RSS

Antara Islamism & Machiavelism

15 Aug

Hubungan

Islamisme-Machiavelli

Leslie J. Sacks

**Raymond Ibrahim, seorang spesialis dalam bidang teologi,

praktika dan politik Islam, telah menulis sebuah respon yang menarikmengenai Nidal Hasan dan Fort Hood. Ia memperlihatkan bahwa banyakorang-orang Barat yang mengalami kesulitan besar untuk memahamibahwa keyakinan Islam radikal (Islamisme) adalah pusat dari kebanyakanpraktek Islamik kontemporer, bukannya bahwa itu hanya terbatas padakelompok-kelompok pinggiran yang terisolasi, dan tak ada kaitan atauefeknya terhadap terorisme. Keengganan ini muncul kendati padakenyataannya banyak dari keyakinan-keyakinan ini, misalnya jihad, sudahdiketahui secara luas – namun masih banyak yang tetap berpandanganbahwa semua hal mengenai radikalisme Islam yang lebih “tertutup”adalah soal lain.

Islamisme adalah Machiavelisme dalam bentuknya yang palingmurni. Tujuannya adalah untuk memperkuat Umat (orang-orang Muslim)dan memperluas Dar al-Islam (dunia Islam) di atas semua yang lain. Iaharus memeluk semua Muslim “yang benar”, bahkan jika harusmenggunakan cara-cara opresif atau kekerasan, dan harus mengabaikansemua kafir (orang-orang tidak beriman), dengan tidak menghormatipersahabatan dan keramahan mereka.

Doktrin tagiyyah (atau “penipuan”) adalah inti dari pandangan duniaMachiavellian ini. Dusta dan kepura-puraan, tampaknya merupakan halyang paling tepat untuk dilakukan ketika mereka hidup di tengah-tengahorang kafir,dimana seseorang dinasehatkan untuk melakukan sopansantunyang dibuat-buat dan berkompromi, kendati harus mengejarsemangat tersembunyi dari goal-goal seseorang yang tidak bisadikompromikan.

Hamas, melihat gencatan senjata jangka panjang dengan Israel tidakdengan perdamaian di dalam pikiran mereka, tetapi agar bisa,(sebagaimana yang telah mereka jelaskan secara fasih kepada merekayang benar-benar mau mendengar) menarik nafas (jeda), yaitu untukmembangun kembali kapasitas ofensif mereka dan menunggukesempatan yang baik hingga mereka pada akhirnya cukup kuat untukmelenyapkan Israel ke laut.

Hal yang menarik adalah bahwa kebanyakanmedia Barat dan para politisi memilih untuk mengabaikan deklarasi yangjujur (Piagam Hamas), yang dibuat Hamas untuk orang-orang Gaza, danmalahan percaya pada Tagiyyah Hamas yang sebenarnya hanyamerupakan propaganda yang coba menipu pemikiran Barat. PerspektifBarat, didasarkan pada apa yang ideal dari dialog yang terbuka dan jujur,

berdasarkan kehendak baik dan toleransi.

Hal ini kelihatannya hampirsecara genetik diprogramkan supaya gagal melihat Islamismesebagaimana adanya, meskipun ada begitu banyak bukti, danmeskipunada pengumuman yang jelas dan fatwa-fatwa yangdisampaikan setiaphari oleh para ahli hukum islam, para imam dan pemimpin yang dihormati didunia Islam radikal.

Akhirnya, apa yang lebih bersifat Machiavelli –membenarkan caraapa pun untuk mencapai tujuan– bahwa menjadi martir (syahid) adalah hal utama yang dikejar melalui jihad. “Karena itu hendaklahorang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhiratberperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalugugur, atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikankepadanya pahala yang besar” (Qs. 4:74).

Tidak ada cara yang terlalu kejam, tak ada proses yang dianggapterlalu bersifat menipu daya, tak ada kekerasan yang terlalumengguncangkan, tak ada kepolosan yang terlalu murni, ketikamempersembahkan hidup ini untuk membunuh orang-orang kafir, danuntuk memperoleh hadiah ke-72 bidadari perawan di surga yang sedang menantikan paramartir (syuhada). Bahkan wajah Machiavelli sendiri pun akan memerah karena malu.

Sebuah ekspresi doktrinal yang tegas dari Islam melarang Muslimuntuk tinggal di tengah-tengah orang-orang kafir di Amerika, Eropa, dantempat-tempat lainnya, kecuali ada pembenaran yang memadaiberdasarkan Tagiyyah, jihad dan pertobatan yang pasti dari orang-orangkafir kepada Islam. Esensi dari Islamisme, filsafat “tujuan menghalalkancara” karena itu penting untuk didasarkan tidak hanya pada apa yangpara pengikut dan promotor mereka katakan kepada kita, tetapi dengancara menyimak secara seksama apa yang mereka lakukan, apa yangmereka yakini, dan apa yang mereka katakan di antara mereka sendiri, dimesjid-mesjid, di media dan di sekolah-sekolah mereka. Ini seperti tesuntuk menguji keasaman (acid test), bahwa yang sangat ingin kita dengarbukanlah kata-kata bermakna ganda yang hangat dan samar-samar.

Masa depan sedang memberi isyarat dan hal ini ditetapkan olehmereka yang memproyeksikan pandangan dunia non-Muslim mereka,keinginan mereka, kebutuhan-kebutuhan dan keyakinan-keyakinanterhadap dunia Islam, dan juga oleh mereka yang mendengar denganseksama petunjuk-petunjuk kebenaran dan realitas yang secara terbukakeluar dari kelahiran Kalifah Islamik. Yang mana dari hal-hal ini yang akanterjadi kelak?

**Raymond Ibrahim adalah direktur paruh waktu Forum Timur Tengahdan penulis dari AlQaeda Reader, kumpulan terjemahan dari teks-teksdan propaganda religius.

Leslie J. Sacks

Los Angeles, CA

Sumber:

http://www.buktisaksi.com/files/Resources/articles/Hubungan%20Islam-Machiavelli.pdf

 
Leave a comment

Posted by on August 15, 2008 in Teror Islam

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: