RSS

Islam Perang Lawan Diri Sendiri

15 Aug

ISLAM:

BERPERANG DALAM

DIRINYA SENDIRI

Hai para pembaca,Saya telah ditanyakan oleh sejumlah pendukung Barnabas Fundbagaimana kita bisa memahami apa yang saat ini sedang terjadi di dunia Islam. Saya harap artikel di bawah ini bisa membantu anda.Dr Patrick Sookhdeo

Introduksi

Bulan-bulan terakhir ini kita menyaksikan beberapa pernyataan yang takdisangka-sangka dan sangat membesarkan hati yang keluar dari duniaMuslim. Para pemimpin Islam mainstream yang dihormati disejumlah negara, telah mengeluarkan pendapatmereka yangsangat berbeda dengan pandangan Islam tradisional atau konservatif.Mereka menantang aspek-aspek syariah dan menyerukan Islam yangsudah mengalami pencerahan, yaitu Islam yang liberal dan modernis,yang sejalan dengan norma-norma Barat. Barangkali yang palingsignifikan dari semuanya adalah sebuah komentar dari sekelompokMuslim Inggris yang menyerukan diakhirinya hukum kemurtadan dankebebasan penuh bagi semua hal-hal yang bersifat keagamaan.

Semenjak modernisasi pertama kali mempengaruhi dunia Muslim,

mengikuti dikenakannya hukum-hukum sekular dari sistem-sistem

pendidikan oleh para penguasa kolonial Barat, maka telah terjadi

ketegangan antara konservatif Muslim dan kaum intelektual liberal. Paratradisionalis Islamik dan para Islamis secara dominan menguasaisepenuhnya suara dalam Islam, khususnya sejak kebangkitan Islam yangdimulai pada tahun 1970an dan menyapu habis semua yang adasebelumnya. Para muslim konservatif ini melihat syariah sebagai inspirasi Ilahiyang tak bisa diubah, bersifat valid di segala waktu dan tempat, danmereka juga menyerang sejumlah suara-suara liberal yang berusahauntuk mengintepretasikan ulang sumber-sumber Muslim yang sejalandengan konteks modern dan hak-hak asasi manusia.

Sekelompok kecil Muslim progresif yang termarjinalisasi dengan beranitelah menentang tekanan-tekanan dari Islamis tradisional denganmengintepretasikan ulang Islam dengan cara yang sesuai dengankonsep-konsep modern dari sekularitas, hak-hak individu manusia,kebebasan beragama dan kesetaraan berdasarkan jenis kelamin (gender).

Namun demikian, hari-hari ini sejumlah keretakan yang signifikantampaknya sedang terbentuk dalam Islam mainstream. Para pemimpinpenting Islam mainstream sedang muncul untuk menentang pandangan-pandangan tradisional dan doktrin-doktrin serta praktek-praktekSalafiyah-Wahabian yang telah dipegang dalam kurun waktu yang lama,dan mereka dengan terbuka mendukung ide-ide yang sejalan denganmodernisasi.

Kelihatannya pengajaran-pengajaran reformis dari AhmadKhan (1817-1898) dan Muhammad ‘Abduh (1849-1905), yang manasebelumnya pandangan ini mengalami penindasan, namun sekarang ditengah-tengah Islam mainstream sedang muncul ke permukaan.Sebagaimana yang selalu dikatakan oleh beberapa ahli Islam,”pertempuran yang sebenarnya sedang berlangsung dalam peradabanMuslim, dimana kaum ultra-konservatif tengah berkompetisi melawankaum moderat dan demokrat bagi jiwa dari publik Muslim.”[1]

Sejumlah Contoh:Kaum Wanita Kuwait MPS menolak untuk mengenakan hijab

Dua wanita anggota Parlemen Kuwait, mereka ada diantara keempat

wanita pertama yang terpilih untuk Majelis Nasional Kuwait pada bulanMei 2009, telah menolak untuk mengenakan jilbab (hijab) di Parlemen.Mereka menuntut pembatalan sebuah amandemen untuk regulasielektoral, yang diperkenalkan oleh kaum Islamis, yang memaksapemberlakuan hukum syariah di Parlemen.[2]

Tantawi danniqab di al-Azhar

Dalam sebuah tour baru-baru ini di sebuah sekolah SMP di Kairo, SheikhMuhammad Tantawi, Sheikh Agung di Universitas Al-Azhar di Kairo(pusat sekolah teologi kaum Sunni yang paling penting di dunia),menjadi marah ketika melihat seorang gadis mengenakan niqab(kerudung penuh yang menutupi wajah, dengan hanya menyisakanmata untuk melihat). Ia memerintahkannya untuk menyingkirkan niqab itu, sambil berkata “Niqab adalah sebuah tradisi;tetapi benda ini (niqab) tidak ada hubungannya dengan agama.”

Ironisnya, gadisitu mengklaim bahwa ia mengenakan niqab semata-mata untukmenghormati kunjungan sang Sheikh Agung.[3]Dengan marah Tantawi memberitahukan gadis itu bahwa niqab “tidakada hubungannya dengan Islam dan itu hanyalah sebuah kebiasaan (tradisi)”, dania memerintahkan gadis itu untuk melepaskannya.

Ia juga mengumumkan bahwa ia akan segera mengeluarkan sebuah

peraturan formal (fatwa) yang melarang para wanita untuk memasukiinstitusi Al-Azhar dengan mengenakan niqab. “Niqab tak adahubungannya dengan Islam, itu hanyalah sebuah kebiasaan. Saya tahulebih banyak mengenai agama daripada kamu dan orang tuamu,”katanya kepada pelajar itu.[4]

Dr. Mahmoud Hamdi Zarqouq, Menteri urusan Agama Mesir, maju lebihjauh lagi dari Tantawi dengan mendeklarasikan penolakannya yang tegasterhadap niqab, dengan menekankan bahwa “niqab hanyalah sebuahkebiasaan yang tak ada hubungannya dengan agama….niqab adalahsebuah penemuan yang tak ada hubungannya dengan agama, karenapara pria religius menganggap bahwa wajah dan rahang wanita tidakcocok untuk diperlihatkan.” [5]

Imam menyalahkan sikap pasif Gereja terhadap penganiayaan

yang dilakukan Muslim terhadap orang-orang Kristen[6]

Dalam sebuah wawancara dengan Radio Kristen Perdana di awal tahun ini,Sheikh Dr Muhammad al-Hussaini, pendiri dari Scripture Reasoning danpengajar studi-studi Islam di Leo Beck Rabbinical College, menyalahkan hirarki Gereja yang ada di Inggris sebab tidak melakukan protes yang keras/riuh dan aktif berkaitan dengan penganiayaan yang dialami orang-orang Kristen di seluruh dunia. Al-Hussaini menyebutkan secara spesifik serangan yang sangat mengerikan terhadap orang-orang Kristen di Nigeria, orang-orang Kristen Irak yang dibakar di luar rumah mereka, dan orang-orang Kristen Pakistan yang dilempari dengan batu atau diserang hanya karena alasan yang sangat sepele.

Ia menggarisbawahi usaha-usaha dari Barnabas Fund bagi orang-orang Kristen yang dianiaya sebagai contoh bagaimana seharusnya orang-orang Kristen merespon penganiayaan yang dialami oleh saudara-saudari Kristen mereka.Sementara orang-orang Muslim sangat sensitif dengan setiap perlakuanburuk yang dialami oleh orang-orang Muslim di seluruh dunia, iamenambahkan, mereka akan tetap diam akan penganiayaan yang dialamioleh orang-orang Kristen yang hidup di tengah-tengah mereka.

BanyakMuslim dengan mudah mencari kambing hitam atas masalah-masalahyang mereka alami. Mereka tahu bahwa gereja-gereja di Barat tidakakan melakukan lebih dari sekedar rengekan, seolah-olah isu-isu itutidak cukup penting bagi mereka, terutama karena penderitaanpenderitaanitu tidak terjadi pada orang-orang kulit putih, atau dianggapcukup penting; karena itu semua yang terjadi bisa diabaikan denganmeletakkan kesalahan pada konspirasi Zionis-Perang Salib…Ia mengajak gereja untuk menyuarakan keadilan bagi kaum minoritasyang dianiaya, yang ia klaim akan berbicara “ke dalam hati darikomunitas Muslim.”

Laporan “Mengkontekstualisasikan Islam di Inggris”[7]

Laporan ini, yang dipublikasikan pada bulan Oktober 2009, merupakankarya beberapa akademisi serta para pemimpin agama Muslim Inggrisyang terkenal. Laporan ini telah meletakkan dasar yang baru dengankeluarnya pernyataan-pernyaaan yang jelas mengenai isu-isu kunci,yaitu untuk menghindari pernyataan yang bisa ditafsirkan secara ganda,yang biasanya dikeluarkan oleh para pemimpin Muslim dari garis utama.

Laporan ini menyerukan sebuah pandangan dunia Muslim yang

didasarkan tidak secara eksklusif pada yurisprudensi tetapi yang juga

memasukkan di dalamnya filsafat Islam (falsafah), theologi (Kalam) danliteratur (adab). Bagi orang-orang Muslim yang hidup sebagai kelompok minoritas disebuah demokrasi liberal sekular, mengaplikasikan syariah adalah urusanyang berkaitan dengan hati nurani personal dan bukan sanksi legal, katalaporan itu. Orang-orang Muslim tidak diwajibkan untukmengimplementasikan syariah secara penuh melawan keinginan daripara tetangga non-Muslim mereka.[8]Syariah bukanlah sebuah kodedetil mengenai hal-hal yang dilarang dan diijinkan, tetapi mengenaisistem etika moral dan pendidikan spiritual. Ada persamaan antaraobyek-obyek yang digarisbawahi (maqasid) dan deklarasi hak-hak asasimanusia.[9]

Laporan yang bertentangan dengan pandangan tradisional mengenai

kedaulatan ilahi hanya diimplementasikan di sebuah negara Islamik

dibawah hukum syariah. Laporan ini mengatakan bahwa sistem sepertiini menimbulkan kurangnya pengecekan dan keseimbangan demokratis,kurangnya akuntabilitas dan bisa memimpin kepada sebuahpemerintahan tirani. Sebuah negara Islamik bukan hal yang pentinguntuk dikembangkan dan dipraktekkan oleh Islam.

Demokrasi sekularsebagaimana yang diterapkan di Inggris adalah sesuatu yang pas untukdijalankan, karena demokrasi model ini menjaga kekuasaan untuk tetapbisa dipertanggungjawabkan, juga menjaga kemerdekaan fundamentaldan hidup keagamaan masyarakatnya yang tidak boleh diintervensi.[10]Orang-orang Muslim Inggris, kata para penulis itu, sangat bahagiadengan bentuk prosedural sekularisme Inggris (kontras dengansekularisme ideologi) dan mendukung tradisi akomodatifnya.

Pemisahanagama dengan negara dan prinsip non-diskriminasi oleh negara bagipemeluk agama yang berbeda-beda, menjamin kebebasan dankesetaraan bagi semua orang, memberikan kebebasan bagi orang-orangMuslim untuk mempraktekkan Islam tanpa adanya gangguan, dalamatmosfer penghargaan, keamanan dan martabat.[11]Para penulis dengan jelas menentang konsep takfir[12]dan al-wala`wal-bara`[13]yang membedakan dengan tajam antara orang-orangyang dirasa sebagai orang-orang percaya (beriman) yang benar dengan semuakelompok orang yang lain, yang menyebabkan terjadinya permusuhandan kebencian.

Pembedaan diantara orang-orang percaya (beriman) dan orangorangtidak percaya adalah sesuatu yang penting hanya dalam hal-halyang berkaitan dengan doktrin dan peribadatan, bukan dalam hal-halyang berkaitan dengan interaksi sosial serta mencari hal-hal umumyang baik dari masyarakat. Dalam hal-hal ini, adalah penting untukmemiliki hubungan yang bersahabat dengan non-Muslim, memperlakukanmereka sebagai orang-orang yang setara, dan berfokus pada nilai-nilaiyang diterima dan dibagikan secara umum.[14]

Laporan itu menjelaskan bahwa Islam mengajarkan kesetaraan bagi semua manusia tak perduli apa pun jenis kelamin mereka, dan Islam juga melarangpernikahan yang dipaksakan, kekerasan domestik, mutilasi kelamin (sunat) pada kaum wanita, dan pembunuhanpembunuhan demi kehormatan(honour killing).[15]Orang-orang Muslim harus mengkampanyekan perlawanan terhadap ketidak-adilan dan penindasan yang dilakukan oleh orang-orang Muslim terhadap orang-orang Muslim yang lain, dan juga terhadap non-Muslim.[16]

Mengenai terorisme dan para pengebom bunuh diri, mereka mengatakan bahwa ada banyak cara untuk menentang penindasan selain melakukan peperangan (jihad).Termasuk di dalamnya melakukan lobi-lobi, menggerakkan para aktifis, danmelalui tulisan-tulisan. Konflik luar negeri tidak bisa dipakai sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan di Inggris. [17]

Mereka menambahkan bahwa “Islam menentang semua bentuk terorisme, tak perduli siapa pun yang mendanai mereka…Melakukan pengebomanbunuh diri sangat dilarang (haram) dalam Islam, dan hal itu dianggapsebagai melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidakbersalah.[18]

Para penulis mengadopsi prinsip Kristen modern mengenai pembedaanantara dosa religius dengan kejahatan negara yang dilakukan dengandukungan hukum. Mengenai kemurtadan, mereka menjelaskan bahwaIslam tidak menyukai kemurtadan, tetapi melarang diskriminasi terhadaporang-orang yang murtad; dengan menambahkan bahwa: “Adalahpenting untuk secara simpel berkata bahwa orang-orang memilikikebebasan untuk memasuki iman Islamik dan juga kebebasan untukmeninggalkannya.” Hal yang serupa adalah dalam kaitan denganhomoseksualitas. Mereka menjelaskan bahwa Qur’an melarang praktekpraktek homoseksual, tetapi juga diskriminasi terhadap kaumhomoseksual. [19]

Deklarasi kemurtadan secara khusus merupakan hal yang penting karena hal ini secara jelas berlawanan dengan hukum syariah mengenai kemurtadan, yang diterima oleh semua sekolah hukum Islamik, yang menetapkanhukuman mati bagi mereka yang meninggalkan Islam. Para penulisitu menjelaskan bahwa pada masa awal berdirinya Islam, kemurtadandipandang sebagai pengkhianatan yang dilakukan pada masa perang. Pengkhianatanlah yang layak diganjar dengan hukuman mati, bukan kemurtadan. Karena itu pada masa kini, “tidak boleh ada tekanan dan orang tidak boleh dipaksa untuk masuk ke dalam sebuah komitmen religius.” [20]

Para pemimpin Muslim lainnya ketika berurusan dengan kemurtadan,

tidak berani mempertanyakan validitas dari hukum kemurtadan klasik,tetapi sebaliknya orang-orang yang murtad diminta untuk menjalani fasepertobatan (biasanya 3 hari) untuk diperpanjang tanpa batasan waktu(sebagai contoh, Ali Gomaa, Mufti Kepala di Mesir), atau untuk sebuahmoratorium hingga waktunya dianggap telah matang untuk secara penuhmengimplementasikan hukum syariah (sebagai contoh, Tariq Ramadan).

Analisa

Kini ada pergumulan yang sangat besar dalam jiwa Islam.Nampaknyadengan adanya kombinasi antara tekanan para teroris Islam,“peperangan terhadap teror” dan ancaman-ancaman terhadap rejim danmasyarakat Muslim, suara-suara baru bermunculan dalam arus utamakepemimpinan Islam yang menganut suatu ijtihad[21]yang baru, yangsesuai dengan modernitas dan hak-hak azasi manusia. Mereka seakanmenerima pandangan kaum reformis liberal yang memprioritaskan nilainilaiinti Islam, yang tersaring dari teks-teks sumber Islam, sebagainorma-norma spiritual dan moral yang mengesampingkan penafsiran-penafsiran literal, yang bersifat sosial politis dan memaksa. Merekaseakan berkeinginan untuk mengabaikan konsep-konsep tradisionalIslam yang berkontradiksi dengan nilai-nilai humanistis modern daripluralisme, kebebasan dan kesetaraan.

Kesimpulan

Perancis telah melarang mengenakan jilbab di tempat-tempat umum dan baru-baru ini otoritas konstitusionalnya yang tertinggi, yaitu Dewan Konstitusional, telah menolak introduksi keuangan islami atas dasar bahwasebuah negara sekuler tidak boleh mengijinkan prinsip-prinsip syariah diakuidalam legislasinya.[22]Sebagai perbandingan, pemerintah Amerika danInggris Raya telah dengan konsisten berpihak kepada golongan-golonganyang lebih represif, konservatif dan tradisional di dalam komunitasMuslim sendiri, dengan harapan untuk menentramkan, mengakomodasidan menyenangkan mereka dengan menerima tuntutan-tuntutan merekauntukmengimplementasikan syariah dalam banyak bidang. Pada saatyang sama mereka mengabaikan suara-suara yang lebih progresif danliberal dalam komunitas Muslim yang mengatakan bahwa mereka terlalulemah dan marginal untuk menjadi teman bicara yang baik bagipemerintah.

Kaum liberal Arab telah mengkritik kecenderungan Presiden Obama

untuk mendukung bentuk-bentuk Islam yang konservatif dan radikal danmengabaikan kecenderungan-kecenderungan Muslim liberal. Seorangjurnalis liberal Yaman menuduh Obama mengangkat penasehatpenasehatMuslim yang tidak merepresentasikan keragaman opini Muslimdan yang ingin mengimplementasikan peraturan-peraturan syariah yangopresif.[23] Yang lainnya mengkritik tawaran-tawaran Obama kepadaTaliban dan Iran sebagai penguatan bagi kaum radikal dan memperlemahkaum reformis dan liberal.[24]

Kecenderungan serupa nampak dalam denominasi-denominasi Kristenmainstream dan liberal, yang para pemimpinnya lebih suka berurusandengan kaum tradisionalis Islam dan garis keras dalam dialog antaragama dan mengabaikan suara-suara kaum reformis liberal yangbermunculan dalam Islam.Sudah saatnya pemerintah Barat dan gereja-gereja Kristenmengimplementasikan sebuah kebijakan yang menolak tuntutan-tuntutankaum tradisional Muslim dan Islam dan agar mereka berganti posisimenjadi pendukung aktif bagi suara-suara baru yang menyampaikannalar dan moderasi dalam Islam.Barnabas Fund menghargai gerakan-gerakan yang yang membesarkanhati ini dan orang-orang Muslim yang gagah berani mendukungnya. ***

Catatan Kaki:

[1] Robert W. Hefner, “September 11 and the Struggle for Islam”, in

Craig Calhoun, Paul Price, and Ashley Timmer, eds., Understanding

September 11, Project coordinated by the Social Science Research

Council, New York: The New Press., 2002, pp. 41-52.

[2] Richard Spencer, “Kuwaiti women MPs refuse to wear hijab in

parliament”, Daily Telegraph, 12 October 2009.

[3] Adrian Blomfield, “Egypt purges niqab from schools and colleges”,

Daily Telegraph, 5 October 2009.

[4] “Sheikh al-Azhar forces a student to remove her Niqab”, Mideastwire,

5 October 2009, quoting Al-Masry al-Yawm ;”Egypt`s Top Cleric Plans

Face Veil Ban in Schools”, Asharq Alawsat, 6 October 2009.

[5] “Sheikh al-Azhar: I`m not against Niqab and 80% of religious

men…”, Mideastwire, 13 October 2009 quoting Al-Masry al-Yawm.

[6] “Imam blames Christian leaders for the Persecution of Christians”,

Christian Concern for our Nation, 28 August 2009, http://www.ccfon.org/

view.php?id=825 , accessed 20 October 2009.

[7] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, University

of Cambridge in Association with the Universities of Exeter and

Westminster, Centre of Islamic Studies: Cambridge, October 2009.

[8] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, pp. 10-11.

[9] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, pp. 10-11,

54.

[10] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, pp.

10-11, 32-33.

[11] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, pp. 28,

33.

[12] takfir – proses mengumumkan seseorang telah murtad/sesat dari

Islam, suatu proses yang telah dibangkitkan oleh kelompok-kelompok

jihad radikal kontemporer.

[13] Al-wala` wal bara` – “Friendship and Distinguishing”, sebuah

doktrin yang diterapkan oleh kelompok-kelompok radikal untuk

membedakan dan memisahkan orang Muslim yang sejati dan yang tidak.

Yang dimaksud dengan Islam yang sejati adalah = kasih terhadap orang

Muslim dan kebencian terhadap non-Muslim.

[14] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, pp.

11-12.

[15] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, pp.

12-13.

[16] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, p. 65.

[17] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, p. 14.

[18] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, pp.71,

78.

[19] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, p. 75.

[20] Contextualising Islam in Britain: Exploratory Perspectives, p. 47.

[21] ijtihad – the process of individual effort by a jurist at logical

deduction on a legal question, using the Qur`an and hadith as sources.

Ijtihad allows fresh interpretations made from the two sources.

[22] “France court quashes Islamic Finance measure”, Al-Arabiya News

Channel, 15 October 2009.

[23] “Yemeni Liberal Criticizes Appointment of Dalia Mogahed as

Obama`s Advisor on Islam”, MEMRI Special Dispatch, No. 2518, 4

September 2009;

[24] “Criticism in the Arab Press of the US Administration`s Initiative to

Reach Out to ‘Moderates in the Taliban`”, MEMRI Special Dispatch, No.

2353, 12 May 2009;”Arab Liberals Eight Years After 9-11: Obama`s

Overtures Towards Iran, Extremists Seen as a Sign of Weakness”, MEMRI

Inquiry and Analysis, No. 551, 29 September 2009.

Sumber:

http://www.buktisaksi.com/files/Resources/articles/Islam_-_Berperang_Dalam_Dirinya_Sendiri.pdf

Copyright © Barnabas Fund – 29th October 2009

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Islam

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: