RSS

Ibn Warraq: Orientalis Barat Vs. Islam

15 Aug

MENGAPA BARAT

ADALAH YANG TERBAIK

Jawabanku kepada Tariq Ramadan


Oleh Ibn Warraq


B

ulan Oktober 2007, aku berpartisipasi dalam sebuah perdebatan di London, yang diselenggarakan oleh Intelligence Squared, untuk membahas tentang hal ini, “Kita tidak perlu ragu untuk menerapkan nilai-nilai Barat yang sangat unggul.” Ahli Islam Tariq Ramadan, dan juga beberapa yang lain, menentang hal ini; sebaliknya, aku mendukung dengan memusatkan pemikiran pada perbedaan luas akan kemerdekaan, hak azasi manusia, toleransi di masyarakat Barat dan masyarakat Islam. Tulisan berikut merupakan inti sari jawaban debatku.


Pemikiran-pemikiran besar Barat – rasionalisme, kritik terhadap diri sendiri, mencari kebenaran terus-menerus, pemisahan antara gereja (agama) dan negara, aturan hukum dan kesamaan hak di bawah Undang-Undang, kebebasan berpikir dan mengungkapkan pendapat, hak azasi manusia, demokrasi dan liberalisme – semuanya ini unggul dibandingkan aturan-aturan manusia lainnya. Pihak Barat-lah yang mengambil keputusan untuk menghapus perbudakan; usaha penghapusan perbudakan tidak terdengar sama sekali bahkan di Afrika sekalipun, di mana suku-suku yang bermusuhan menjual tawanan kulit hitam sebagai budak. Pihak Barat telah menetapkan kebebasan bagi perempuan dan anti-rasialisme dan minoritas lainnya sejak 60 tahun yang lalu dan ini merupakan prestasi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pihak Barat mengetahui dan membela hak-hak individu: kita bebas berpikir apapun yang kita mau, membaca apapun yang kita inginkan, melakukan ibadah agama kita, hidup dengan cara yang kita pilih.

Singkatnya, kejayaan Barat, seperti yang dikatakan filsuf Roger Scruton, adalah membuat kehidupan bagaikan buku yang terbuka [Roger Scruton hanya mengulang apa yg pernah diserukan oleh Santo Paulus dalam Injil. –adm]. Di bawah Islam, buku ini ditutup. Di banyak negara-negara non-Western, terutama negara-negara Islam, warga negara tidak bisa bebas membaca buku yang mereka inginkan. Di Saudi Arabia, para Muslim tidak boleh beralih ke agama Kristen dan orang Kristen tidak boleh bebas melakukan ibadahnya – ini jelas pelanggaran Butir ke 18 Universal Declaration of Human Rights (Pernyataan Dunia akan Hak Azasi Manusia) PBB.

Sangat kontras dengan paksaan penerapan hukum Islam yang melumpuhkan nalar, masyarakat Barat malah menawarkan apa yang disebut Bertrand Russell sebagai “keraguan yang membebaskan” yang mendorong penerapan prinsip pengamatan yang skeptis ilmiah. Politik Barat, seperti sains, berkembang melalui tahapan mencari yang benar dan meninggalkan yang salah, diskusi terbuka, kritik, dan pembenahan diri.

Orang dapat melihat perbedaan antara Barat dan Yang Lain (The Others) sebagai perbedaan dalam prinsip keyakinan. Hasrat untuk berpengetahuan, apapun hasil akhirnya, diwarisi dari masyarakat Yunani, dan ini telah menghasilkan suatu lembaga yang jarang atau bahkan tidak tertandingi di luar dunia Barat, yakni: universitas (perguruan tinggi). Bersama-sama dengan institusi riset dan perpustakaan, universitas secara ideal merupakan pusat belajar yang berdiri sendiri yang melindungi norma-norma keyakinan, di mana kita bisa mencari kebenaran tanpa mementingkan hasrat pribadi, bebas dari tekanan politik. Dengan kata lain, di belakang kesuksesan masyarakat Barat dengan sains, teknologi dan institusi terbuka mereka, terletak pada cara pandang mereka yang unik terhadap dunia, cara mereka mengartikan dan memecahkan masalah.

Struktur sains modern dan metoda saintifik merupakan salah satu dari pemberian-pemberian manusia Barat yang terhebat pada dunia. Pihak Barat telah memberi kita tidak hanya hampir setiap penemuan saintifik dlm 500 tahun terakhir ini – dari listrik sampai komputer – tapi juga, terimakasih pada dorongan spiritkemanusiaannya, Palang Merah, Dokter-dokter tanpa Batas Negara, Badan-badan Pengamatan Hak Azasi Manusia dan Amnesti International, lembaga-lembaga funding (baik negara, organisasi keagamaan –tentu maksudnya bukan agama islam–maupun individual) di bidang beasiswa & pendidikan, kesehatan, pembangunan sarana-prasarana publik, demokratisasi, lingkungan hidup, dll. Barat menyumbangkan bantuan terbesar bagi korban kelaparan di negara-negara islam Afrika, bagi korban tsunami Indonesia, bagi korban gempa Pakistan, bantuan bagi korban pembantaian di Darfur; sedangkan negara-negara Islam jelas diam saja dan tidak membantu apapun bagi penyelesaian pembantaian etnik di Darfur, Afrika.

Terlebih lagi, pihak dunia lain mengakui keunggulan pihak Barat. Tatkala masyarakat non-Barat seperti Korea Selatan dan Jepang menerapkan prinsip-prinsip politik Barat, maka warga negara mereka pun jadi berkembang makmur pula. Kepada Barat-lah dan bukannya ke Saudi Arabia atau Iran, jutaan pengungsi rezim agama atau penindas lainnya melarikan diri, dalam usaha mencari kebebasan politik dan toleransi. Tiada politikus Barat yang bisa menyatakan sikap anti-Semitik tanpa lolos dari hukuman. Sebaliknya PM Malaysia Mahathir Mohamad di thn 2003 dengan entengnya mengumpat Yahudi secara bebas di muka umum. Cacian Mahathir ini tidak hanya menunjukkan secara jelas standar ganda Muslimin tapi juga bahwa para pemimpin Barat menerapkan standar etika yang jauh lebih tinggi.

Suatu kebudayaan yang memberi dunia hasil-hasil karya yang cemerlang seperti musik Mozart, Beethoven dan Schubert; dan lukisan Michelangelo, da Vinci dan Rembrandt tidak butuh ajaran-ajaran dari masyarakat yang khayalannya tentang surga dipenuhi dengan perawan-perawan bagi setiap lelaki muslim yg jorok, sehingga tempat itu mirip dengan lokasi WTS Kali-Jodo (Jakarta) atau Gang Dolly (Surabaya).

Pihak Barat juga tidak butuh kuliah-kuliah tentang nilai-nilai luhur masyarakat yang menindas kaum perempuannya dengan hukum Syariah, memotong/menyunat alat kelaminnya (Female Mutilation Genital/FGM) dan merajamnya sampai mati karena perzinahan dan dipaksa menikah di usia 9 tahun; masyarakat yang menolak hak azasi manusia berkasta lebih rendah; masyarakat yang membunuh kaum homoseks dan murtadin.

Pihak Barat tidak butuh kuliah illahi dari masyarakat yang bahkan tidak mampu menyediakan air minum bersih atau sistem kakus yang beres, yang tidak mampu membantu warganya yang cacat tubuh dan membiarkan 40 sampai 50% masyarakatnya buta huruf.

Seperti yang dikatakan oleh Ayatollah Khomeini, Islam tidak mengenal lelucon. Pihak Barat mampu melihat kesalahan mereka sendiri dan menertawakan diri sendiri. Mereka mampu menertawakan prinsip-prinsip mereka yang fundamental: tapi tiada hal seperti film Life of Brian dari Monty Python (TV seri jenaka ttg kehidupan Yesus Kristus) dalam Islam. Dapatkah kita berharap suatu hari bisa menonton Life of Moh yg mengejek kehidupan Muhammad? Sudah jelas TIDAK! Ini satu lagi tanda bahwa nilai-nilai Barat tetaplah yang terbaik bagi seluruh masyarakat, tidak peduli apapun ras dan agama mereka, untuk bisa mampu mencapai potensi maksimum dan hidup dalam kemerdekaan.

——————–
Tentang Ibn Warraq: Sejak 1998, Ibn Warraq mengedit sejumlah buku mengritik Quran dan asal usul Islam, termasuk Leaving Islam: Apostates Speak Out, Defending the West: A Critique of Edward Said’s Orientalism & Which Koran?, Why I am Not a Muslim.

IBN WARRAQ

Oleh Luthfi Assyaukanie
(Jaringan Islam Liberal)



Kehadiran Ibn Warraq bukan hanya meresahkan kalangan Muslim “konservatif,” tapi juga para intelektual dan kalangan Muslim liberal yang selama ini memiliki pandangan kritis terhadap (beberapa doktrin) Islam. Ibn Warraq dianggap telah merusak proyek pembaruan keagamaan yang dilakukan oleh para intelektual Muslim. Apa yang dilakukannya lebih sebagai agenda destruksi ketimbang reformasi.

S

ejak beberapa tahun belakangan, studi keislaman dihebohkan oleh hadirnya seorang penulis yang menamakan diri Ibn Warraq. Ini adalah nama samaran sang penulis yang mengaku berasal dari India, melewati masa kecilnya sebagai Muslim, dan kemudian belajar Islam di sebuah universitas ternama di Inggris. Seperti ditulis dalam otobiografinya, “Why I am not a Muslim?” (1995), Ibn Warraq mengaku telah keluar dari Islam dan memilih jalan agnostis, jika bukan ateis. Kekecewaannya terhadap Islam diekspresikan lewat tulisan-tulisannya yang mengandung semangat kebencian terhadap agama ini.


Kehadiran Ibn Warraq bukan hanya meresahkan kalangan Muslim “konservatif,” tapi juga para intelektual dan kalangan Muslim liberal yang selama ini memiliki pandangan kritis terhadap (beberapa doktrin) Islam. Ibn Warraq dianggap telah merusak proyek pembaruan keagamaan yang dilakukan oleh para intelektual Muslim. Apa yang dilakukannya lebih sebagai agenda destruksi ketimbang reformasi.

Abdullah Saeed, seorang sarjana Muslim asal Australia menganggap Ibn Warraq memiliki pandangan yang keliru (distorted) tentang Islam. Hal inilah yang agaknya membuatnya begitu antipati terhadap agama ini. Sikapnya yang begitu membenci Islam bahkan tak mencerminkan dirinya sebagai murid Montgomery Watt, orientalis yang selalu berusaha bersikap simpatik terhadap Islam.

Ibn Warraq sangat produktif menulis buku yang sebagian besar merupakan kumpulan tulisan dari beberapa karya orientalis abad ke-19 dan ke-20. Kendati ada beberapa tulisan orientalis yang simpatik terhadap Islam, Ibn Warraq lebih memilih tulisan-tulisan mereka yang antagonis dan antipati terhadap agama ini.

Dalam karyanya tentang Nabi Muhammad (The Quest for the Historical Muhammad, 2000), Ibn Warraq misalnya mengumpulkan tulisan-tulisan para orientalis yang dikenal sebagai “pencemar dan pembunuh karakter” Muhammad, seperti Henri Lammens, C.H. Becker, Joseph Schacht, dan Lawrence I. Conrad. Pesan yang ingin disampaikan Ibn Warraq sangat jelas, yakni bahwa Nabi Muhammad adalah seorang nabi palsu, penipu, tukang kawin, dan seorang pemimpin yang haus darah.

Dalam karyanya yang lain tentang Al-Qur’an (The Origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s Holy Book, 1998; dan What the Koran Really Says: Language, Text, and Commentary, 2002), Ibn Warraq juga mengumpulkan tulisan-tulisan orientalis ternama seperti Theodor Noldeke, Leone Caetani, Alphonse Mingana, Arthur Jeffery, David Margoliouth, and Andrew Rippin. Sayangnya, dia menyeleksi tulisan-tulisan mereka semaunya sehingga kerap menghilangkan konteks keseluruhan tulisan-tulisan aslinya. Tujuan dia lagi-lagi untuk menunjukkan sikapnya yang antipati terhadap Al-Qur’an. Mengutip Gibbon dan Carlyle, Ibn Warraq meyakini bahwa Al-Qur’an adalah “incoherent rhapsody of fable,” dan “insupportable stupidity.”

Karya terbarunya, Leaving Islam (2003), juga merupakan kumpulan artikel dan laporan wawancara dia dengan beberapa orang (yang sayangnya semuanya anonim) dari Pakistan dan Bangladesh yang mengklaim telah keluar dari Islam alias murtad. Tujuan Ibn Warraq sangatlah jelas, yakni ia ingin memperlihatkan kepada pembacanya bahwa banyak orang Islam yang tidak tahan memeluk agama ini dan menyatakan diri keluar (murtad). Pokoknya, baginya, menjadi bukan Islam itu lebih baik daripada harus tetap memeluk Islam.

Bukan Reformis
Membaca dan mengikuti karya-karya Ibn Warraq, saya semakin yakin bahwa apa yang sedang dia lakukan sangat berbeda dari apa yang telah dan sedang dilakukan oleh para pembaru Muslim selama ini yang berusaha melakukan kritik-kritik terhadap (beberapa doktrin) Islam tapi dengan tujuan memperbaiki agama ini [astagfirullah, bukankah islam meng-klaim sbg agama terakhir yg menyempurnakan agama-agama sebelumnya? Mengapa masih hrs diperbaiki lg? Mana klaim itu Assyaukanie? Pantes aja banyak muslim anggap JIL itu sesat. –adm]. Para pembaru Muslim seperti Muhammad Abduh, Fazlur Rahman, Mohammad Arkoun, dan Nurcholish Madjid, jelas tidak akan menganjurkan kaum Muslim untuk membenci Islam, apalagi mengajak mereka keluar dari agamanya.

Kekeliruan Ibn Warraq adalah bahwa ia tidak melihat sedikitpun sisi baik dari Islam dan bahkan berusaha mengabaikan bahwa agama ini pernah punya peran positif bagi peradaban manusia. Dia juga tampaknya tidak mengerti bahwa nama “Warraq” merupakan salah satu simbol masa kejayaan peradaban Islam. Di masa silam, “warraq” berarti pedagang atau distributor buku yang bertugas menyalin karya-karya para ulama. Buku merupakan ikon peradaban Islam yang sangat penting. Salah seorang warraq ternama adalah Ibn Nadiem, seorang Muslim yang taat dan pengarang kitab terkenal, Al-Fihrist.

Ibn Warraq tampaknya juga tak menyadari bahwa semangat “kritisisme” dalam Islam, seperti yang tampak pada para “pemikir bebas” Muslim seperti Ibn Rawindi, Abu Bakar al-Razi, Al-Ma’arri, dan Ibn Sina bukanlah para penulis yang seenaknya mencaci-maki Islam, apalagi menyatakan diri telah keluar dari Islam. Kritik-kritik mereka adalah kritik membangun sebagai bagian dari tradisi intelektualisme Islam. Karenanya, tak heran jika mereka sendiri kemudian menjadi bagian dari mosaik yang memperindah peradaban Islam.

Beberapa pe-resensi bukunya, seperti Fred M. Donner, menilai Ibn Warraq “tak jujur.” Saya kira Ibn Warraq bukan cuma tak jujur, tapi kerap tampak naif. Misalnya dia sangat berapi-api mengajak seluruh kaum Muslim keluar dari Islam, tapi sayangnya tak memberikan alternatif apa-apa setelah itu. Buku terbarunya, Leaving Islam, merupakan ikrarnya yang sangat gamblang yang tak lagi membuat para pembacanya ragu-ragu bahwa dia memang membenci Islam dan berusaha menghancurkan citra agama ini dengan segenap kemampuannya.

Bagi saya, jelas ada perbedaan besar antara orang yang ingin mereformasi sebuah tradisi dengan orang yang ingin menghancurkan sama sekali tradisi itu (kendati kedua-duanya kerap memiliki kemiripan dalam hal kekritisan). Reformasi agama hanya mungkin dilakukan oleh orang yang benar-benar tumbuh dan hidup dalam tradisi agama, bukan orang yang menjauh dan berusaha keluar dari tradisi itu, apalagi dilakukan dengan cara-cara yang destruktif.

*Luthfi Assyaukanie, Jaringan Islam Liberal (JIL).


TANGGAPAN ATAS
LUTHFI ASSYAUKANIE


Quote komentar Luthfie:
Kekeliruan Ibn Warraq adalah bahwa ia tidak melihat sedikitpun sisi baik dari Islam dan bahkan berusaha mengabaikan bahwa agama ini pernah punya peran positif bagi peradaban manusia.”

Tidak ada sisi positif Islam dalam peradaban manusia. Luthfie melihat Islam sebagai produk budaya belaka (bukannya sebuah agama) dan dia berusaha mengubah wajah dan bentuk Islam agar tidak segarang ajaran Muhammad yang tercantum dalam trilogi Islam: Qur’an, ahadis, dan Sirat Rasul Allah. Usahanya ini karena dalam hati dia masih tidak rela meninggalkan Islam, padahal nalarnya sudah mengetahui betapa bobroknya ajaran moral Islam.


Quote: Saya kira Ibn Warraq bukan cuma tak jujur, tapi kerap tampak naif. Misalnya dia sangat berapi-api mengajak seluruh kaum Muslim keluar dari Islam, tapi sayangnya tak memberikan alternatif apa-apa setelah itu.

Alternatif apa lagi yang dibutuhkan selain bertobat dengan meninggalkan aliran kepercayaan yang sesat? Buku-buku Ibn Warraq telah membuka ribuan mata Muslim tentang apa itu Islam sebenarnya. Ibn Warraq adalah pahlawan humanis yang berjasa besar menyingkap tirai tebal yang menyelubungi Islam. ##



Diterbitkan oleh Prometheus Book,

New York 14228-2119, tahun 2008


DEFENDING THE WEST

MEMBELA BARAT

KRITIK IBN WARRAQ
TERHADAP BUKU EDWARD SAID;
ORIENTALISM



oleh Ibn Warraq


Kata Pendahuluan

Bab 1: EDWARD SAID AND THE SAIDISTS (pg. 17)
Bab 2: THE THREE GOLDEN THREADS AND THE MISAPREHENSIONS OF EDWARD SAID (pg. 55)

1.Three Tutelary Guiding Lights (pg. 57)

2.Classical Antiquity (pg. 85)

3.Early Christianity to the Seventeenth Century (pg. 123)

4.Indian Orientalists (pg. 167)

5.Western Archeologists (pg. 215)

6.Empire adn Curzon (pg. 229)

7.Edward Zaid and His Methodology (pg. 245)

8.The Pathological Niceness of Liberal, Antimonies, Paradoxes, and Western Values (pg. 273)

PART 3: ORIENTALISM IN PAINTING AND SCULPTURE, MUSIC, AND LITERATURE

9.Orientals as Collectors (pg. 301)

10.Painting and Sculpture (pg. 305)

11.Occidental Influence on Eastern Art (pg. 327)

12.Nineteenth-Century Orientalist Art (pg. 333)

13.Painters as Writers (pg. 347)

14.John Frederick Lews (pg. 361)

15.Hegel and the Meaning, Significance, and Influence of Dutch Genre Painting (pg. 365)

16.Charles Cordier: Orientalist Sculptor (pg. 371)

17.Religion, Piety, and Portraits (pg. 373)

18.Oriental and African American Orientalists (pg. 377)

19.Orientalism and Music (pg. 381)

20.Literature and Orientalism (pg. 389)

Kesimpulan (pg. 407)

————–


Banyak pujian terhadap buku Ibn Warraq, berikut adalah contohnya:
“Ini merupakan tulisan yang hebat, tulisan yang mempertunjukkan keindahan, keluas-pengetahuan, dan kejelasan yang nyata. Buku ini menunjukkan bahwa hampir semua pokok pikiran – bahkan hampir setiap kalimat – yang ditulis Edward Said sengaja berbohong. Said itu ahli Bohong Besar. Buku penting Ibn Warraq ini berhasil menentang pembajakan akademis Barat dan angan-angan intelek yang dikarang oleh Said dan para pengikutnya. Ibn Warraq menciptakan potret Barat yang berakibat peringatan keras untuk mengingat siapa diri kita sebenarnya dan apa arti nilai-nilai Barat bagi seluruh dunia. Buku ini harus jadi buku wajib di setiap universitas dan setiap warga masyarakat Barat harus memilikinya di rak bukunya, karena buku ini menyatakan bela diri Barat yang terbaik dan paling diterima dalam melawan serangan-serangan anti-Barat untuk mendapatkan hikmat.” – Phyllis Chesler (Emerita Professor Psykologi dan Studi Wanita City University of New York. Penulis 13 buku termasuk internasional best seller).

“Selama puluhan tahun Edward Said menikmati hal yang terbaik yang bisa ditawarkan lingkungan akademis Barat – selebriti internasional, tepukan tangan, kehormatan dan kemahsyuran di luar angan-angan kebanyakan profesor – sambil juga terus-menerus menjelekkan sejarah, nilai-nilai, dan kebijaksanaan Barat yang telah memungkinkannya menikmati hal-hal yang baik tersebut. Di buku “Defending the West”, intelek ternama Ibn Warraq menelanjangi dengan ketepatan setajam pisau silet kemunafikan tulisan Said dan juga budaya akademis Barat yang salah yang memungkinkan Said menikmati sukses besar. Buku baru Ibn Warraq yang penting ini dengan telak membuang “Orientalism” (buku Edward Said) ke keranjang sampah sejarah.– Efraim Karsh (Kepala Studi Mediterania dari Universitas London Pengarang “Empires of the Sand” [dengan Inari Karsh] dan “Islamic Imperialism: A History”)

*Orientalism adalah pengetahuan ilmiah tentang masyarakat, budaya, dan bahasa Asia. (-adm).

PENDAHULUAN
Awalnya, aku berencana untuk memaparkan tulisan sebagai kumpulan sumber-sumber dan artikel-artikel utama dari para ahli yang membahas, memilah-milah, dan bahkan yang menyanggah tulisan-tulisan Edward Said dalam bukunya Orientalism, dan juga buku Edward Said yg lain, Culture and Imperialism (Budaya dan Imperialisme). Sumber-sumber utama akan didahului oleh pendahuluan yang menjelaskan latar belakang pertentangan dan perdebatan akibat dari dua buku Said yang paling berpengaruh.

Tapi kemudian aku merasa bahwa argumen-argumen Said hanya dapat dipaparkan dan disanggah melalui penjelasan tentang latar belakang aspek budaya Barat yang paling penting. Aku lupakan ide awal tentang penelaahan kumpulan tulisan. Aku lalu menentukan tiga tema utama yang terjadi dalam sejarah Barat. Karena aku tetap ingin buku ini jadi sumber pengetahuan utama bagi masyarakat awam, aku masih memakai sejumlah kutipan dari sumber utama dalam bagian penting tulisanku: Homer dan Aeschylus, Plato dan Aristotel, Cicero dan Marcus Aurelius, Pico della Mirandola dan Guillaume Postel, Sir William Jones dan Lord Curzon; dari budaya Yunani sampai budaya awal Kristen, dari jaman Renaisans ke Pencerahan dan sampai abad ke-20. Dalam bab Orientalis di India, aku gunakan tulisan-tulisan cendekiawan India sebagai sumber utama, karena tulisan mereka sangat penting untuk menunjukkan bahwa Orientalis terutama dimotivasi oleh tiadanya keingintahuan intelek. Alasan lain adalah karena tulisan-tulisan cendekiawan India tersebut menyumbang besar pengetahuan kita akan India yang juga diakui dan dihargai oleh masyarakat India sendiri.

Buku ini dimulai dengan essay berdasarkan tulisan sepuluh tahun lalu yang merupakan serangan terhadap tulisan Said, Orientalism. Sampai tahap tertentu, aku menyesalkan nada essay tersebut, tapi aku percaya bahwa essay ini menyediakan pendahuluan yang penting terhadap kesalahan-kesalahan dan ketidaktepatan tulisan Said. Setelah banyak pertimbangan, aku mengambil keputusan untuk memaparkan essay itu hampir secara utuh. Yang tak kuikutsertakan hanyalah bagian diskusi Aeschylus, dan Bab 2 buku ini akan mengajukan bantahan yang lebih kokoh lagi.

Bab 2 disusun secara berurutan dan menunjukkan bahwa ada tiga hal yang membentuk nilai-nilai Oksident (Occident = dunia Barat) yakni (1) rasionalisme, (2) universalisme, dan (3) kritik terhadap diri sendiri. Tentang rasionalisme, aku bahas kesadaran akan kebenaran, pengetahuan yang sifatnya obyektif, dan keingin-tahuan intelektual. Tentang universalisme, aku bahas gagasan tentang persatuan umat manusia, keterbukaan terhadap “Orang Lain” (aku sebenarnya ragu menggunakan istilah ini, karena ini menyiratkan perilaku negatif tertentu atau penerimaan keadaan mental tertentu, tapi aku tidak mendapatkan istilah lain yang lebih tepat); pandangan-pandangan lain, adat-adat lain, masyarakat lain; dan karena mampu mengritik diri sendiri, maka mampu pula menelaah semua tradisi Barat secara rasional. Tentang keingin-tahuan, aku bahas semua contoh studi yang menunjukkan ketidaktertarikan intelektual.

Di Bab 2, aku membandingkan kebudayaan Barat dan kebudayaan Islam, nilai-nilai yang sangat berbeda (bertentangan) di kedua masyarakat ini dalam ketiga hal yang kusebut di atas. Penjajahan (imperialisme) Islam dan partisipasi Islam dalam perdagangan budak, yang satu ini seringkali dilupakan, sangatlah berbeda dengan imperialisme dan perdagangan budak Barat. Juga akan dibahas sikap masyarakat Timur Jauh yang jika diterapkan di dunia kulit putih Barat akan dianggap sebagai rasis.

Aku kerepotan dalam mengutarakan pertukaran intelektual dan seni terus-menerus yang terjadi dua arah antara pihak Oksident (Barat) dan pihak Persia dan India, dan pihak Oksident dan pihak Islam. Kebudayaan tidak berkembang dalam isolasi (terkungkung). Pihak Barat selalu ingin belajar dari masyarakat lain. Di satu tahap singkat dalam perkembangannya, Islam juga terbuka, terutama terhadap pengaruh-pengaruh Yunani dan India, dan pengaruh-pengaruh ini lalu juga menyebar ke dunia Barat. Tapi Islam lalu menutup akalnya dan kita semua masih menderita konsekuensinya.

Penelaahan melalui perbandingan sejarah rasisme, imperialisme, perbudakan di pihak Barat dan pihak Islam dilakukan guna menjawab tuduhan Edward Said terhadap Barat. Said berhasil mengintimidasi para intelektual Barat dan dia bisa bebas melakukan hal itu karena tiada yang menentang pandangannya dan pihak Barat hanya diam saja.

Karena sanggahanku di bab 2 mengikutsertakan banyak bahan dari luar, maka aku tidak selalu menghubungkan sanggahanku secara persis pada tulisan Orientalism Said. Aku tidak selalu kembali pada tulisan Said seperti yang kulakukan di Bab 1. Tapi aku juga tidak lalu meninggalkan tulisannya, akan tetapi; aku, misalnya, mengecam keras penyalahgunaan karya Richard W. Southern dan Raymond Schwab oleh Said.

Bab 3 membahas pengaruh Orientalisme di bidang musik, literatur, dan lukisan Barat (Western Art). Hanya dalam pembahasan tentang lukisan dan seni saja aku mencoba menjabarkan bagaimana seniman Barat menggambarkan budaya Asia – melalui kronologi yang jelas, dimulai dari Bellini dan Vittore Carpaccio dan para seniman Venesia, lalu ke para seniman Belanda, terutama Rembrandt, dan sekolah lukis Bosphorus di abad ke 18. Jika melihat bagaimana seniman Barat menggambarkan Orient (Asia) dari sejak jaman Renaisans dan seterusnya, maka akan jelas tampak bahwa para seniman abad ke-19 ini tidak menggambarkan Oriental untuk tampak aneh atau menghina. Para pelukis Orientalis di abad ke-19 mengikuti tradisi lama yang utuh untuk menggambarkan budaya Timur dan masyarakatnya dengan penuh simpati. Dan jika kita gabungkan warisan seni dengan sifat dasar Barat yang penuh ingin tahu secara intelek dan terbuka terhadap masyarakat asing, maka dapat dimengerti mengapa seni abad ke 19 banyak menggambarkan dunia Timur.

Banyak lukisan bertema Oriental yang vulgar dan sentimental. Tapi aku memilih para pelukis tema Oriental yang unggul dalam mengungkapkan nilai estetik (misalnya pelukis jenius Rembrandt dan Delacroix), dan bebas dari segala tuduhan menghina yang diterapkan secara sembarangan pada semua pelukis tema Oriental.

Seperti di Bab 2, di Bab 3 aku menjabarkan pengaruh seni Timur terhadap seni Barat, dan sebaliknya. Rembrandt dan Delacroix terpesona akan karya seni miniatur (penuh detail, dan ukuran karya seninya tidak mini) Mogul. Seni Mogul dipengaruhi oleh para pelukis Manneris (Rennaisans Italia). Miniatur Persia dan Turki juga dipengaruhi karya seni para pelukis Belanda. Para pelukis Barat Orientalis mempengaruhi para seniman Turki seperi Osman Bey. Dalam hal ini, setidaknya Islam tidak menutup pintu rapat-rapat terhadap pengaruh Barat.

Aku menggunakan istilah “Orientalisme” dalam arti sempit seperti yang digunakan dalam penelitian ilmuwan modern yang membutuhkan pengetahuan bahasa dan karya tulis Oriental dari abad ke-19 dan selanjutnya, dan juga dalam arti luas seperti usaha serius mengumpulkan fakta dengan tujuan menambah pengetahuan Barat tentang Timur. Istilah “Orientalis” jika diterapkan pada senirupawan, pelukis, komposer, pengarang lagu, dan bahkan novelis, seniman manapun yang menggunakan tema Orient dan Oriental dalam karyanya, baik sedikit atau banyak. Kata Orientalism dengan huruf miring/italics adalah karya tulis Said.

Said dan para pengikutnya hanya mampu berada dalam pandangan dualisme saja – yakni pihak Barat yang jahat versus Pihak Lain yang digambarkannya sebagai bermoral lebih baik. Aku mencoba menunjukkan bahwa hal ini sangat jauh dari kenyataan: sejarah Barat menunjukkan keterbukaan yang mengejutkan pada “Pihak Lain” dan hal ini tidak pernah ditunjukkan oleh budaya lainnya di manapun dalam sejarah manusia. Budaya yang kurang terbuka pada masyarakat lain adalah Islam, yang membagi dunia antara Muslim dan kafir, Dar-al-Islam melawan Dar-al-Harb. Muslim dididik untuk bersikap masa bodoh terhadap jaman pra-Islam atau non-Muslim, yang dengan mudahnya disebut sebagai Jahilliyah.

Said tampaknya menggunakan istilah “Orientalis” bagi orang yang mengerti tentang Timur Tengah, yakni orang Muslim di Timur Tengah. Orang yang mengerti tentang kaum Yahudi atau orang Zoroastria, tidak dipandang Zaid sebagai seorang “Orientalis.” Bagi Zaid, non-Muslim, bahkan non-Arab, tidak ada (tidak eksis). Mereka jarang disinggung, tidak pernah dibahas atau diakui sebagai Oriental dalam sejarah dan saat ini: tidak ada orang Koptik Kristen, tidak ada orang Maronit (Kristen Timur Tengah), tidak ada orang Mandaean, tidak ada orang Samaritan, tidak ada orang Assyria, tidak ada orang Kristen Yunani Ortodox, tidak ada orang Chaldea, tidak ada orang Berber, dan tentu saja tidak ada orang Yahudi dalam istilah “Orient” yang digunakan Said. Hal ini karena istilah itu bagi dia hanya berlaku untuk orang Muslim Timur Tengah dan Afrika Utara saja.

Pada bagian seni Orientalis, aku mengajukan hal yang sangat bertentangan dengan apa yang diajukan oleh Said dan para pengikutnya. Tapi para Saidis tidak membahas lukisan-lukisan dan patung Barat sebagai obyek analisa artistik, atau penghargaan estetik, tapi sebagai benda penyampai pesan –politik atau hinaan– yang ditentukan dari melihat karya tersebut secara sederhana saja. Dalam bantahanku, aku terpaksa menilai karya seni dengan cara yang sama sederhananya. Tidak seperti Said dan para pengikutnya, aku sangat sadar bahwa ini merupakan pengamatan karya seni yang ceroboh, tidak peduli apakah karya itu bernilai seni tinggi atau rendah. Penelaah seperti ini tidak tepat untuk menilai karya seni yang baik. Sayangnya, tidak ada cara lain dalam menanggapi tuduhan Said dan pengikutnya tanpa melalukan analisa sederhana serupa yang dilakukannya, meskipun hasil kesimpulan analisaku sangat berbeda dengan miliknya.

Versi terdahulu buku ini dibaca dan didiskusikan bersama kawan-kawan dan para kolegaku, dan kupikir hasilnya setelah itu sangat jauh lebih baik. Hugh Fitzgerald, yang mampu dengan cermat menemukan pernyataan tulisanku yang cenderung sentimental atau yang terlalu tergesa-gesa menuangkan masalah, sangat membantu dalam menyusun bahan tulisan dan cara penulisan. Dia sangat membantu dalam kedua hal itu. Austin Dacey dan Irfan Khawaja, dengan kemampuan filosofi mereka, membantuku menyusun bantahan-bantahan yang rapi dan mengajukan banyak nasehat yang lalu kuterapkan. Keith Widnschuttle banyak memberi dorongan semangat saat aku meragukan tulisanku. Professor Fred Siegel dari Union for Science and Art di New York memberi berbagai saran yang berharga, dan menunjukkan keterangan-keterangan yang luput kuamati atau yang belum pernah kudengar. Dr. Elisabeth Puin membaca bagian 3 tentang seni Orientalis dan memberikan keterangan yang sangat kubutuhkan tentang berbagai aspek seni Turki dan Persia.

Aku berterimakasih pada mereka semua karena merelakan waktu dan nasehatnya, dan membantuku untuk tidak membuat kesalahan yang memalukan. Jikalau ada kesalahan-kesalahan lain yang masih tersisa, itu adalah tanggung jawabku sepenuhnya.

PART 1: EDWARD SAID DAN PARA PENGIKUTNYA

Perhatikan pengamatan berikut mengenai masalah didunia arab sekarang ini:

Quote: Sejarah dunia Arab modern telah – dengan segala kegagalan politik, penganiayaan HAM, ketidak mampuan militernya, penurunan produksi, fakta bahwa diantara masyarakat modern, dunia arab sendirian telah mundur dalam hal demokrasi, teknologi dan pengembangan sains – ternodai oleh serangkaian ide-ide yang kuno dan mendiskreditkan, yang mana tidak pernah diderita oleh orang Yahudi dan bahwa Holocaust yang adalah sebuah rekayasa tak jelas dibuat-buat oleh “Elders of Zion” adalah sesuatu yang menyedot banyak sekali uang…

.. Utk mendukung Roger Garaudy, penulis Perancis yang dihukum baru-baru ini karena menyangkal terjadinya Holocaust, atas nama “kebebasan berpendapat” adalah sebuah kelicikan konyol yang mendiskreditkan kita lebih besar lagi dari pendiskreditan yang sudah terjadi dimata dunia atas ketidakmampuan kita, kegagalan kita utk memerangi peperangan, kesalahpahaman sejarah kita yang radikal dan sejarah dunia tempat kita tinggal. Kenapa kita tidak melawan lebih keras lagi utk kebebasan berpendapat di masyarakat kita sendiri, sebuah kebebasan yang, tak seorangpun perlu diberitahu, sebenarnya hampir tidak ada?

Butuh keberanian buat seorang Arab utk menulis kritik-diri (self critic) semacam ini; tentunya, tanpa kata “kami,” berapa banyak yang akan menebak bahwa seorang Arab, terlebih lagi seorang Edward Said, yang menulisnya? Tapi ironisnya, apa yang membuat telaah-diri bagi orang arab dan muslim, khususnya kritik terhadap islam di Barat, sangat sulit adalah pengaruh kuat dan merusak dari buku Orientalisme-nya Edward Said[2]. Karyanya ini mengajar seluruh generasi Arab seni mengasihani-diri –“Kalau bukan karena Imperialis, rasis dan Zionis jahat, bangsa kita akan jadi bangsa yang lebih besar lagi”– hal ini mendorong generasi fundamental islam tahun 80-an, memukul keras dan membungkam kritik-kritik apapun akan islam, bahkan menghentikan riset-riset islamolog terkenal yang merasa penemuan-penemuan mereka akan menyinggung sensitifitas para muslim dan yang tidak berani mengambil risiko dicap sebagai “ORIENTALIS”.

Nada agresif “Orientalisme” ini adalah apa yang saya sebut “terorisme intelektual”, karena berjuang meyakinkan orang bukan lewat argumen atau analisa sejarah, tapi dengan menyebarkan tuduhan rasisme, imperialisme dan Eurosentrisme. Standar moral yang tinggi menjadi elemen penting dalam taktiknya Said. Karena dia percaya posisinya secara moral tidak bisa digoyahkan, Said jelas berpikir dia dibenarkan utk memakai cara apapun dalam pembelaannya, termasuk menyimpangkan pandangan para akademisi terkenal, menafsirkan sejarah politik dan intelektual dengan cara yang sangat tendensius – singkatnya, memelintir kebenaran. Tapi dalam kasus manapun, dia sendiri tidak percaya pada ‘kebenaran’.

Said bukan hanya menyerang seluruh disiplin Orientalisme, yang didedikasikan bagi studi akademis Orient dan yang Said tuduh menjadi alat stereotip rasial negatif, prasangka anti Arab dan anti-islam, dan mitos “Oriental” yang penting dan tidak berubah, tapi dia juga menuduh para orientalis sebagai sebuah kelompok jahat dengan kekuasaan penjajah dan menuduh mereka bertanggung jawab karena menciptakan perbedaaan antara superioritas Barat dengan inferioritas Timur, yang mereka capai dengan menekan suara-suara “oriental” dan dengan kecenderungan anti-manusia mereka utk membesar-besarkan, hal-hal yg samar, dan menggeneralisasikan seluruh populasi yang berjumlah jutaan individu. Dengan kata lain, kebanyakan yang ditulis tentang Orient pada umumnya, dan Islam serta peradaban islamik khususnya, adalah palsu. Para orientalis juga dituduh menciptakan “Pihak Lain” – Orang Non Eropa, selalu dikarakterisasikan dengan cara negatif, contohnya: pasif, lemah dan perlu diberadabkan dengan kemajuan-kemajuan Barat (membandingkan kekuatan Barat dengan kelemahan Timur).

Tapi “Orientalisme” juga lebih umum “sebuah gaya pemikiran berdasarkan perbedaan ontological (hal-hal metafisik) dan epistemological (filosofi) yang dibuat antara “Orient/Timur” dan “Occident/Barat”. Jadi, penulis Eropa mengenai fiksi, epik, perjalanan (journey), sosial, kebiasaan dan orang-orang, semuanya dituduh dengan “Orientalisme”. Pendeknya, Orientalisme dipandang sebagai “sebuah gaya Barat utk mendominasi, merestrukturisasi, dan berkuasa atas Timur.” Said Membuat pandangan ini didasarkan dari Michel Foucault, yang berdebat bahwa struktur alami dan objektif dalam sebuah masyarakat, yang menghargai sebagian dan menghukum yg lain utk sebuah persesuaian, nyatanya adalah sebuah “Wacana Kekuasaan.” Dugaan “objektifitas” dari sebuah disiplin menutupi hal sebenarnya; disiplin seperti Orientalisme berpartisipasi dalam wacana-wacana demikian. Said melanjutkan, “tanpa mempelajari Orientalisme sebagai sebuah wacana, orang tidaklah mungkin mengerti besarnya disiplin sistematik yang mana budaya Eropa mampu mengatur – bahkan menghasilkan – Timur/Orient secara politis, sosiologis, militer, ideologis, sains dan imajinatif selama perioda post-Enlightenment (sebelum pencerahan, maksudnya sebelum orientalisme)”

DARI PURA-PURA KE TAK-BERARTI
Terdapat, akan saya tunjukkan, beberapa tesis kontradiksi tertanam dalam prosa-prosa Said, dengan jargon-jargon post-modern-nya yang tiada habis (“A Universe of Representative Discourse”, “Orientalist Discourse” [hal.71]) – dan editor semacam itu sungguh harus menjelaskan pada Said arti dari “literally” [pp. 19, 87, 93, 138, 179, 218, 307] dan perbedaan antara scatalogical dan eschatological [hal 68]), dan bahasa pura-pura yang sering menutupi observasi yang sebenarnya dangkal, seperti ketika Said membicarakan tentang “textual attitude/sikap tekstual” (pp. 92093), padahal yang dia maksud cuma “bookish/kebuku-bukuan” atau “bookishness”.

Pengulangan kata juga banyak ada, seperti dalam “the Freedom of licentious sex” (hal 190). Atau lihat komentar berikut ini:

Quote: Dg demikian dari ekspedisi Napoleonic diterbitkan serangkaian “textual children”, dari Itineraire-nya Chateubriand sampai Voyage en Orient-nya Lamartine ke Salammbo-nya Flaubert dan dalam tradisi yang sama, Manners and Customs of the Modern Egyptians-nya Lane dan Personal Narrative of a Pilgrimage to al-Madinah and Meccah-nya Richard Burton. Yang sama dari itu semua bukan hanya latar belakang dan pengalaman yang sama dalam legenda oriental tapi juga ketergantungan pembelajaran mereka pada Timur seakan seperti sebuah kandungan yang mereka keluarkan. Jika secara paradox karya-karya ini keluar sebagai sebuah karya yang sangat bergaya, imitasi yang dipaksa mengenai seperti apa orang Timur itu dalam pemikiran mereka, hal itu berasal dari kekuatan khayalan mereka atau dari kekuatan “Tuan Tanah” Eropa kepada orang Timur, yang mirip dengan Cagliostro, peniru Orient dari Barat dan Napoleon, penjajah modern Timur yang pertama. (pp 87-8#).

Apa yang dimaksud Said dengan “dari ekspedisi Napoleonic diterbitkan serangkaian “textual children”, kecuali bahwa lima karya tsb ditulis setelah tahun 1798? Bahasa pura-pura Said, ‘textual children’, yang katanya berasal dari ekspedisi Napoleon menutupi fakta yang jelas tentang karya ini. Mungkin ada tesis yg lebih dalam tersembunyi dalam jargon ini, bahwa karya-karya ini sedemikian terpengaruh oleh ekspedisi Napoleon, terilhami oleh ekspedisi ini dan tidak mungkin menulis tentang ekspedisi tsb? Tapi tidak ada pemikiran demikian yang dituliskan. Kelompok arbitrari ini terdiri dari tiga orang Perancis, dua Inggris – satu utk menulis fiksi roman sejarah, tiga buku perjalanan dan satu studi mendetail tentang Orang Mesir Modern. Itineraire-nya Francois-Rene de Chateaubriands (1811) menjelaskan tentang kunjungannya yang luar biasa ke Timur Jauh; Voyage en Orient-nya Alphonse de Lamartine (1835) menuliskan kesan-kesannya akan Palestina, Siria dan Yunani; Salammbo-nya Gustave Flaubert (1862) adalah sebuah novel tentang Carthage/Afrika Utara kuno; Manners and Customs of the Modern Egyptians-nya Edward William Lane (1836) adalah tulisan-tulisan ketakjuban dia akan kehidupan di Mesir, khususnya di Kairo dan Luxor, ditulis setelah bertahun-tahun tinggal disana (pertama tahun 1825-28, lalu tahun 1833-35); Tulisan-tulisan Richard Burton mengenai kunjungannya yang berani ke Mekah pertama diterbitkan dalam tiga volume antara tahun 1855 dan 1856. Lane dan Burton berbahasa Arab dengan baik, klasik maupun percakapan, sementara pengarang lainnya tidak bisa, kedua orang itu, khususnya Lane, membuat sumbangan yang jelas terhadap bidang studi islam, meski tiga orang perancis itu tidak.

Apa sih kesamaan dari mereka itu? Said bilang yang sama adalah bukan saja “Yang sama dari itu semua bukan hanya latar belakang dan pengalaman yang sama dalam legenda oriental tapi juga ketergantungan pembelajaran mereka pada Timur seakan seperti sebuah kandungan yg mereka keluarkan”. Apa sih legenda oriental yang melatar belakangi dan mengilhami Burton atau Lane? Apa khayalan hidup dari Flaubert dirangsang oleh “Legenda Oriental,” dan apakah legenda ini merupakan materi legenda yang sama yang mengilhami Burton, Lane dan Lamartine? “ketergantungan pembelajaran mereka pada Timur seakan seperti sebuah kandungan” adalah contoh lain dari cara Said yang sombong utk mengaburkan hal yang sebenarnya sudah jelas, bahwa mereka memang menuliskan tentang Timur yang telah mereka alami sendiri dan mereka punya pengetahuan intelektualnya.

Kenapa karya-karya ini disebut “jiplakan/tiruan”? Ambil contoh karya Lane dan Burton: keduanya sangat akurat tentang hal-hal pribadi, pengalaman-pengalaman langsung mereka. Itu bukan jiplakan dari manapun. James Aldridge dalam karya studinya Cairo (1969) menyebut tulisan-tulisan Lane sebagai “tulisan yang paling jujur dan mendetail dalam bahasa inggris tentang bagaimana orang Mesir hidup dan bertingkah laku.”[3]. Pengamatan Burton masih dikutip utk nilai-nilai sainsnya dalam karya-karya akademisi dari F.E. Peters “The Hajj”[4]. Said juga mengatakan sesuatu tentang Lane, “Karena warisan Lane sebagai seorang akademisi tidaklah berarti bagi Timur, tapi tentu saja berarti bagi institusi dan agen di Masyarakat Eropa” (hal. 164). Harusnya tidak ada kata “tentu saja”, karena karya Lane “Arabic Lexicon/Kamus Arab” (5 volume; 1863-1874) masih tetap menjadi satu dari kamus pertama yang dijadikan acuan oleh para akademisi muslim yang berniat menterjemahkan Quran kedalam bahasa inggris; akademisi seperti Maulana Muhammad Ali, yang memulai terjemahan inggrisnya tahun 1909 dan sering kali mengacu pada Kamus Lane dalam catatan kakinya, seperti juga yang dilakukan oleh A. Yusuf Ali dalam terjemahan Qurannya tahun 1934. Terlebih lagi, satu-satunya tempat dimana orang masih bisa beli kamus Lane itu dengan harga pantas adalah di Beirut – edisi yang diterbitkan oleh Librairie du Liban.

Misteri besar apakah yang diungkap oleh Said dalam kalimat terakhirnya itu? Count Alessandro Cagliostro adalah seorang penipu dari Sisilia yang berkelana ke Yunani, Mesir, Arab, Persia, Rhodes dan Malta. Selama perjalanannya katanya dia mendapatkan pengalaman yang banyak tentang sains esoteris, kimia khususnya. Ketika kembali ke Eropa, Cagliostro terlibat dalam banyak penipuan dan bertanggung jawab akan banyak pemalsuan satu dan lain hal, tapi dia punya waktu utk mengungkap banyak komunitas rahasia dan hal-hal Masonic. Dia mati dipenjara tahun 1795. Dia tidak menyumbang apapun dalam studi sains baik di Timur Jauh ataupun di Timur Tengah, ataupun dalam studi bahasa maupun sejarah atau budayanya. Dia tidak dikenal sebagai Orientalis terkenal seperti yang dituduhkan pada Lane. Selain dari suratnya “Letter to the French People” tahun 1786, Cagliostro tidak pernah menulis apapun yang penting yang bisa disebut sebagai studi sains, atau yang punya nilai-nilai akadmis. Menurut Said, Cagliosto adalah tipe yang sama dengan lima penulis diatas, punya “konsep khayal”. Apa dia mau bilang bahwa kelima penulis itu mengarang/merekayasa seluruh pengetahuan mereka tentang Mesir, Timur Jauh dan Arab? Jika itu maksud Said, berarti dia bohong, alasannya karena alasan-alasan yang disebutkan diatas.

Bagi Said, Napoleon adalah bentuk dasar dari “Kekuatan Tuan Tanah Eropa atas Timur”, karena dia penjajah timur yg pertama. Ini bisa disebut sebagai perumpamaan – Lane dan Burton ahli Arab seperti Napoleon ahli Mesir – tapi sayangnya, dalam seluruh bukunya Said keliatan menyarangkan sesuatu yang jauh lebih literal dan sinis dalam kekomplekan Orientalis dengan kekuasaan imperialis sini.

Orientalisme dibumbui dengan kalimat-kalimat tak berarti. Ambil contoh “Kebenaran, secara singkat, menjadi sebuah fungsi dari penilaian terpelajar, bukan berasal dari materinya sendiri, yang seiring waktu seperti berhutang keberadaannya pada Orientalis” (hal 67). Kelihatannya Said seperti mengatakan bahwa “Kebenaran” diciptakan oleh para ahli atau orientalis, dan tidak berhubungan dengan kenyataan, dengan apa yang sebenarnya ada diluar sana. Sejauh ini baik, tapi apakah “diluar sana” itu juga dibilang berhutang keberadaannya pada para orientalis. Jika itu kasusnya, maka bagian pertama dari kalimat Said tidaklah ada artinya, dan jika bagian pertamanya benar demikian maka bagian keduanya otomatis juga jadi tidak ada artinya. Apakah Said menyandar pada kalimat licik ‘kelihatannya’ utk keluar dari masalah? Penipuan ini juga tidak berhasil, karena itu berarti bahwa kenyataan luar tidak tergantung pada penilaian para orientalis yg juga kelihatan sebagai sebuah ciptaan orientalis? Ini benar-benar sebuah kontradiksi.

Ini contoh lain: “Para orientalis bisa meniru Timur tanpa pihak yang berkebalikannya benar” (hal.160). Sepanjang bukunya, Said bersusah payah menunjukkan bahwa tidak ada yang namanya “Orient” itu, yang mana baginya hanyalah sebuah abstraksi tak berarti yang diciptakan para orientalis utk melayani para imperialis dan rasis. Dalam hal ini, Apa sih artinya “Para Orientalis tidak bisa meniru Timur”? Jika kita mengganti Timur dengan negara tertentu – tentu saja tidak: “India, Mesir dan Iran tidak bisa meniru Orientalis seperti Renan, Bernard Lewis, Burton dll.” Kita tetap mendapat kebohongan, apapun cara yg dipakai utk mencoba mengerti kalimat-kalimatnya Said.



Sumber:
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=22503
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=21838
http://www.city-journal.org/2008/18_1_snd-west.html
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=608

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Islam

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: