-Quran)”. Sekalipun demikian judulnya, namun isinya tidakmemperlihatkan suatu hal apapun yang dapat menyamakan sosok Jibril Quranikdengan Gabriel Biblikal yang datang dari sisi Tuhan Elohim. Satu dua eventtertentu yang tampak sekilas samar seperti sama, namun itu hanya kulit luarnyayang sama. Tatkala disimak lebih lanjut akan tampak sifat kedangkalan dan keaspalannya (asli tapi palsu, simak misalnya kisah kunjungan dan percakapanJibril kepada Maryam). Padahal Quran sebagai wahyu yang datang kemudianseharusnya memperkaya pemahaman spiritual dan menghakikikan kembali apayang dipahami arus besar manusia secara dangkal.

Jangankan dicoba cari sinkronisasi antara Quran dengan Alkitab, sesama internalQuran dengan Hadis-pun (dan hadis yang satu dengan yang lainnya pun) seringberbenturan! Salah satu contoh yang paling mencolok perbenturan internalnyaadalah peristiwa israa’-mi’raj. Muslim mengelu-elu mikraj yang dikatakansebagai pintu pemberlakuan tiang Islam, yaitu penegakan kewajiban sholat

5 waktu. Hukum Auwloh yang DIJEMPUT langsung oleh Muhammad di SidratulMuntaha ini tentu jauh lebih penting ketimbang kunjungan manapun sepertiisraa’ Muhammad ke mesjid Al-Aqsa. Namun anehnya peristiwa israa’ disebutkanoleh Jibril dalam Quran, sementara ia lalai menampilkan berita mikraj akbar di

sana! Jibril melalaikan mikraj di Quran situ, sementara Auwloh menegaskan diriNyayang kebal-lalai: “Tidaklah Kami luputkan sesuatupun di dalam Kitab” (Qs6:38). Untuk menutupi kelalaian ini maka agaknya “Jibril” terpanggil untukmenyusulinya dalam Hadis (?). Apa lacur, hadisnya malah saling bertentangansecara mencolok, bahkan menabrak Quran lagi dalam kisah-kisah yangdisampaikannya.

Shahih Bukhari (no.221) misalnya memunculkan Jibril sejak di Mekkah di rumahMuhammad, membedah dadanya serta membersihkannya dengan air zamzam…baru ia dilayakkan untuk ditarik oleh Jibril ke langit dunia– bukan perjalanan israa’ke mesjid Al-Aqsa– melainkan mikraj langsung ke surga dan mendapatkanperintah wajib sholat, dst. Jadi tak ada kendaraan yang berupa burung Buraq, dantak ada Al Masjidil Haram yang mengawali perjalanannya, juga tak ada pen– transit–an di Al Aqsa. Ini tentu menabrak Quran.

Sebaliknya Shahih Muslim (bab 52, p.44) menarasikan Muhammad didatangiBuraq (bukan Jibril). Tidak dari Baitullah, tetapi dari satu tempat dimanaMuhammad melakukan perjalanan ke Baitul Magdis/Al Aqsa bersama Buraq, barukemudian muncul Jibril yang menawarkan kepada Nabi untuk memilih segelaskhamar ataukah segelas susu. Perjalanan seterusnya adalah naik ke atas langitbersama Buraq dan Jibril.

Hanya fisikal imajinatif

Dalam begitu banyak kisah yang didongengkan tentang sosok Jibril, apa yangdipentingkan oleh Muhammad dan para sahabatnya adalah justru penampakanfisik imajinatif belaka dari Jibril, yang mana memang “merdu” untuk didongengkankepada para pendengar pada masanya. Misalnya dikatakan bahwa Jibrildatang dengan rupanya yang asli, tetapi asli yang bagaimana itu telahdisamarkan bahkan disembunyikan deskripsinya. Ibnu Mas’ud dalam Shahih Al-Bukhari meriwayatkan, “Nabiyullah (Muhammad) saw. telah melihat Jibril datangdengan mengepak-ngepakkan sayapnya, berwarna hijau, yang menutupi antaralangit dan bumi”. Dalam rupanya yang asli Jibril dikatakan memiliki sayapsebanyak 600 (finite, terbatas), yang menutupi seluruh ufuk timur ke barat(infinite, tak terbatas). Pada riwayat yang lain dikatakan spasi-antara jaraksayap yang satu dengan yang lain adalah selebar ufuk timur ke barat. Asli yang

manakah? Muslim lupa, bahwa spasi yang demikian tentu mustahil, karena ituhanya berarti bahwa tubuh asli Jibril akan menjadi tak terhingga (infinite)besarnya! Tak ada mahkluk yang diciptakan dengan dimensi asli tak terhingga.

Sebaliknya, bilamana tubuhnya hanya memuat 600 sayap yang setiap sayapberjarak relatif pendek (katakanlah satu atau beberapa hasta), maka kekuatanpangkal sayap (ketiaknya) yang beberapa hasta itu mustahil dapat menopangbentangan sayapnya yang tak terhingga ke ufuk jagat raya! Ini tentu perlu diberitafsir tersendiri kenapa magnitude sayapnya diberi dua dimensi: finite (600lempeng) dan infinite (selebar ufuk). Para sarjana cenderung menduga bahwa

Muhammad total berimajinas i tentang Jibril. Atau bila tidak, beliau hanyamembual sekenanya secara hiperbolis! Mungkin ia pernah dengar-dengaran darikisah orang Yahudi atau Nasrani bahwa para Serafim (malaikat di dekat Tuhan,Yesaya 6:2) di Alkitab mempunyai 6 sayap lalu membualnya menjadi 600, tetapikarena kebablasan, maka ia terjebak dalam bualan tentang bentangan sayapyg takterhingga!

Ingat bahwa Muhammad juga “membualkan” tubuh Adam dengan tinggi badanyang konyol, yaitu setinggi 60 hasta (yaitu 30 meter!), sementara generasi Nuh(tidak sampai generasi ke-10 sejak Adam) tidak ada yang tercatat berukuransuper raksasa! Bila ada, pasti ukuran bahtera Nuh akan lain ceriteranya, karenaketinggian dan kelebaran dek dan cabin kapal harus mengakomodasi Nuh raksasa

tatkala ia berdiri maupun baring.

Pepesan kosong

Arah datangnya Jibril digambarkan makin dekat dan makin dekat kepadaMuhammad namun tidak mungkin terlalu dekat, satu dan lain sebab karena Jibrilmuncul sebagai utusan dalam kemuliaan yang asli-rupa (Ar-Rasul Al-Karim)demi menyampaikan suatu wahyu yang tentu teramat sangat strategis yangditunggu-tunggu. Tetapi Muslim yang menunggu-nunggu itu ternyata kecele, karena mereka hanya mendapat pepesan kosong-wahyu, sebab Qurandalam kata-kata aslinya hanya berkata: “Lalu dia menyampaikan kepadahambaNya (Muhammad) apa yang telah Auwloh wahyukan” (QS. 53:10). Tak adarujukan tentang apa yang telah disampaikan dalam penampilan Jibril yang palingdahsyat dan mulia itu. Kembali wahyu disamarkan atau dikosongkan oleh yangmewahyu!

Dikatakan kepada umat Muslim bahwa Jibril terakhir kali menampakkan dirinyadalam rupanya yang asli, yaitu “di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surgatempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi olehsesuatu yang meliputinya”.(QS.53:12-16).

Pertanyaan kita semua—Muslim dan non-Muslim– apakah ini yang dirujukkankepada peristiwa mikraj? Jikalau bukan, maka apakah Muhammad mungkindiizinkan Auwloh untuk masuk kembali ke Sidratul Muntaha tanpa tujuan khusus?Jikalau ya (benar mikraj), maka gugurlah semua “kisah 1001 malam” tentangisraa’-mikraj, karena baik Shahih Bukhari maupun Muslim tidak menggambarkandi situ sosok Jibril dalam rupanya yang asli dengan bentangan 600 sayapnyayang seharusnya infinite (tak terhingga) menutupi seluruh ufuk, termasuk ufuk langit surga itusendiri!

TAFSIRAN YANG TIDAK KREDIBEL

Sementara Quran melemahkan umatnya (discourage) agar tidak usah menyidikRuh, termasuk Jibril (lihat QS. 17:85), Alkitab justru giat mendorong umatmanusia untuk menguji setiap Roh yang muncul. Ini perlu karena Syaitan-punbisa menyamar sebagai Malaikat Terang (lihat, 2Korintus 11:14). Maka kita seharusnyaawas bahwa Ruh yang tidak di-uji sama sekali seperti halnya dengan Jibril,bisa-bisa adalah samaran dari malaikat kegelapan yang tengah menyamarsebagai malaikat terang. Apalagi dia sendiri memang sering menyamar dan menyerukan agar perkara ruh tak usah “diusik”. Padahal kita tahu bahwaMuhammad sudah pernah “kecolongan wahyu setan” (Qs.22:52, 53) yangsempat dikira wahyu Auwloh dan tercatat sesaat sebagai bagian dari Quran.

Jangan lupa bahwa Muhammad dan semua orang juga sudah pernah ditepukoleh Setan ketika lahirnya (kecuali Isa dan Maryam, lihat Shahih Bukhari no.1493), sehingga semuanya termeterai sebagai mahkluk yang ter-akses olehkuasa setan. Ini adalah fakta gamblang yang menunjukkan bahwa manusia tidakberdaya menghadapi setan yang bisa menyentuh dan menyesatkan kita (bahkanmerasuk), tetapi kita tidak mampu memukulnya balik dengan kekuatan sendiri.Itu sebabnya semua orang telah jatuh dalam penyesatan setan dan berbuatdosa, termasuk para nabi dan Muhammad (47:18 dll).

Muhammad cenderungmenuduh orang-orang sebelum dia, khususnya Ahli Kitab Yahudi/Nasranisebagai pemalsu dan penyesat Kitab Suci, dan yang harus dimusuhi. TetapiYesus justru mewanti-wanti para pengikutNya akan tampilnya Mesias/ nabi-nabipalsu yang khususnya ada sesudah Dia, bukan yang sebelumnya! Yang sudahbenar dari Tuhan selalu mungkin terancam oleh kepalsuan mendatang, bukan

sebaliknya. Jadi yang di depan itulah yang berbahaya, yang harus diwaspadaidan didoakan!

Para komentator Quran menyimpulkan bahwa Muhammad pada awalnya tidakpernah paham akan ruh Auwloh dan pewahyuan. Membaca Quran dengan seksamaakan memperlihatkan bahwa Muhammad tadinya hanya mengerti bahwa Auwlohlah(dan bukan Jibril yang belum dikenal atau dipahaminya) yang berbicaradengan para nabi Israel dulu, tanpa ada perantara siapa-siapa, baik kepadaAdam, Nuh, Abraham, Musa dan seterusnya sampai kepada Isa. Bahkan sampaikepada Zakharia-pun, Muhammad tetap memahami bahwa Auwloh-lah (dan bukanJibril) yang berbicara sendiri kepada Zakharia, padahal untuk urusan kali ini,Tuhan justru mengirim malaikat Gabriel-Nya kepada Zakharia (baca SuratMaryam 19:1-15).

Jadi tampak Muhammad terjebak dalam ketidak-tahuannyaakan siapa yang berwahyu kepada seseorang, lalu mencapur-adukkan antara

Auwloh, Jibril, dan setan. Dan ini disaksikan oleh Quran, yang kelak di Medinasetelah makin banyak mendengar dari para Ahli-Kitab disana, beliau terpaksa“mengulangi” pewahyuan dengan revisi-revisi dan update yang perlu. Lihatrevisinya dalam Surat 3:39, dimana kini para Malaikatlah (jamak) – dan bukanAuwloh– yang berkata-kata dengan Zakharia!

Mengurut dari sumber awalnya pengetahuan Muhammad akan ruh, kita bisamelihat ketika beliau merasa dikunjungi oleh ruh di gua Hira. Ia langsungmenyangka bahwa ia telah di kunjungi oleh setan atau ruh jahat. Melihat gayagayapendekatan ruh tersebut , mungkin pendapat Muhammad ini tidak salah.Soalnya ruh tersebut tidak menampakkan otoritas surgawinya, tidak pulamemperkenalkan jati dirinya kecuali menteror dan memaksakan Muhammaduntuk membaca kalimat yang tanpa guna untuk kemanusiaan (bahkan salahsecara sains, lihat ayatnya di gua Hira, Surat 96:1-5).

Hanya istrinya (bersamaWaraqah bin Naufal) yang menyakinkan dia bahwa ruh istimewa itu bukansetan tetapi malaikat yang dari Auwloh. Tetapi Waraqa meyakinkannya sebagai“Namus” (hukum) bukan Gabriel, apalagi Jibril, yang tidak pernah dikenal adasebagai sosok utusan Tuhan. Tentu saja peyakinan tersebut cacat besar, karenabaik Khadijah maupun Waraqa bukanlah nabi, bahkan bukan/belum masukIslam!

Rekayasa

Muhammad sampai menghabiskan 2 tahun berikutnya dalam kekacauanmemikirkan dua hal yang betul-betul tak tercernakan: Apa makna “wahyu”tersebut, dan siapa itu “Namus” yang mencekiknya digua Hira. Wahyu diakuiterputus oleh pakar Muslim. Tapi anehnya, Hadis justru mendongengkan adasuara Jibril yang berseru kepada Muhammad yang sedang kacau dan inginbunuh diri: “Wahai Muhammad, akulah Jibril, dan engkaulah Rasul Auwloh” (Ibn.Hisham, The Life of Muhammad, vol.I/69). Padahal nama Jibril belum dikenaldan Muhammad masih dalam kebingungan dengan “Namus” dan tidak beranimenyebutkan nama ini sampai turunnya surat Maryam di Mekah bahkan surat AliImran di Medina…

Awas terhadap periwayatan-periwayatan hadis yang memang datangnyaratusan tahun setelah Quran selesai dikanonisasi. Hal ini tentu bisa menyisipkannama “Jibril” dalam narasinya sebagai bagian dari pencocokan kemudian (adabanyak contohnya, termasuk nama “Auwloh” yang semula hanya disebut Muhammadsebagai Rabb). Seruan Jibril demikian seharusnya datang pada pertama kalimereka bertemu, dan bukan belakangan setelah Muhammad terteror dahsyat danterus kebingungan hingga mau bunuh diri! Tambah tidak meyakinkan karenaseruan Jibril hanya bermain kata-kata bersayap dengan mengatakan “AkulahJibril”, tetapi siapakah Jibril itu (setan atau jin?) tetap dikosongkan sama sekali.

Tak ada keterangan tentang hubungannya DIA dengan AUWLOH. Padahal utusanAuwloh ini seharusnya sempurna dalamberkomunikasi, dan sudah pernah muncul diInjil dengan berkata jelas kepada Zakharia: “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikankabar baik ini kepadamu” (Lukas 1:19).

Selain itu, jikalau hadis tersebut benar, tentulah nama Jibril sudah harus banyakbermunculan dalam surat-surat Makkiyah, tetapi nyatanya tak ada satu punayatnya disana. Muhammad semasa di Mekah samasekali belum tahu kaitandirinya dengan “Jibril”. Kelak di Medina ia baru tahu dari orang-orang Yahudi disana dan mulai menyebut nama tersebut…

Perhatikan satu ayat yang amat kontroversial tentang Jibril:

Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar firman (Auwloh yang dibawa oleh)utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyaikedudukan tinggi di sisi Auwloh yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati di sana (dialam malaikat) lagi dipercaya” (QS 81:19-21).

Ayat-ayat Auwloh ini rupanya harus ditambahkan dengan kata-kata manusia(tambahan yang diberi tanda kurung, huruf tebal) sampai hampir 40% demi bisa diarahkanke maksud yang diinginkan oleh si penterjemahnya yang tidak mesti samadengan makna aslinya. Banyak analis (termasuk William Montgomery) meyakinibahwa Muhammad pada awal kenabiannya yang membingungkan itu tidakmemahami cara transmisi wahyu. Quran mencatat pelbagai konflik transmisipewahyuan, yang semula dianggap sebagai berasal dari sosok Auwloh yang secarapribadi menampakkan diri (lihat Qs.53:2-18).

Kemudian versi lain muncul,seolah-olah kenabian Muhammad dinyatakan oleh oknum Ruhulqudus, atauoknum lainnya entah Ruhul Amin (Qs.16:102 dan 26:193). Kemudian bergantilagi menjadi para malaikat (jamak, tanpa gelar, Qs.15:8). Dan hanya setelah 15

tahun sejak wahyu pertama, maka untuk pertama kalinya dinyatakan sebagaiJibril! Dan yang tak kalah ajaib adalah ayat di atas, dimana pembawa wahyutelah dispekulasikan sebagai Ar-Rasul Al-Karim (Utusan yang Mulia).

Tetapi putar-putar begini kembali “Jibril” misterius ini terjebak menempatkandirinya sebagai PEMILIK FIRMAN: “Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benarFIRMAN UTUSAN yang mulia…”. (Perhatikan: Firman-utusan dan Firman-Tuhan itu sangat berbeda sekali. –adm). Ini sungguh suatu penghujatan dari “Jibril”yangmengklaim Firman sebagai yg dari dirinya (sebagai utusan). Dan apabila ayat tersebut diteruskan, ia masihpula mengklaim kuasa, dan kedudukan, dan menuntut ketaatan dalam alamakhirat! Padahal klaim yang demikian hanya bisa berlaku bagi kesosokan Isa-Almasih, dalam Quran maupun Alkitab, dan tidak ada oknum lain yang bisamenggantikannya. Bahkan ini sesuai dengan keaslian ayat Quran tersebut yangtanpa disisipi dengan embel-embel kalimat dalam kurung dari si penterjemah. Yaitu secara lurusberkata: “Sesungguhnya itu adalah Firman dari Sang Utusan Mulia(Jibril), yangberkuasa, dan berderajad tinggi di sisi Tahta Tuhan, yang ditaati, yangdipercaya”.

Maka terlihat betapa Quran memang mengkonfirmasikan bahwa Al-Masih ituFirman-Nya (4:171), Utusan yang mulia, berkuasa, berderajat tinggi di sisi Auwloh(Qs.3:45; 2:87), yang ditaati dan terpercaya (3:50; 19:34; 43:59; 4:159).

Apakah dia seorang Jibril juga? Tentu tidak! Sebab Jibril bukanlah Firman, tidakjuga berkuasa (malah tidak mampu bermujizat atau mengusir setan), tidak adaperintah Tuhan secara spesifik untuk taat kepada Jibril, dan ia tidak di sisi Tuhanyang bertahta.. .

WAFATNYA JIBRIL DAN PARA MALAIKAT

Abdurrahman bin Al-Jauzi rahimullah menyebutkan ihwal kematian paramalaikat, di antaranya adalah kematian Jibril Alaihissalam, dalam kitabnyayang berjudul Bustanul Waizhin wa Riyadhus Sami’in. Al-Jauzi mengungkapkan,bahwa setelah Israfil meniup sangkakala, pada tiupan pertama, bumi menjadirata akibat kerasnya guncangan, sehingga seluruh penduduk bumi mati. Takterkecuali malaikat-malaikat yang ada di tujuh lapis langit, di kemah-kemah, ditirai-tirai, malaikat yang selama ini berbaris di sekeliling Sang Mahatunggal,

malaikat-malaikat yang selalu bertasbih, penjunjung Arsy, malaikat-malaikatyang berada dalam kemah-kemah kemuliaan. Semuanya binasa. Dan yangtersisa hanyalah Jibril, Mikail, Israfil dan Malaikat Maut Alaihimussalam. Auwlohbertanya, “Hai malaikat maut, siapa yang tersisa?” Engkau.Malaikat maut menjawab, “Tuanku Yang Mulia, Engkau yang lebih tahu. Yangtersisa adalah Israfil, Mikail, Jibril dan hambamu yang lemah ini, malaikat maut.”

Auwloh swt berfirman, “Pergilah ke Jibril dan cabut nyawanya!” malaikat mautmendatangi Jibril as. Ia mendapati Jibril Alaihissalam sedang bersujud. Malaikatmaut berkata, “Giliranmu tiba, wahai hamba yang lemah. Sungguh telahmeninggal seluruh anak cucu Adam, penduduk dunia, penduduk bumi, burungburung,binatang yang ada di darat maupun di laut, para penjunjung Arsy, kursidan kemah-kemah, serta penduduk Sidratul Mutaha. Yang Maha mulia telahmenyuruhku mencabut nyawamu.

Saat itu pula, Jibril as menangis sembari tunduk memohon kepada Auwloh Azza waJalla, “Ya Auwloh, ringankanlah bagiku sakaratul maut”. Ibnu Al-Jauziberkomentar, Ya Auwloh swt, malaikat yang mulia pun tunduk dan memohonkepada-Mu agar diberi keringanan saat sekarat, padahal ia tidak pernahmelakukan maksiat kepada Auwloh swt sekalipun.

Lalu bagaimana dengan kita,sebagai manusia biasa yang banyak kali, tidak mengingat mati kecuali hanyasedikit?”

Malaikat maut kemudian merangkul Jibril as dengan erat lalu mencabutnyawanya. Dan Jibril as pun tersungkur, meninggal. Sang Mahaperkasa bertanyalagi, :”Siapa lagi yang tersisa, hai malaikat maut?” Malaikat maut menjawab,“Tuanku Yang Mulia, masih tersisa Mikail, Israfil dan hamba-Mu yang lemah ini,malaikat maut. Auwloh berfirman, “Pergilah ke Mikail dan cabutlah nyawanya!”

Malaikat maut pun pergi menemui Mikail yang saat itu sedang menunggu hujanuntuk dituangkan ke awan. Malaikat maut berkata, “Hai hamba Auwloh yanglemah, telah tiba giliranmu! Tak ada lagi rezeki untuk anak cucu Adam as,hewan-hewan, binatang darat dan laut. Seluruh penduduk bumi telah mati.

Demikian pula para malaikat penjaga tirai, kemah, penjunjung Arasy, kursi dankemah kemuliaan, malaikat-malaikat yang senantiasa berbaris dan bertasbih,semuanya telah mati. Tuhanku memerintahkan mencabut nyawamu.

Malaikat Mikail menangis sembari tunduk memohon diringankan baginyasakaratul maut. Malaikat maut kemudian merangkulnya dengan erat sembarimencabut nyawanya. Mikail jatuh tersungkur kesakitan tanpa ruh, ia meninggal.Sang Mahaperkasa kembali bertanya, “Siapa lagi yang tersisa, hai malaikatmaut?” malaikat maut menjawab, “Tuanku Yang Mulia, Engkau yang lebih tahu.

Yang tersisa tinggal Israfil dan hamba-Mu yang lemah ini, malaikat maut.Sang Mahaperkasa lagi Mahatinggi berfirman, “Pergilah ke Israfil dan cabutnyawanya!” malaikat maut pergi menemui Israfil dan berkata kepadanya, “Sungguh telah tiba giliranmu, hai hamba yang lemah! Seluruh makhluk telahtiada, dan tak ada lagi yang tersisa selain kamu. Auwloh swt telah memerintahkankumencabut nyawamu. Israfil berkata, “Mahasuci Auwloh swt, Yang Mahaberkuasa mematikan seluruh hamba. Mahasuci Auwloh swt sebagai zat satu-satu-Nya yang abadi, “ lalu memohon, “Tuanku, ringankanlah padaku sakaratulmaut.”

Malaikat maut kemudian merangkulnya lalu mencabut nyawanya. Dan Israfil puntersungkur kesakitan. Ia meninggal. Sekiranya masih ada makhluk yang hidup dibumi dan langit, pasti mereka akan mati saat mendengarkan suara Israfil ketikanyawanya dicabut.

Auwloh swt kembali menanyai malaikat maut, “Siapa lagi yang tersisa, hai malaikatmaut?” Malaikat maut menjawab, “Tuanku Yang Mulia, Engkau Yang lebih tahusiapa yang masih tersisa. Yang tersisa hanya hamba-Mu yang lemah ini,malaikat maut.

Sang Mahaperkasa. Auwloh Azza wa Jalla berfirman, “Demi kemuliaan dankeagungan-Ku, Aku akan membuatmu merasakan seperti apa yang telahdirasakan oleh hamba-hamba-Ku! Beranjaklah menuju (suatu tempat) antarasurga dan neraka, dan matilah!” Malaikat maut pun beranjak menuju tempatyang dimaksud. Sesaat kemudian, ia berteriak sekeras-kerasnya akibat rasasakit yang dirasakannya. Sekiranya Auwloh belum mematikan seluruh makhluk-Nya, maka mulai (dari) makhluk yang pertama hingga makhluk yang palingterakhir akan mati akibat kerasnya teriakan malaikat maut. Setelah berteriakkeras, ia pun meninggal, dan yang terisa hanyalah Auwloh swt.

………

Itulah sekelumit kepercayaan Islam yang luar biasa “meyakinkan” atas namaAuwloh! Anda yang waras akan mempercayainya juga, semata-mata karenaISLAMI. Auwloh SWT secara bergiliran membunuh satu persatu makhluk yangpaling setia kepadaNya tanpa cela. Ada tangisan dan ketakutan, ada jeritan dankesakitan dahsyat yang tak terlukiskan menghadapi sakaratul maut. Tetapi tidakada tujuan Auwloh yang bertanggung jawab jelas untuk apa mereka harus dibunuhsecara begitu mengerikan. Bagaimana azab mereka ini akan dikompensasikanoleh Auwloh dengan kualitas hidup baru mereka, sehingga mereka perlu dibunuh?

Dan kalau Jibril as diperlakukan demikian, bagaimana nasib Muhammad yangnotabene adalah “anak-didik-rohani” dari Jibril itu sendiri? Bagaimana denganAnda sendiri? ***

Makhluk inikah yang telah menemui dan mencekik muhammad

saat ia bertapa dan menerima “wahyu” pertama di gua hira?

Sumber:

http://www.buktisaksi.com/files/Resources/articles/Jibril%20as%20-%20Ahli%20Menyamar.pdf

 
2 Comments

Posted by on August 15, 2008 in Auwllohmubarbar!, Nabi Palsu

 

2 responses to “JIBRIL, IBLIS YG MENYAMAR

  1. ruben

    June 27, 2011 at 5:51 am

    Ini org kok aneh ,cakap besar padahal yg dia sembah org yang hanya pakai kolor ,tau tak mcm filem bokep mikir2 to !.tak pernah dengar lagunya to.lg senang faham rasio brow ,tak fikir yg ghaib2 tau tak yg boleh menyelamatkan kita ,ya kita.ambik sample kalau lapar ya cari nasi bkn cari yesus.gitu aja kok repot! mikir2 jangan jd setan

     
  2. ruben

    June 27, 2011 at 5:55 am

    Ini org memang lanchio ,tak da paham ke,gembor sana sini tak blh tengok ke org amerika yg doyan ma memek org 2 irak ,pakai otak kalau mikir ,konon.yg u sembah pa tuhan yg mcm pemain bf ke ,tak pakai seluar u anggap tuhan pa u dh stres

     

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: