RSS

ISLAM HANCURKAN NORMA KELUARGA

15 Aug

FrontPageMagazine.com – July 11, 2007

HUKUM ISLAM HANCURKAN

DINAMIKA KELUARGA



Oleh Nonie Darwish


Hukum pernikahan dan perceraian dlm Islam berakibat besar terhdp unit keluarga dan pada akhirnya, masy Muslim secara keseluruhan. Saya sendiri hidup dan menyaksikan bgm banyak keluarga Muslim mengalami kesulitan akibat aturan-aturan Islami ini. Saya sadar bahwa seorang Muslimah yg bahagia dlm perkawinannya harus berterima kasih pada keberuntungannya, bukan pada Islam.

Nabi Poligamis terkenal AS, Warren Jeffs, yg dijatuhi hukuman penjara


Agama Yudeo-Kristen misalnya, menekankan satu lelaki/satu wanita dlm perkawinan dan kesetiaan total antara suami-istri. Namun Islam mengijinkan satu lelaki sampai memiliki 4 istri. Walau banyak Muslim tidak mengambil 4 istri, sistim poligami ini berdampak parah pada kesehatan dan struktur kesetiaan sebuah keluarga Muslim. Hak poligami yg dicontohkan Muhamad ini mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit sosial yg parah.

Menurut Islam, sang suami memiliki hak utk membagi kesetiaannya diantara 4 wanita dan anak-anak mereka. Islam tentu meminta agar para suami adil terhdp semua istri mereka. PRAKTEKNYA, begitu sebuah keluarga menghadapi problema, sbg solusi sang suami sering memilih utk mengambil istri kedua, atau mengancam akan mengambil istri kedua, ketimbang membereskan problema dgn istri pertama terlebih dahulu.

Dgn mengijinkan lelaki utk ‘setia’ pada keempat istrinya, terbukalah kemungkinan bagi wanita utk selalu curiga terhdp suami mereka. Kecurigaan itu juga mengekor pada wanita-wanita lain, karena siapapun bisa menjadi istri kedua suaminya. Bahkan istri yg suaminya tidak pernah memadu wanita lainpun selalu akan curiga dan malah takut pada suaminya. Seorang istri Muslim tidak dapat menuntut kesetiaan suaminya. Dia selalu terancam oleh wanita lain sepanjang hidup perkawinannya. Berbeda dgn seorang istri non-Muslim yg selama ini menikmati hukum yg selalu memberi hak lebih kpd seorang istri ketimbang kpd simpanan sang suami.

Menurut Islam, istri kedua (atau ketiga dan keempat) SAMA haknya dgn istri pertama, termasuk dlm masalah warisan. Ini sangat berbeda dgn istri NON-Muslim. Gundik sang suami tidak memiliki hak apapun dan malah wanita diwanti-wanti oleh agama dan masyarakat nonMuslim agar tidak membiarkan diri dibuai oleh rayuan lelaki yg sudah berkeluarga. Rugi, tau!

Namun seorang wanita Muslim yg belum menikah & naksir seorang lelaki yg sudah berkeluarga bisa mengatakan: “Ia lelaki dan punya hak utk menikah, yg nota bene dihalalkan Allah. Sama spt perkawinannya dgn istri pertama. Seorang lelaki berhak mendapatkan kita berdua!”

Hubungan antar wanita dlm masy Muslim juga tidak mengenakkan dan malah sering tegang. Tidak ada hubungan antar wanita diluar keluarga atau clan. Ketakutan akan wanita lain yg akan merebut suami selalu menghantui wanita Muslim. Ketika saya kanak-anak, saya sering mendengar wanita merengek, memohon kpd suami mereka agar tidak menikahi wanita lain. “Silahkan meniduri wanita lain, asal kau tidak menikahi mereka,” pinta mereka. Mereka takut bahwa istri kedua dan anak-anaknya akan dianggap sederajad oleh hukum dan masy.

Wanita Muslim yg memiliki suami kaya adalah yg PALING khawatir. Saya ingat seorang wanita Muslim menasehati temannya: “Hamburkanlah uang suamimu secepat mungkin shngg dia tidak mampu mengambil istri kedua!

Lelaki Muslim juga sering merahasiakan keberadaan istri kedua. Sering wanita dlm dunia Muslim, setelah kematian suaminya, menyadari adanya istri kedua atau bahkan ketiga dan keempat yg disimpan suaminya yg kini memiliki hak sama dlm soal warisan! Malang si wanita yg mengira rumah warisan suaminya merupakan haknya seorang.

Saya juga ingat tetangga kami, pasangan suami-istri yg keduanya dokter dgn dua putera remaja. Suatu hari, sang istri datang ke ibu saya menangis tersedu-sedu karena ternyata suaminya selama bertahun-tahun telah menikahi salah satu pasien cantiknya. Mereka malah punya anak. Saat ia mengkonfrontasi suaminya, jawabannya enteng saja: “Kau mau apa? Ini khan hak saya (sbg lelaki muslim).”

Ia memohon dgn sangat agar menceraikan wanita lain itu. Sang suami menolak. Sang istri mengancam suaminya “Kalau gitu, ceraikan saya“, mengira sang suami akan menurut. Ternyata keesokan harinya sang suami memang menceraikan istri yg telah mendampinginya selama 20 tahun itu. Untung si istri punya uang sendiri, karena dlm Islam menceraikan istri tidak dibarengi dng kewajiban utk menafkahinya.

Wanita juga tidak punya hak utk menceraikan suami mereka. Ketika saya berumur 21, saya punya seorang teman. 5 tahun yg lalu, ia memohon kpd suaminya agar diceraikan karena perkawinan mereka tidak bahagia. Sang suami menolak dan malah balas dendam dgn menikahi wanita lain. Naas bagi wanita itu: karena statusnya yg masih sbg istri, ia tidak dapat mencari suami baru dan hanya setelah proses peradilan dan uang suap yg mahal, suaminya setuju utk menceraikannya.

Lelaki Muslim berhak menikahi istri non-Muslim; hak ini tidak dimiliki wanita Muslim. Ini mengakibatkan kekurangan jumlah lelaki Muslim yg layak nikah bagi wanita Muslim. Akibatnya terdapat jumlah besar wanita Muslim yg menjadi perawan tua karena semakin sempitnya pilihan (apalagi kalau sang wanita tidak sudi dimadu). Dilain pihak, pernikahan dng wanita non-Muslim membebaskan seorang lelaki dari pemberian emas kawin, aturan pacaran yg ketat dan campur tangan keluarga istri.

Segala aturan ini menempatkan wanita Muslim pada posisi lemah. Ketidakadilan ini juga berakibat parah bagi masy Muslim & terutama bagi kesehatan jiwa anak-anak. Sering ayah dan kakak lelaki seorang istri harus membantunya melawan suaminya. Kesetiaan seorang wanita juga akhirnya berpindah dari suami kpd anak lelaki sulung. Sang putera menjadi satu-satunya harapan dan pembela ibu, sering melawan ayahnya sendiri. Kesetiaan dlm dunia Muslim oleh karena itu berpindah dari suami-istri kpd ibu-anak, ibu dan keluarganya, suami dan istri-istri lainnya dan suami dgn keluarganya sendiri yg membantu perkawinan kedua, ketiga dan keempatnya.

Jadi, seluruh struktur social terganggu. Wanita di Timur Tengah sering menamakan diri, Um Mohamed, yg berarti “Ibunya Mohamed” atau Um Ali, “Ibunya Ali”. Itulah identitas mereka. Mereka bukan ‘Ny. … (nama suami)’ namun ‘Ibu dari anak sulung’. Dlm dunia Muslim, hubungan antara ibu dan istri anaknya (menantu perempuan) khususnya sangat tegang. Sering seorang ibu mertua yg memiliki loyalitas tinggi pada anak lelakinya adalah yg paling berkuasa, sampai mengancam perkawinan anak-anak lelakinya. Ibu sering memilih pasangan bagi anak-anak mereka. Seorang istri harus memuaskan ibu mertua, lebih dari memuaskan suaminya sendiri. Hanya ini yg akan menjamin kesetiaan ibu mertua yg nantinya akan menjaga agar puteranya tidak menikahi wanita lain. Sering sang ibu yg mendorong puteranya utk mengambil istri kedua karena istri pertama tidak patuh pada sang ibu. Situasi yg tidak enak bukan? Ini bahkan malapetaka!

Pernikahan Muslim bukan peristiwa suci. Dlm keluarga yg tidak terlalu berpendidikan, ada upacara men-check keperawanan sang pengantin, penukaran emas kawin dan penari perut yg mengantar pasangan pengantin ke kamar tidur. Saat saya remaja, saya menonton film Hollywood tua ttg sebuah upacara pernikahan Kristen di gereja.

Saya sangat terharu oleh sumpah pernikahannya, khususnya saat sang suami berjanji utk mencintai, menghormati dan mengasihi istrinya seorang, sampai hembusan nafas terakhir ….”till death do us part“. Saya berpikir, “Ini sangat mengajarkan peradaban pada lelaki”.

Adegan itu membekas dlm hati saya dan saya sampai menangis terharu merasakan indahnya kata-kata yg menjadi dasar setiap masy Yudeo-Kristen. Kata-kata itu sangat menyejukkan, menenangkan dan menjadi tiang utama sebuah masy. Saya bertanya pada ibu saya, “Mengapa perkawinan Muslim tidak spt itu?” Ibu saya malah salah kaprah: “AH! Perkawinan Muslim juga penuh glamour kok,” seakan glamour lebih penting. Saya bersikeras, “Tidak! Kita tidak memiliki perkawinan macami itu!” sambil memberontak melawan dinamika kekeluargaan yg mustahil dlm Islam.

Menurut pendapat saya, peradaban Barat yg mewajibkan perkawinan antara satu lelaki dan satu perempuan, kadang dlm sebuah upacara suci, menghasilkan masy yg jauh lebih superior dan stabil. Walau Islam seharusnya berakar dari tradisi Yudeo-Kristen, perintah bagi monogami seakan lenyap dlm gurun pasir Mekah.

Mimpi saya juga akhirnya terwujud. Saya memang berhasil menikahi lelaki Kristen. Tapi utk itu, saya dan suami saya harus melarikan diri ke AS. (INGAT: penulis adalah puteri seorang jihadi Yasser Arafat!)

Di Barat, banyak wanita Muslim menikah dgn lelaki Kristen. Kebanyakan dari mereka harus menyembunyikan kenyataan ini, takut dimusuhi oleh keluarganya. Dlm Islam, wanita-wanita ini dianggap murtad. Tanpa advokasi AS dan negara-negara “kafir” Barat, wanita-wanita Muslim yg menikah diluar agama mereka sudah mati digantung di negara mereka.

Belum lagi urusan kehormatan wanita. Dlm Islam, kehormatan seorang lelaki terletak diantara selangkangan wanita-wanita dlm keluarganya. Film-film Arab sering menunjukkan wanita-wanita yg dibunuh karena tidak lagi perawan, bahkan karena akibat diperkosa. Inilah bagian dari proses pertumbuhan wanita Muslim. Saya sendiri mendidik anak-anak saya secara konservatif utk melakukan sex hanya dlm perkawinan saja. Ajaran Kristen-Yudaisme juga mengajarkan hal yg sama. Namun Islam mengambil langkah ekstrim dgn menghalalkan pembunuhan perempuan yg kehilangan keperawanan. Tidak penting bgm itu terjadi. Itu bisa dibicarakan nanti, setelah perempuan itu MATI!

Keluarga saya pernah memiliki seorang pembantu berusia 18 thn. Ia ternyata diperkosa oleh majikan sebelumnya. Ia hamil. Ia diusir oleh sang istri majikannya karena mengetahui bahwa sang suami memperkosanya! Ketika ia hampir melahirkan, ibu saya mengirimnya kesebuah fasilitas pemerintah utk membantunya. Beberapa bulan kemudian, kami diberitahu bahwa keluarganya menjemputnya dan karena merasa bahwa sang anak membawa aib, mereka membunuhnya! Saya tidak akan pernah lupa gadis itu dan sampai sekarang saya masih menangisi nasibnya. Ini semakin menambah kesan saya pada Islam, the “Religion of Peace”.

Islam menghalalkan membunuh wanita karena sex diluar pernikahan, namun dilain pihak, Islam membuat SEX sbg iming-iming lelaki! Budaya Islam memberikan kebebasan kpd lelaki utk menggenjoti perempuan sebanyak mungkin, sesuatu yg anehnya dilarang bagi wanita. Saya sering heran. Kalau begitu, dgn siapa para lelaki Muslim itu nge-sex? Pasti dgn para perempuan yg nanti akan dilemparkan Islam ke api neraka. Budaya Muslim memang penuh kontradiksi yg tidak pernah bisa saya mengerti.

Semuanya berkisar pada SEX … SEX … SEX … crot … crot …crot … Semuanya di-sexualisasi; busana, pandangan wanita, senyum, gerak gerik dsb. Saya merasa bahwa saya selalu dipandang sbg obyek sex, segumpal daging yg selalu harus menjaga diri agar tidak mengundang birahi lelaki.

Wanita-wanita Barat yg menikahi lelaki Muslim sering menyadari kesalahan mereka setelah terlambat. Islam memberi hak kpd sang suami yg menceraikan isterinya utk mendapatkan anak-anak setelah usia tertentu. (Dgn hilangnya anak-anak dari sisi sang bekas istri, ia juga tidak lagi berhak atas tunjangan dari bekas suaminya.) Sering para mantan suami menculik anak-anak mereka dan kembali ke negara mereka utk menikahi istri nomor dua tanpa basa basi. Kami sudah sering mendengar cerita-cerita memilukan ttg para ibu yg anak-anaknya diculik dan tidak dapat memperoleh mereka kembali. Semua cerita ini memang benar.

Bahkan setelah mati, surga Islam tidak menyediakan apapun bagi wanita. Surga tidak lain dari tempat pemuasan nafsu sex lelaki dan mimpi buruk bagi wanita. Wanita dlm Islam hanya berfungsi utk melayani birahi sexsual lelaki yg berhak atas 72 perawan! Kalau di bumi seorang lelaki hanya berhak atas 4 istri, disurga mereka mendapat kelimpahan luar biasa. Bayangkan! 72!!

Surga Islam lebih parah dari DISTRIK LAMPU MERAH AMSTERDAM, PENUH DGN ORGY SEX! (sori, istilah dari ali5196, biar lebih seru !)

RED LIGHT DISTRICT AMSTERDAM, MIRIP SURGA ISLAMIKAH?? Pantes Muslim BETAH di BELANDA !!!

Saya percaya, dunia Arab/Moslem sudah kehilangan equilibrium moralnya dan harus melalui jalan panjang dan menyakitkan menuju reformasi. Arab/Moslem harus benar-benar merombak hukum keluarga mereka agar dapat memungkinkan terciptanya unit-unit keluarga yg bahagia dan sehat walafiat.

Sumber:
NONIE DARWISH : dinamika kekeluargaan Islam yg mustahil

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Muslimah

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: